Tiong Hoa Art & Culture Exhibition Ma Chung, Melihat dan Mengingat Kembali Peran Masyarakat Tionghoa dalam Perkembangan Seni Budaya Malang - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

RAGAM · 15 Feb 2026 08:16 WIB ·

Tiong Hoa Art & Culture Exhibition Ma Chung, Melihat dan Mengingat Kembali Peran Masyarakat Tionghoa dalam Perkembangan Seni Budaya Malang


 Budiwiyanto, saat menyimak koleksi Tiong Hoa Art & Culture Exhibiton di gedung rektorat Universitas Ma Chung beberapa waktu lalu. (Nedi Putra AW) Perbesar

Budiwiyanto, saat menyimak koleksi Tiong Hoa Art & Culture Exhibiton di gedung rektorat Universitas Ma Chung beberapa waktu lalu. (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM –Perayaan Imlek dengan Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, memiliki keeratan makna secara historis. Gus Dur menjadi tokoh kunci dalam membuka kembali ruang ekspresi budaya Tionghoa di Indonesia, sehingga Imlek dapat dirayakan secara sah dan terbuka. Namun, Imlek bukan sekadar perayaan dengan barongsai atau leang-leong, melainkan cermin peran sosial, budaya, dan sejarah masyarakat Tionghoa di Indonesia.

Di Kota Malang, komunitas Tionghoa telah hadir sejak era kolonial Belanda. Mereka umumnya menetap di kawasan pusat kota dan jalur perdagangan, serta terlibat aktif dalam sektor niaga, distribusi hasil bumi, jasa, hingga pendidikan. Peran tersebut turut membentuk wajah Malang sebagai kota perdagangan sekaligus kota pendidikan.

Semnetara dalam konteks pendidikan, Universitas Ma Chung, yang berawal dari sekolah Ma Chung, menjadi salah satu leading sector bagi masyarakat Tionghoa dan masyarakat umum sejak 1946. Peran ini kemudian disusul oleh pendirian sekolah-sekolah lain, termasuk sekolah misi Katolik pada era 1950-an. Pada Dies Natalis ke-18, Universitas Ma Chung menggelar sejumlah kegiatan, salah satunya Chinese Festival (ChiFest), dengan agenda utama Tiong Hoa Art & Culture Exhibition di Gedung Rektorat kampus, di Villa Puncak Tidar, Karangwidoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang.

Pameran ini menampilkan dokumentasi kiprah masyarakat Tionghoa dalam perkembangan seni dan budaya di Malang. Kurator pameran, Syarifuddin, menyebutkan sejumlah tokoh dan institusi yang memiliki kontribusi besar pada berbagai periode sejarah, di antaranya Lim Kwi Bing (1904–1965), Ong Kian Bie (1907–1998), Njoo Cheong Zeng atau Yang Zhongsheng (1902–1962), Malang Photo Club (1955), Ang Hien Hoo (sejak 1903), serta Tjeng Tjiam Hwie (1921–2011).

“Lim Kwi Bing merupakan perupa asal Malang sekaligus pendiri organisasi seniman keturunan yang aktif menggelar pameran di Malang dan Surabaya,” ujar Syarifuddin. Ia menambahkan, Lim Kwi Bing juga tergabung dalam kelompok seniman di Jakarta yang pamerannya pada 1956 dibuka langsung oleh Presiden Soekarno dan Duta Besar Republik Rakyat China.

Sementara itu, Ong Kian Bie dikenal sebagai pemilik Studio Malang, dengan karya fotografi yang dimuat di berbagai media seperti Sin Po, Wereld Nieuws, d’Orient, dan Pantjawarna. “Berkat Ong Kian Bie, hampir seluruh sudut Kota Malang pada masa awal pembangunan terekam dengan baik, mulai arsitektur, lanskap, hingga potret kehidupan masyarakat,” jelas Syarifuddin. Ong Kian Bie juga menjadi pendiri Malang Photo Club (MPC), berawal dari Art Camera Club (ACC) pada 1955.

