BACAMALANG.COM – Desa atau kelurahan merupakan pondasi awal dari pembangunan manusia, sehingga banyak persoalan-persoalan sosial maupun lingkungan hidup yang harus diakselerasi.
Hal ini diungkapkan Prof. Dr. Ir. Imam Santoso MP usai pelantikan sebagai Ketua Majelis Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia (ICMI) Organisasi Daerah (Orda) Kota Malang periode 2021-2026 di Grand Mercure Mirama Malang, Sabtu (16/7/2022).
Prof. Imam menambahkan, seperti di bidang pendidikan misalnya nanti akan ada pengembangan bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
“Meski Dinas Pendidikan maupun Dinas Sosial sudah concern, namun ICMI harus memberikan perhatian yang lebih,” ujarnya.
Dijelaskan Prof. Imam, selain anak-anak harus tuntas pendidikannya, dalam suatu desa atau kelurahan ini harus semakin banyak pemuda yang melakukan usaha ekonomi produktif, sehingga mengurangi pengangguran maupun angka kriminal.
Pembentukan suatu model desa cendekia, imbuhnya, akan dilakukan tim dari ICMI lewat observasi, diskusi maupun FGD.
“Hal ini bisa dikeroyok bareng, sehingga kami perlu kolaborasi dengan pihak-pihak terkait,” tegasnya.
Imam berharap ICMI ke depan menjadi mesin turbo yang cepat gerakan dan programnya, serta dapat diaplikasikan, sehingga menghasilakan model kelurahan yang menjadi percontohan di Kota Malang, mungkin Jawa Timur bahkan Nasional.
Sementara itu Sekretaris Pengurus Majelis Wilayah Jawa Timur, Ir. Pitono Nugroho menuturkan pelantikan ini menjadi momen penting untuk bangkit setelah ICMI Malang sudah cukup lama ‘tertidur’.
“Jika dilihat dari sejarahnya, ICMI muncul pertamakali di Kota Malang, tepatnya di kampus Universitas Brawijaya pada tahun 1990, sehingga semakin lama tantangan semakin besar, dan ICMI sebagai salah satu alternatif dengan kecendekiaan dan kepakarannya ini mampu menjadi solusi untuk berbagai persoalan,” paparnya.
Senada dengan Imam Santoso, Pitono menegaskan bahwa bingkai ICMI multi stakeholder patrnership, sehingga dibutuhkan kolaborasi baik dengan birokasi maupun akademisi di kampus, mengingat persoalan-persoalan yang kompleks tersebut tidak mungkin diselesaikan oleh satu institusi saja.
“Sebagai gerakan intelektual, ICMI juga berperan memberi masukan dan respon dan sikap, seperti tentang Islamophobia hingga masalah LGBT, tapi juga bisa terkait politik meskipun bukan gerakan politik,” tukasnya.
Menurut Pitono, pelantikan pengurus ini juga menjadi momen untuk menata kembali dan konsolidasi, sehingga ICMI menjadi kekuatan akal sehat, khususnya menjelang tahun 2024 yang dipastikan suasananya akan meng’hangat’, agar masyarakat tidak teradu domba.
“ICMI hadir sebenarnya untuk mewujudkan tatanan masyarakat madani dengan ridho Allah serta meningkatkan keimanan dan ketaqwaan. Ada ruang yang harus diisi baik itu pendidikan, kesehatan, sosial maupun ekonomi. Di sinilah peran ICMI yang sesungguhnya,” pungkasnya.
Pelantikan Pengurus ini dilanjutkan dengan Diskusi Panel & Rapat Kerja untuk rencana ICMI Malang ke depan.
Acara bertema “Membangun desa/kelurahan cendekia di era ekonomi digital: tantangan dan solusi dalam upaya mencerdaskan dan menyejahterakan masyarakat” yang digelar secara hybrid ini menghadirkan sejumlah narasumber, salah satunya Sekeretaris Jenderal Kementerian Ketenagkerjaan Prof. Drs. Anwar Sanusi PhD serta undangan dari jajaran tingkat Provinsi Jawa Timur dan Perwakilan Pemkot Malang. (ned)




















































