Oleh: Uswatun Hasanah, S.E
Refleksi Hari Kartini bukan sekadar ritual tahunan mengenakan kebaya. Mengingat sejarah Raden Ajeng Kartini yang memperjuangkan hak-hak perempuan, khususnya di bidang pendidikan, momentum ini menjadi pengingat bahwa intelektualitas merupakan bentuk emansipasi yang paling murni.
Hari Kartini sering terjebak dalam romantisme seremonial. Padahal, jika membedah surat-suratnya seperti dalam _Door Duisternis tot Licht_, esensi perjuangan Kartini adalah perang melawan stagnasi pemikiran. Pendidikan bagi Kartini bukan sekadar akses menuju literasi, melainkan alat untuk meruntuhkan tembok feodalisme dan patriarki yang menempatkan perempuan sebagai objek pelengkap.
Kartini tidak hanya memperjuangkan hak perempuan untuk bersekolah, tetapi juga hak untuk berpikir secara mandiri. Di sinilah keterkaitan antara perempuan, pendidikan, dan warisan Kartini di era modern menjadi sangat relevan.
Pendidikan sebagai Alat Pembebas
Bagi Kartini, pendidikan bukan sekadar cara meraih gelar, melainkan senjata untuk memutus rantai tradisi yang membelenggu. Dulu perempuan dipingit secara fisik. Kini, pingitan hadir dalam bentuk stigma sosial, beban ganda, dan keterbatasan akses terhadap ruang pengambilan keputusan.
Dahulu pendidikan diperjuangkan agar perempuan mampu membaca dan menulis untuk memahami dunia luar. Kini pendidikan berfungsi agar perempuan memiliki otoritas atas tubuhnya, keputusan finansial, dan peran sosialnya.
Di era modern, pendidikan bagi perempuan adalah soal kedaulatan. Perempuan terdidik mampu mengambil keputusan atas hidupnya sendiri, mulai dari pilihan karier, pengelolaan kesehatan reproduksi, hingga partisipasi dalam ekonomi global.
Ibu sebagai Madrasah Pertama: Intelektualitas Domestik
Pertanyaan tentang gunanya sekolah tinggi jika akhirnya kembali ke dapur justru mengkhianati visi Kartini.
Masih ada narasi usang yang membenturkan pendidikan tinggi perempuan dengan peran domestik. Perspektif ini merupakan bentuk pingitan gaya baru.
Dalam pandangan Kartini, perempuan adalah pendidik pertama bagi generasi penerus. Ibu yang berwawasan luas, berlogika runtut, dan berliterasi baik akan melahirkan anak-anak yang tangguh secara mental dan intelektual.
Menganggap pendidikan tinggi menjadi sia-sia hanya karena seorang perempuan memilih fokus di ranah domestik adalah pola pikir yang merugikan. Pendidikan perempuan merupakan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia sebuah bangsa.
Dengan demikian, pendidikan tinggi bagi perempuan tidak pernah sia-sia, baik ia memilih menjadi wanita karier maupun ibu rumah tangga. Kualitas sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas asuhan di dalam rumah, yang melibatkan peran perempuan, tentu dengan dukungan peran laki-laki.
Aksesibilitas dan Tantangan Struktural di Era Digital
Meski angka partisipasi sekolah perempuan telah meningkat pesat, tantangan baru tetap muncul.
Masih ada kesenjangan gender, terutama dalam persepsi bahwa sains dan teknologi merupakan domain laki-laki. Selain itu, di tengah banjir informasi, perempuan juga dituntut menjadi garda terdepan dalam menyaring hoaks dan memberikan edukasi publik.
Sejarah mencatat Kartini berjuang melalui korespondensi, bentuk teknologi komunikasi pada zamannya. Di abad ke-21, perjuangan itu diteruskan melalui penguatan literasi digital.
Perempuan hari ini mungkin tidak lagi dipingit secara fisik, tetapi banyak yang terpingit oleh algoritma, hoaks, dan standar ganda di media sosial.
Tantangan sesungguhnya adalah memastikan akses pendidikan merata hingga ke pelosok, di mana pernikahan dini masih sering menjadi jalan pintas akibat rendahnya kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak perempuan.
Menuju Kepemimpinan Berbasis Intelektualitas
Perempuan dan pendidikan bukan hanya soal menghasilkan tenaga kerja, tetapi juga mencetak pemimpin. Warisan Kartini adalah keberanian untuk berpikir berbeda dan melampaui batas kebiasaan.
Di berbagai sektor, mulai dari sains, politik, hingga ekonomi, kehadiran perempuan terdidik membawa perspektif yang lebih inklusif dan empatik. Pendidikan membekali perempuan untuk tidak hanya ikut dalam sistem, tetapi juga mengubah sistem yang masih diskriminatif.
Refleksi Hari Kartini tahun ini harus membawa kita pada satu kesadaran bahwa pendidikan bagi perempuan adalah investasi peradaban.
Ketika seorang laki-laki dididik, ia menjadi individu yang terpelajar. Namun, ketika seorang perempuan dididik, sebuah generasi terselamatkan.
Menghormati Kartini berarti terus mendukung ruang aman bagi perempuan untuk bermimpi, belajar, dan memimpin tanpa harus merasa bersalah atas kodratnya.
Pada akhirnya, perjuangan perempuan harus bermuara pada satu kesadaran kolektif bahwa pendidikan adalah kemerdekaan. Selama masih ada perempuan yang dipaksa berhenti sekolah dan selama masih ada stigma bahwa perempuan tidak perlu pintar, maka perjuangan Kartini belum usai.
Menghargai Kartini bukan dengan meniru pakaiannya, melainkan dengan meniru keberaniannya untuk terus belajar, meski dunia pada masanya memintanya untuk diam.
Semangat Habis Gelap Terbitlah Terang bukan sekadar kalimat puitis, tetapi ramalan intelektual bahwa hanya melalui ilmu pengetahuan perempuan akan benar-benar merdeka.
Tugas hari ini adalah memastikan cahaya yang dinyalakan Kartini tetap menyala, bahkan lebih terang dari sebelumnya.
* ) Penulis : Uswatun Hasanah, S.E, Aktivis Perempuan dan Praktisi Pendidikan Kabupaten Malang
* ) Tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis




















































