Bahasa Tujuan Hidup: Antara Duniawi dan Spiritual - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

OPINI · 18 Nov 2025 15:23 WIB ·

Bahasa Tujuan Hidup: Antara Duniawi dan Spiritual


 Imam Sodikin, Warga Kabupaten Malang, Pemilik Warung Grajen Kepanjen.(Imam for Baca Malang) Perbesar

Imam Sodikin, Warga Kabupaten Malang, Pemilik Warung Grajen Kepanjen.(Imam for Baca Malang)

Oleh: Imam Sodikin*

Dalam percakapan sehari-hari, kita kerap mendengar beragam ungkapan tentang tujuan hidup. Bahasa yang digunakan pun mencerminkan cara pandang seseorang terhadap makna hidup itu sendiri. Bahasa yang tidak berlandaskan agama sering kali menyebut tujuan hidup sebagai pencapaian kebahagiaan dan kenyamanan: urip adem ayem, bahagia sejahtera, urip penak, bungah atine, dan lain sebagainya. Ungkapan-ungkapan ini menekankan rasa tenteram dan nikmat yang bersifat duniawi.

Sebaliknya, bahasa yang berakar pada nilai-nilai religius cenderung mengarah pada pencapaian spiritual: selamat dunia akhirat, masuk surga abadi, fiddunya hasanah, makrifat billah, khusnul khotimah. Di sini, tujuan hidup bukan sekadar kenyamanan, melainkan kesadaran akan Tuhan dan keselamatan abadi.

Pertanyaannya: bahasa mana yang Anda pilih? Lebih penting lagi, apakah Anda benar-benar pernah merasakan makna dari ungkapan-ungkapan tersebut? Sudahkah Anda sampai pada titik pencapaian itu, atau masih terjebak dalam struktur rumusan yang kabur dan membingungkan?

Jika belum, barangkali Anda hanya terombang-ambing oleh kata-kata yang indah namun kosong makna. Maka, jangan hanya terpukau oleh bahasa. Refleksikan, rasakan, dan hayati. Sebab tujuan hidup bukan sekadar wacana, melainkan pengalaman yang nyata dan mendalam.

*) Penulis: Imam Sodikin, Warga Kabupaten Malang, Pemilik Warung Grajen Kepanjen
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

Artikel ini telah dibaca 73 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Metri Topeng dari Sailendra

18 Juni 2026 - 14:10 WIB

Tahun Baru Hijriah: Saatnya Berhenti Mengeluh dan Mulai Berbenah

18 Juni 2026 - 05:48 WIB

Hari Lahir Pancasila: Merawat Gagasan Besar di Tengah Bangsa yang Terus Berubah

1 Juni 2026 - 20:09 WIB

1 Juni: Pancasila dan Tugas Sejarah Kaum Muda Mengawal Republik

1 Juni 2026 - 17:39 WIB

Dua Puluh Satu Mei Reformasi: Ketika Semangat Pemuda Kabupaten Malang Diuji oleh Zaman

22 Mei 2026 - 11:19 WIB

Membaca Dengan Kritis Hibah Aset Daerah Oleh Pemkab Malang ke UNIBRAW

18 Mei 2026 - 20:43 WIB

Trending di OPINI

©Hak Cipta Dilindungi !