BACAMALANG.COM –Perayaan Imlek dengan Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, memiliki keeratan makna secara historis. Gus Dur menjadi tokoh kunci dalam membuka kembali ruang ekspresi budaya Tionghoa di Indonesia, sehingga Imlek dapat dirayakan secara sah dan terbuka. Namun, Imlek bukan sekadar perayaan dengan barongsai atau leang-leong, melainkan cermin peran sosial, budaya, dan sejarah masyarakat Tionghoa di Indonesia.
Di Kota Malang, komunitas Tionghoa telah hadir sejak era kolonial Belanda. Mereka umumnya menetap di kawasan pusat kota dan jalur perdagangan, serta terlibat aktif dalam sektor niaga, distribusi hasil bumi, jasa, hingga pendidikan. Peran tersebut turut membentuk wajah Malang sebagai kota perdagangan sekaligus kota pendidikan.
Semnetara dalam konteks pendidikan, Universitas Ma Chung, yang berawal dari sekolah Ma Chung, menjadi salah satu leading sector bagi masyarakat Tionghoa dan masyarakat umum sejak 1946. Peran ini kemudian disusul oleh pendirian sekolah-sekolah lain, termasuk sekolah misi Katolik pada era 1950-an. Pada Dies Natalis ke-18, Universitas Ma Chung menggelar sejumlah kegiatan, salah satunya Chinese Festival (ChiFest), dengan agenda utama Tiong Hoa Art & Culture Exhibition di Gedung Rektorat kampus, di Villa Puncak Tidar, Karangwidoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.
Pameran ini menampilkan dokumentasi kiprah masyarakat Tionghoa dalam perkembangan seni dan budaya di Malang. Kurator pameran, Syarifuddin, menyebutkan sejumlah tokoh dan institusi yang memiliki kontribusi besar pada berbagai periode sejarah, di antaranya Lim Kwi Bing (1904–1965), Ong Kian Bie (1907–1998), Njoo Cheong Zeng atau Yang Zhongsheng (1902–1962), Malang Photo Club (1955), Ang Hien Hoo (sejak 1903), serta Tjeng Tjiam Hwie (1921–2011).
“Lim Kwi Bing merupakan perupa asal Malang sekaligus pendiri organisasi seniman keturunan yang aktif menggelar pameran di Malang dan Surabaya,” ujar Syarifuddin. Ia menambahkan, Lim Kwi Bing juga tergabung dalam kelompok seniman di Jakarta yang pamerannya pada 1956 dibuka langsung oleh Presiden Soekarno dan Duta Besar Republik Rakyat China.
Sementara itu, Ong Kian Bie dikenal sebagai pemilik Studio Malang, dengan karya fotografi yang dimuat di berbagai media seperti Sin Po, Wereld Nieuws, d’Orient, dan Pantjawarna. “Berkat Ong Kian Bie, hampir seluruh sudut Kota Malang pada masa awal pembangunan terekam dengan baik, mulai arsitektur, lanskap, hingga potret kehidupan masyarakat,” jelas Syarifuddin. Ong Kian Bie juga menjadi pendiri Malang Photo Club (MPC), berawal dari Art Camera Club (ACC) pada 1955.
Ang Hien Hoo, yang awalnya bernama Tian Tee Hwee pada 1903 dan berganti nama pada 1910, merupakan komunitas sosial-budaya Tionghoa yang pernah berjaya dengan sekitar 90 anggota. Kelompok ini bahkan pernah diundang Presiden Soekarno untuk pentas wayang orang di Istana Merdeka dan Istana Bogor pada 1958 dan 1961. Kini, Ang Hien Hoo dikenal sebagai Panca Budhi dan fokus pada kegiatan sosial. “Keberadaannya menjadi simbol integrasi dan kontribusi budaya Tionghoa terhadap kesenian Jawa,” terangnya.

Pameran Tiong Hoa Art & Culture Exhibiton ini juga menyajikan sejumlah foto dari anggota Malang Photo Club, dimana klub embrionya adalah ACC atau Art Camera Club yang lahir tahun 1955. (Nedi Putra AW)
Staf Museum Panji ini juga mengulas sosok Tjeng Tjiam Hwie, seniman lukis asal Fujian yang hijrah ke Indonesia dan dikenal dengan nama Indonesia Winoto Chandra. Ia merupakan tokoh penting dalam seni lukis cat air dan tergabung dalam Water Colorist Artist Group.
“Meski pameran ini tidak besar dan belum sepenuhnya komprehensif, kami berharap dapat menjadi catatan sejarah dan pengingat atas peran masyarakat Tionghoa, khususnya dalam perkembangan seni dan sastra Tionghoa-Melayu yang turut berkontribusi pada tumbuhnya bahasa Indonesia dan bahasa Jawa,” tandasnya.
Salah satu pengunjung, Budiwiyanto, mengaku memiliki ikatan emosional dengan pameran ini. Alumni Seni Rupa Universitas Negeri Malang tersebut memiliki hubungan kekerabatan dengan Lim Kwi Bing, sementara mertuanya pernah tergabung dalam Art Camera Club. “Bahkan Ong Kian Bie pernah memotret istri saya sekitar tahun 1957–1958,” ungkap pria kelahiran 1947 itu. Ia mengapresiasi pameran tersebut dan berharap dapat dikembangkan ke cabang seni lainnya.
Co-Kurator Didit Prasetyo Nugroho menambahkan, proses kuratorial bersama Syarifuddin tersebut berlangsung sekitar empat bulan, meliputi perubahan venue, komunikasi dengan berbagai pihak, hingga penyesuaian jumlah koleksi. “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung pameran ini, termasuk ibu Jim Sugita, Dwi Cahyono dari Yayasan Inggil, Museum Musik Indonesia, Bambang AW, Malang Photo Club, serta para pegiat budaya lainnya,” pungkas dosen DKV Universitas Ma Chung tersebut.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































