BACAMALANG.COM – Charity Game Sepak Bola para Legenda II digelar di Stadion Gajayana Malang, yang bertajuk Indonesia Damai dan Kemanusiaan. Sepak bola para legenda ini digelar, selain untuk memperingati satu abad berdirinya salah satu stadion tertua di Indonesia yang masih aktif di Indonesia ini, sekaligus untuk memantik kemajuan sepak bola di Indonesia.
Laga persahabatan dengan menghadirkan pemain-pemain sepak bola legendaris Malang dan Surabaya berlangsung di Stadion Gajayana Kota Malang, Minggu (19/5/2024) lalu, itu bukan tidak memiliki tujuan. Penyelenggara mengadakan laga tersebut untuk memberikan motivasi bagi bibit pesepakbola di tanah air, khususnya sekolah sepak bola.
Ide awal digelar sepak bola legenda ini dari keberadaan Koperasi Bola Gajayana yang dimotori Prof Bisri yang juga mantan Rektor UB, Asep Isnandar Ketua Bakorwil Malang, dibantu Pj Wali Kota Malang dan Bupati Malang serta Wali Kota Surabaya dan Gubernur Jatim, Kapolda Jatim dan Pangdam V / Brawijaya, dan beberapa sponsor.
Menurut Abi Manyu, Manajer SSB Arunda Turen menjelaskan, sepak bola legenda ini untuk mempertemukan legenda Malang dan Surabaya.
“Tujuannya hanya satu untuk mempertemukan pemain legend Malang dan Surabaya, yang dulu menjadi rival di lapangan, tanpa membawa nama club masing-masing. Justru sepak bola legend ini, sebagai tempat reunian para legend,” ujar Abi, Kamis (23/5/2024).
Yang kedua untuk mengingatkan kembali kepada pemerintah daerah, untuk memperhatikan kehidupan mantan-mantan atlet.
“Mereka ini, mantan pemain sepak bola yang usianya tidak muda lagi dan pernah mengharumkan persepakbolaan Indonesia, baik di kancah nasional dan internasional. Hendaknya diperhatikan, kehidupannya yang memprihatikan, dari kesehatannya juga tidak diperhatikan, hal inilah yang membuat kami untuk memberikan semangat kepada para legend,” jelas Abi.
Mantan para pemain legenda yang ikut meramaikan laga legend ini, diantaranya
Hendro Kartiko, Bejo Sugiantoro, Yusuf Ekodono Kunsnadi, Sulis Andri, Siswantoro, Dwi Kirun Aji Santoso, Kuncoro, Joko Susilo, Nurkiman, dan masih banyak lagi.
Nurkiman mengalami cacat salah satu matanya akibat terkena ketepil saat laga Arema lawan Persebaya. Peristiwa itu sudah dilupakan dan dimaafkan oleh Nurkiman.
“Ketiga, sepak bola legend ini digelar dalam rangka HUT satu abad Stadion Gajayana, pembukaan Museum Bola Gayajana, dan launching Koperasi Bola Gajayana, serta HUT Pemprov Jatim dan HUT Kota Malang,” terang Abie.
Laga legend ini direspon postifif oleh para legenda. Mereka bangga dan senang serta berterimaksih kepada panitia, oleh sebab itu pemerintah bisa merespon jika masyarakat yang melaporkan, jika ada mantan atlet yang kurang diperhatikan dari sepak bola dan cabang olahraga lainnya.
“Kegiatan ini juga disaksikan 500 anak-anak SSB se-Malang Raya termasuk SSB dari Surabaya, tujuannya mengajak SSB untuk mengedukasi pada anak-anak untuk menjaga sportifitas dalam setiap laga, seperti sportivitas para legend,” tandas Manajer SSB Arunda.
Usai berlaga, para legenda diberikan
santunan dalam bentuk charity berupa uang tunai, piagam penghargaan dari Gubernur Jatim yang dibackup dari Bakorwil, sponsor, dan donatur.
Rencananya kegiatan semacam ini akan dilanjutkan dengan mendatangkan pertemuan para legenda dari Malang, Surabaya, Jakarta, dan Bandung. Mereka berlaga tanpa membawa nama kota, atribut maupun nama klub.
Pewarta : Rohim Alfarizi
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki




















