Ang Hien Hoo, yang awalnya bernama Tian Tee Hwee pada 1903 dan berganti nama pada 1910, merupakan komunitas sosial-budaya Tionghoa yang pernah berjaya dengan sekitar 90 anggota. Kelompok ini bahkan pernah diundang Presiden Soekarno untuk pentas wayang orang di Istana Merdeka dan Istana Bogor pada 1958 dan 1961. Kini, Ang Hien Hoo dikenal sebagai Panca Budhi dan fokus pada kegiatan sosial. “Keberadaannya menjadi simbol integrasi dan kontribusi budaya Tionghoa terhadap kesenian Jawa,” terangnya.

Pameran Tiong Hoa Art & Culture Exhibiton ini juga menyajikan sejumlah foto dari anggota Malang Photo Club, dimana klub embrionya adalah ACC atau Art Camera Club yang lahir tahun 1955. (Nedi Putra AW)

Staf Museum Panji ini juga mengulas sosok Tjeng Tjiam Hwie, seniman lukis asal Fujian yang hijrah ke Indonesia dan dikenal dengan nama Indonesia Winoto Chandra. Ia merupakan tokoh penting dalam seni lukis cat air dan tergabung dalam Water Colorist Artist Group.

“Meski pameran ini tidak besar dan belum sepenuhnya komprehensif, kami berharap dapat menjadi catatan sejarah dan pengingat atas peran masyarakat Tionghoa, khususnya dalam perkembangan seni dan sastra Tionghoa-Melayu yang turut berkontribusi pada tumbuhnya bahasa Indonesia dan bahasa Jawa,” tandasnya.

Salah satu pengunjung, Budiwiyanto, mengaku memiliki ikatan emosional dengan pameran ini. Alumni Seni Rupa Universitas Negeri Malang tersebut memiliki hubungan kekerabatan dengan Lim Kwi Bing, sementara mertuanya pernah tergabung dalam Art Camera Club. “Bahkan Ong Kian Bie pernah memotret istri saya sekitar tahun 1957–1958,” ungkap pria kelahiran 1947 itu. Ia mengapresiasi pameran tersebut dan berharap dapat dikembangkan ke cabang seni lainnya.

Co-Kurator Didit Prasetyo Nugroho menambahkan, proses kuratorial bersama Syarifuddin tersebut berlangsung sekitar empat bulan, meliputi perubahan venue, komunikasi dengan berbagai pihak, hingga penyesuaian jumlah koleksi. “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang mendukung pameran ini, termasuk ibu Jim Sugita, Dwi Cahyono dari Yayasan Inggil, Museum Musik Indonesia, Bambang AW, Malang Photo Club, serta para pegiat budaya lainnya,” pungkas dosen DKV Universitas Ma Chung tersebut.

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 25 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Matos Gelar Perayaan Imlek Bertema “The Great Lunar Harmony”, Hadirkan Barongsai Show dan Kampung Pecinan

17 Februari 2026 - 21:38 WIB

Hero Asia! Mahasiswa UIBU Antar Indonesia Juara Balap Sepeda di Tanah Arab

17 Februari 2026 - 11:21 WIB

Kejurprov MPI Ponorogo 2026: Kontingen Kota Malang Borong Medali, Siap Bidik Porprov 2027

16 Februari 2026 - 15:28 WIB

Ribuan Karateka Ramaikan Kejuaraan Jatim Open Piala Kemenpora 2026 di Kota Malang

15 Februari 2026 - 17:06 WIB

Bangkitkan Semangat, PFI Malang Salurkan Bantuan Gizi untuk Siswa Terdampak Erupsi Semeru di Supiturang Lumajang

12 Februari 2026 - 21:17 WIB

Empati Tanpa Batas, Band Punk Rock BRAIN WASH Salurkan Hasil Penjualan Merchandise untuk Penyandang Disabilitas

8 Februari 2026 - 10:02 WIB

Trending di RAGAM

©Hak Cipta Dilindungi !