BACAMALANG.COM – Hari Ginjal Sedunia (World Kidney Day) diperingati setiap minggu kedua di bulan Maret. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan ginjal, juga untuk mengurangi dampak penyakit ginjal serta penyakit lain yang berhubungan dengan ginjal.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan edukasi kepada masyarakat. Seperti Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI), bekerja sama dengan Baxter yang menggelar seminar awam bertajuk “Hidup Dengan Dialisis : Faktor Gaya Hidup Dan Kebebasan Pilihan”.
Seminar ini menghadirkan pembicara ilmiah Dr. dr. Atma Gunawan, SpPD-KGH dan ketua umum KPCDI Tony Richard Samosir, yang dihelat di Ocean Garden Resto Jl. Soekarno-Hatta Kota Malang, Minggu (3/3/2024).
Dalam sambutan pembukaannya, Tony Samosir mengungkapkan, bahwa selain edukasi, seminar yang pertama kali digelar KPCDI di Malang ini pada dasarnya adalah kesempatan untuk kopi darat sesama pasien cuci darah maupun pendampingnya.
“Dengan adanya acara ini kita bisa kopdar dan edukasi karena sebetulnya para pasien kekurangan waktu untuk berbicara langsung kepada dokter. Kita bisa curhat, khususnya terkait keluhan yang tidak sempat ditanyakan saat kontrol karena waktu dari dokter yang terbatas,” ujarnya.
Dikatakan Tony, tujuan lainnya tentu untuk membangun solidaritas antar pasien, sehingga memperkuat tali persaudaraan.

Pembicara ilmiah Dr. dr. Atma Gunawan, SpPD-KGH saat paparan dalam seminar di Ocean Garden Resto Jl. Soekarno-Hatta Kota Malang, Minggu (3/3/2024). (Nedi Putra AW)
Menurut dia, edukasi seperti ini penting karena banyak tema yang bisa diangkat, seperti dalam edisi kali ini tentang modalitas pilihan yang bisa ditentukan pasien, sesuai rekomendasi dari DPJP (Dokter Penanggung Jawab Pelayanan).
“Sehingga harapannya, ada modalitas baru untuk hidup yang berkualitas,” tandasnya.
Dr. dr. Atma Gunawan menyampaikan dalam paparannya tentang modalitas pilihan terapi pengganti gagal ginjal, yakni hemodialisa atau cuci darah yang dilakukan rutin di rumah sakit, CAPD (Continous Ambulatory Peritoneal Dialysis), dialisis yang dilakukan melalui rongga perut (peritoneum), serta transplantasi atau cangkok ginjal.
“Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan, meskipun saat ini paling banyak pilihannya adalah hemodialisa atau biasa disebut HD,” ujarnya.
Dari data yang ada, tercatat sebanyak 62% pasien memilih HD dan baru 37% CPAD dan sisanya yakni hanya 1% yang memakai metode transplantasi.
Dokter Atma menambahkan, pada kenyataannya akses untuk HD, khususnya di Malang semakin lama semakin sulit.
Hampir semua unit HD di sejumlah rumah sakit sudah penuh, sehingga banyak pasien baru yang belum sempat menjalani terapi karena masih masuk daftar tunggu.
“Sehingga perlu pilihan modalitas cuci darah, salah satunya adalah CAPD,” tukas Kepala Divisi Nefrologi dan Hipertensi RS Saiful Anwar (RSSA) Malang ini.
Ia menyebutkan, dibanding HD, kelebihan CAPD ini adalah meliputi fleksibilitasnya, karena pasien tidak harus ke pusat HD di RS, bisa dilakukan di rumah, tempat kerja, sekolah, bahkan di dalam kendaraan, tentunya dengan SOP yang telah ditentukan.
“Sehingga bisa lebih leluasa travelling, tidak nyeri karena berdarah ditusuk jarum, tekanan darah lebih stabil dan cocok bagi anak-anak dan lansia,” urainya.
Meski demikian, imbuhnya, tentu saja terapi ini ada kekurangannya seperti peritonis, komplikasi kateter peritonial, pasien jenuh dan bosan serta perlu gudang atau ruang khusus di rumah untuk penyimpanan cairan.
“Tapi salah satu kelebihan lain CAPD ini adalah lebih banyak mempertahankan fungsi ginjal yang tersisa,” tegasnya.
Terapi ketiga adalah transplantrasi atau cangkok ginjal. Menurut dokter Atma, selama ini di mana saja faktor utama dari minimnya modalitas pilihan ini adalah tidak banyaknya donor ginjal.
“Padahal jelas kelebihan dari cangkok ginjal ini adalah fungsi ginjal yang kembali mendekati normal, sehingga harapan hidup lebih panjang karena kualitas hidup yang baik, serta akhirnya meminimalisir penyakit dengan jarang kontak ke RS,” bebernya.
Dokter Atma menyebutkan, pernah dilakukan survei bahwa ternyata orang hidup dengan 1 ginjal dalam jumlah besar dibanding dengan yang masih lengkap risiko gagal ginjal ternyata sama.
“Jadi orang sehat dengan 2 ginjal itu berlebih. Donor adalah berbagi, dengan syarat 1 ginjal dalam kondisi sehat lewat skrining, di mana penderita hiperpensi, diabetes maupun kista dan sebagainya tidak disarankan sebagai donor. Risiko paska operasi sama dengan risiko kecelakaan lalu lintas, jadi tidak terlalu siginifikan,” jelasnya.
Dikatakan Ketua tim Transplantasi Ginjal RSSA ini, bahwa ada beberapa hal yang menjadi kelemahannya, yakni biaya operasi besar meskipun dicover BPJS kalau di RSSA.
Belum lagi faktor rejeksi atau penolakan, khususnya jika donor golongannya tidak sesuai dengan penerima.
“Jadi hukum transfusi golongan darah di sini masih berlaku, meskipun saat ini sudah bisa diminimalisir,” tukasnya.
Dokter Atma berharap para pasien dan pendamping dari berbagai RS yang hadir dalam seminar ini mendapat pengetahuan dan wawasan baru.
“Bahwa modalitas untuk terapi pengganti ginjal bukan hanya hemodialisa tapi ada juga CAPD dan tranplantasi atau cangkok, sehingga ketahuilah modalitas-modalitas lain tersebut di samping yang telah dijalani,” pungkasnya.
Pewarta : Nedi Putra AW
Editor/Publisher: Aan Imam Marzuki




















































