BACAMALANG.COM – Harga kopi di Malang, terutama di kawasan Ampelgading, Gunung Kawi, dan Gunung Arjuna, mengalami kenaikan signifikan. Dalam beberapa bulan terakhir, harga kopi melonjak hingga 30% dibandingkan tahun lalu. Kenaikan ini dipicu oleh perubahan iklim yang memengaruhi hasil panen dan meningkatnya permintaan di pasar domestik maupun internasional.
Data dari Asosiasi Petani Kopi Indonesia menunjukkan produksi kopi di Jawa Timur, termasuk Malang, turun sekitar 15% akibat cuaca ekstrem. Di Ampelgading, harga kopi Robusta lokal kini berkisar antara Rp 60.000 hingga Rp 80.000 per kilogram, sementara di Gunung Kawi dan Gunung Arjuna, harga kopi Arabika mencapai Rp 100.000 per kilogram.
Meskipun harga terus meroket, minat masyarakat Malang untuk menikmati kopi tetap tinggi. Ritual ngopi telah menjadi bagian integral dari budaya lokal. Banyak warga masih meluangkan waktu untuk mengunjungi kedai-kedai kopi, meskipun harus merogoh kocek lebih dalam. Penawaran inovatif seperti kopi racikan khusus dan suasana yang nyaman tetap menarik pengunjung.
Penelitian menunjukkan konsumsi kopi di kalangan masyarakat Malang mencerminkan identitas sosial dan kebersamaan yang kuat. “Meskipun tantangan terkait harga semakin meningkat, dedikasi masyarakat Malang terhadap budaya ngopi tidak mengalami penurunan. Ini menunjukkan bahwa kopi bukan sekadar komoditas, melainkan bagian penting dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat setempat,” tegas Pengamat dan Peneliti Kopi, Dr. Retno Wulandari.
Kopi dari Gunung Bromo juga semakin menarik perhatian karena kualitas dan cita rasanya yang khas. Sebagai salah satu daerah penghasil kopi Arabika terbaik di Indonesia, Gunung Bromo dikenal dengan kopi yang memiliki aroma floral dan rasa yang lembut. Namun, harga kopi Bromo juga mengalami peningkatan, berkisar antara Rp 80.000 hingga Rp 120.000 per kilogram.
Di tengah tantangan harga ini, para petani kopi di Bromo terus berupaya meningkatkan kualitas melalui praktik pertanian yang berkelanjutan. Mereka juga mendapatkan dukungan dari berbagai lembaga untuk memasarkan produk mereka secara lebih luas, baik di dalam maupun luar negeri. Masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke kawasan Bromo semakin menggemari kopi lokal, yang menjadi bagian dari pengalaman menikmati keindahan alam. Kedai kopi di sekitar Bromo pun berinovasi dengan menawarkan berbagai metode penyajian yang menarik.
Secara keseluruhan, meskipun harga kopi Bromo meningkat, kualitas dan keunikan produk ini tetap menjadi daya tarik tersendiri, menjadikannya salah satu komoditas yang berharga bagi masyarakat setempat.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































