BACAMALANG.COM – Tak seperti biasanya, aroma dupa yang dibakar memenuhi salah satu ruangan di Rumah Baca Ratna (RBR), Sabtu (21/9/2024). Malam itu, ruangan yang digunakan sebagai kafe tersebut tengah digelar praktik dari Kelas Ide Workshop Tarot dengan narasumber Syamsul Subakri, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Mbah Jo. Mengenakan ‘udeng’ batik dan busana serba hitam, Mbah Jo berdialog dengan beberapa pengunjung yang hadir. Mereka secara bergantian terlibat dalam perbincangan mendalam ketika pria yang aktif dalam pengembangan seni di Malang ini mulai membagi kartu tarotnya.
Uniknya, kartu yang dibawa Mbah Jo ini bergambar karakter wayang, yang tentunya berbeda dengan kartu tarot pada umumnya. Pegiat seni tutur dan pertunjukan wayang limbah plastik, boneka kain perca serta sabut kelapa ini menjelaskan, bahwa ‘fortune telling’ dengan tarot ini pada dasarnya adalah sebuah tradisi atau kebiasaan di banyak suku bangsa, termasuk di Indonesia.
“Materi dan pembekalan sengaja saya berikan agar kegiatan seperti ini masih dapat dilakukan dengan tujuan lebih kepada menjalin keakraban dan melepaskan diri dari kebodohan, yang diakibatkan pembohongan oleh orang-orang yang mengaku sebagai praktisi,” ujar pria kelahiran tahun 1967 ini.
Dikatakan mbah Jo, teknik dan sharing lewat pendekatan dengan karakter wayang yang ia berikan ini pada prinsipnya adalah bagaimana memanfaatkan kemampuan berpikir dengan menggunakan media, salah satunya adalah kartu.
“Kartu memang bukan produk asli nusantara, namun masih dapat diterima sebagai media komunikasi, belajar dan mind mapping atau pemetaan pola pikir agar orang dapat berpikir dengan baik dan benar, serta membuat keputusan dan tindakan yang tepat,” papar pria berkacamata ini.
Menurut dia, karakter wayang ia gunakan karena kisah pewayangan tidak asing bagi orang-orang Jawa. Ada karakter dewa maupun manusia yang menginsipirasi lewat cerita-cerita di dalamnya. “Dalam kisah pewayangan, sebagus-bagusnya tokoh masih punya kelemahan, tapi selemah-lemahnya tokoh ternyata masih punya keistimewaan,” tukasnya.
Bahkan, imbuhnya, karakter dewa ada juga masih kalah dengan manusia, demikian pula manusia saat buntu akan minta pertolongan kepada para dewa. Pria yang belajar wayang sejak tahun 1990-an ini berpedoman kepada angka 1 sampai dengan 9 untuk menggambarkan kejadian, baik dalam bentuk fisik maupun non fisik, sehingga akan menimbulkan konsekuensi atau akibat dari perbuatan yang dilakukan tersebut.
“Namun bagi saya, tarot ini menjadi sarana yang baik untuk ‘sambung roso’, sehingga saya tak mematok tarif khusus seperti pembaca tarot pada umumnya,” tandas dia.
Saat ini, menelusuri nasib melalui tarot itu telah menjadi daya tarik sendiri, khususnya di tengah hiruk-pikuk kota, meskipun kontroversi tentang keakuratannya masih menjadi perbincangan. Gambar dalam setiap deret kartu tarot memiliki makna tertentu bagi sebagian orang, baik itu orang tua maupun anak muda kalangan milenial, sehingga penyedia jasa ini seakan tak pernah sepi dari orang-orang yang meminta saran atau hanya penasaran saja.
Workshop Tarot yang pertamakali digelar di RBR ini ternyata juga menarik perhatian Alia, seorang pembaca kartu yang hadir selain mbah Jo. Mengenakan busana santai dengan jaket jeans, Alia yang membawa kartu bergambar seperti kartu tarot pada umumnya ini sontak didatangi beberapa pengunjung untuk pembacaan kartunya, baik itu mereka yang sudah maupun belum melakukan pembacaan dengan mbah Jo. Pembacaan kartu tarot oleh keduanya ini pun akhirnya berjalan paralel.
Meski masih belia, Alia mengaku sudah tumbuh dengan astrologi dari kecil dan tertarik dunia ‘seni peramalan’ ini.
“Saya suka karena tarot ini mengulik sisi psikologis. Tarot dan astrologi ada aspek-aspek dan simbol pada kartu yang mencerminkan alam bawah sadar dan kepribadian manusia,” ungkap pembaca tarot di bawah nama Pandorarasa ini.
Senada dengan Mbah Jo, menurut Alia, tarot adalah kegiatan ‘fortune telling’ yang sebenarnya kembali kepada manusia itu sendiri, dimana kartu-kartu yang ada hanya akan mengarahkan agar orang lebih bijak dalam mengartikan dan mengambil keputusan.
“Saya melihatnya tarot itu media untuk ‘curhat’, bagi yang mereka yang akan merasa lebih lega setelah mengeluarkan ‘uneg-uneg-nya kepada saya,” ujar mahasiswi Sastra Inggris Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya ini.

Alia (kiri), generasi milenial yang juga pembaca kartu tarot di bawah bendera Pandorarasa ikut menghidupkan Kelas Ide Workshop Tarot di Rumah Baca Ratna (RBR), Sabtu (21/9/2024). (Nedi Putra AW)
Bagi Alia, kartu sebagai seni ramalan yang akan kembali membawa ke alam bawah sadar manusia. Ia menyebutnya sedikit berbeda dengan sugesti meski sebenarnya masih berkaitan. “Bagaimanapun juga yang kita percayai dapat menjadi kenyataan,” tukas perempuan yang selalu mempublikasikan kegiatan tarotnya lewat media sosial ini.
Pada kenyataannya, tambah dia, gambar di kartu tarot dapat membacakan hal-hal yang ‘relate’ dengan kenyataan. Alia menjelaskan bahwa hal ini dapat terjadi lebih kepada ‘energi’ yang ditangkap oleh tubuh orang itu maupun pembaca tarotnya, meski selama berkiprah, ia mengaku memang ada yang cocok dan tidak cocok.
“Metode yang digunakan di Pandorarasa lebih menekankan kepada ‘curhat’nya, sehingga kartu yang muncul akan menggambarkan situasi, emosional seseorang dan apa keputusan yang sebaiknya diambil,” terangnya.
Oleh karena itu Alia yakin kartu tarot bukan menentukan takdir seseorang tapi untuk membacakan apa yang menjadi masalah dan mencari jawaban yang relate dengan apa yang ditanyakan.
“Bisa juga sebagai problem solving, tapi hanya sebagai pengantar bagi orang itu untuk lebih terbuka. Tapi untuk ke arah ‘mental health’ atau kesehatan mental, penyelesaian permasalahan yang ada selanjutnya saya sarankan langsung kepada psikolog profesional,” pungkas perempuan asal pulau Batam ini.
Pewarta: Nedi Putra AW
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































