Oleh: Imam Sodikin*
Dalam percakapan sehari-hari, kita kerap mendengar beragam ungkapan tentang tujuan hidup. Bahasa yang digunakan pun mencerminkan cara pandang seseorang terhadap makna hidup itu sendiri. Bahasa yang tidak berlandaskan agama sering kali menyebut tujuan hidup sebagai pencapaian kebahagiaan dan kenyamanan: urip adem ayem, bahagia sejahtera, urip penak, bungah atine, dan lain sebagainya. Ungkapan-ungkapan ini menekankan rasa tenteram dan nikmat yang bersifat duniawi.
Sebaliknya, bahasa yang berakar pada nilai-nilai religius cenderung mengarah pada pencapaian spiritual: selamat dunia akhirat, masuk surga abadi, fiddunya hasanah, makrifat billah, khusnul khotimah. Di sini, tujuan hidup bukan sekadar kenyamanan, melainkan kesadaran akan Tuhan dan keselamatan abadi.
Pertanyaannya: bahasa mana yang Anda pilih? Lebih penting lagi, apakah Anda benar-benar pernah merasakan makna dari ungkapan-ungkapan tersebut? Sudahkah Anda sampai pada titik pencapaian itu, atau masih terjebak dalam struktur rumusan yang kabur dan membingungkan?
Jika belum, barangkali Anda hanya terombang-ambing oleh kata-kata yang indah namun kosong makna. Maka, jangan hanya terpukau oleh bahasa. Refleksikan, rasakan, dan hayati. Sebab tujuan hidup bukan sekadar wacana, melainkan pengalaman yang nyata dan mendalam.
*) Penulis: Imam Sodikin, Warga Kabupaten Malang, Pemilik Warung Grajen Kepanjen
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis





















































