BACAMALANG.COM – Munculnya dua kasus Polio di Jawa Timur membuat masyarakat harus waspada, dan karenanya butuh untuk mengenali dan mengetahui cara penanggulangannya.
Hal ini dikatakan Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Malang dr Umar Usman MM kepada BacaMalang.com, Selasa (9/1/2024).
“Atas munculnya kasus Polio maka perlu kiranya waspada namun tetap tenang. Karenanya kita butuh memahami gejala dan penanggulangannya,” tegas dr Umar Usman MM.
Untuk diketahui, muncul tiga kasus lumpuh layu akut (Acute flaccid paralysis/AFP) disebabkan oleh Virus Polio Tipe Dua di Jateng dan Jatim.
Dua kasus ditemukan di Jateng dan Jatim Desember 2023 lalu, sedangkan satu kasus lainnya ditemukan di Jatim 4 Januari 2024.
Pasien akut di Jatim yakni MAF (2),
mengalami lumpuh (22/11/2023) dengan riwayat imunisasi lengkap tapi hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa ia mengalami malnutrisi.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Malang, dr Umar Usman MM. (ist)
Kasus kedua di Jatim dialami MAM (3), mengalami lumpuh pada (6/12/2023) dengan riwayat imunisasi polio tetes 4 kali dan polio suntik (IPV) 1 kali berdasarkan pengakuan orang tua.
Di Jawa Timur, Kabupaten Pamekasan dan Sumenep, ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) serta virus Polio juga ditemukan pada sampel lingkungan di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur.
Poliomyelitis (polio) adalah penyakit virus yang sangat menular yang sebagian besar menyerang anak-anak di bawah usia 5 tahun.
Virus memasuki tubuh melalui mulut, dalam air atau makanan yang telah terkontaminasi dengan bahan feses dari orang yang terinfeksi.
Virus berkembang biak di usus dan diekskresikan oleh orang yang terinfeksi di feses, yang dapat menularkan virus ke yang lain, di mana ia dapat menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan.
Poliovirus sangat menular, masa inkubasi biasanya 7-10 hari tetapi dapat berkisar antara 4-35 hari.
Virus masuk ke tubuh melalui mulut dan berkembang biak di usus, kemudian menyerang sistem saraf. Hingga 90% dari mereka yang terinfeksi tidak mengalami atau mengalami gejala ringan, sehingga penyakit ini biasanya tidak diketahui.
Pada kasus lain, gejala awal dari polio termasuk demam, kelelahan, sakit kepala, muntah, kaku pada leher, dan nyeri pada tungkai, berlangsung 2-10 hari dan sebagian pemulihan selesai di hampir semua kasus.
Namun, dalam proporsi kasus yang tersisa, virus menyebabkan kelumpuhan, biasanya pada kaki, yang paling sering bersifat permanen.
Kelumpuhan dapat terjadi dalam beberapa jam setelah infeksi. Dari mereka yang lumpuh, 5-10% meninggal saat otot pernapasannya tidak bisa bergerak.
Virus ini disebarkan oleh orang yang terinfeksi (biasanya anak-anak) melalui feses, yang dapat menyebar dengan cepat, terutama di daerah dengan sistem kebersihan dan sanitasi yang buruk.
Untuk menanggulangi dan memutus transmisi penularan virus polio, diharapkan masyarakat berperan aktif.
Polio merupakan salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi.
Beberapa faktor risiko terjadinya penularan Virus Polio adalah rendahnya cakupan Imunisasi Polio, kondisi kebersihan lingkungan dan perilaku hidup bersih yang kurang baik seperti Buang Air Besar (BAB) sembarangan baik itu di sungai ataupun pada sumber air yang juga digunakan pada kehidupan sehari-hari.
Pria alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga ini menuturkan beberapa tindakan yang bisa dijalankan untuk pencegahan, yaitu pertama, masyarakat harus memastikan anak-anak mereka memperoleh imunisasi rutin polio lengkap sesuai usia, yaitu 4 kali polio tetes dan 2 kali polio suntik, sebelum usia 1 tahun.
Lelaki yang juga Wakil Ketua PC NU Kabupaten Malang ini mengungkapkan,
langkah kedua, memastikan seluruh anak usia 0 sampai 7 tahun di seluruh wilayah provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur serta Kabupaten Sleman Provinsi DIY memperoleh 2 dosis imunisasi polio tetes tambahan pada kegiatan Sub Pekan Imunisasi Nasional (Sub PIN) yang akan dilaksanakan mulai 15 Januari 2024.
Ketiga, menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, termasuk buang air besar (BAB) di jamban dengan septic tank dan cuci tangan dengan sabun sebelum makan dan setelah buang air.
Pria berjuluk Dokter Rakyat ini menjelaskan tindakan keempat, masyarakat diimbau segera melapor kepada petugas kesehatan atau puskesmas terdekat bila menemukan anak usia di bawah 15 tahun dengan gejala lumpuh layu mendadak.
Pewarta : Hadi Triswanto
Editor/Publisher : Aan Imam Marzuki




















































