BACAMALANG.COM – Elpamas dan Grassrock memenuhi janji mereka dengan tampil cadas dalam Malang Rockestra 2025 di gedung Kesenian Gajayana, Jalan Nusakambangan Kota Malang, Minggu (4/5/2025) malam. Konser persembahan Malang Lites dan Delta Production yang mempertemukan dua legenda musik rock Indonesia ini dipenuhi para penonton yang kebanyakan berkostum celana jeans dan kaus hitam, yang mulai membanjiri gedung berkapasitas total 700 kursi ini sejak open gate pada pukul 16.00 WIB.
Konser dibuka oleh Mix Match Band, sebuah kelompok lintas generasi asal Malang yang membawakan membawa sejumlah lagu tahun 80-an, seperti “Hold The Line” dari Toto, “Burn” dari Deep Purple maupun komposisi klasik “Changes” dari Yes, yang punya tingkat kesulitan cukup tinggi untuk dimainkan secara live, namun tetap dibawakan dengan apik dan semangat generasi saat ini.
Kemudian masuklah Grassrock, band rock asal Surabaya yang terbentuk sejak tahun 1984 dengan beberapa lagu hits mereka, seperti Anak Rembulan maupun Gadis Tersesat. Juara I Djarum Super Rock Festival yang kali ini digawangi Rere (drum), Edy Kemput (gitar), Deny Ireng (keyboard), Hans (vokal), dan Zony Kaunang (bass) ini sempat meniup liin ulang tahun, merayakan kebersamaan mereka di kancah musik rock Indonesia selama 41 tahun.

Band Grassrock saat tampil dalam Malang Rockestra 2025 di gedung Kesenian Gajayana, Jalan Nusakambangan Kota Malang, Minggu (4/5/2025) malam. (Nedi Putra AW)
Selain menyapa publik rock Malang, Rere menyampaikan apresiasi kepada para Grassrockers, sebutan penggemar grup ini, yang ikut menyukseskan pagelaran Rockestra 2025.
“Terimakasih juga buat warga Malang yang telah membeli tiket, dan membuat atmosfir rock kembali bergema di gedung ini,” ungkap Rere.
Setelah itu, Elpamas menggebrak dengan sebuah komposisi instrumentalia yang berkolaborasi dengan Daily Orchestra. Tampil dengan formasi Emmanuel Herry Hertoto alias Totok Tewel (gitar), Rush Tato (drum), Baruna (vokal), Rizky (vokal), Lie Andi (bass) dan Mandow, keyboardist terbaik Festival Rock ke 3 tahun 1986, yang sebelumnya adalah keyboardist Grassrock, Elpamas benar-benar membawa atmosfir rock pada era tahun 1980-1990-an. Sejumlah komposisi hits dari beberapa album mereka bawakan dengan apik, mulai “Angan-Angan”, “KGB” (Kereta Gaya Baru), hingga “Brutal” (Anak Durhaka). Sedikit berbeda dengan kolaborasi musisi rock dengan balutan orkestra, Elpamas malam tersebut cenderung tampil dengan mempertahankan ciri khas musiknya pada sejumlah komposisi. Bahkan Totok Tewel tetap gahar meski tampil santai hanya dengan celana jeans selutut dan kaus singlet hijau.
Namun Gedung Kesenian Gajayana malam itu kembali bergemuruh saat komposisi “Pak Tua” dinyanyikan bersama-bersama para penonton. Lagu ini cukup fenomenal, karena diciptakan oleh Pitat Haeng, nama samaran Iwan Fals, yang menjadi pada tahun era tahun 1990-an. Lagu dengan aransemen sederhana dan intro yang memorable ini mengusung kritik sosial tentang orang tua yang mau pensiun, meski publik cenderung mengarahkan maknanya sebagai satire kepada sosok penguasa Orba saat itu.
Di atas panggung, Baruna kembali menegaskan rasa gembiranya dapat tampil menyapa publik rock Malang dalam konser ini. Menurutnya atmosfir konser kali ini membawa ke era Malang sebagai barometer rock Indonesia. “Rek, ojo lali iki (Malang) yo omahku,” ujar pemilik nama Baruna Priyotomo ini.
Energi konser musik rock tahun 1980-an di GOR Pulosari benar-benar muncul dalam Rockestra yang mengusung tagline “Time To Rock Great Again” ini. “Secara spirit memang suasananya seperti di era 80-an, termasuk dari venue di Gedung Kesenian Gajayana ini, namun tentu saja dengan kemasan yang sudah kekinian,” tandas Humas kegiatan, Wahyu KCMT.

Konser ini juga dihadiri Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, serta beberapa tokoh musik Indonesia, salah satunya Log Zhelebour, produser dan promotor musik rock yang telah mengawal perjalanan musik rock Indonesia dengan sejumlah festival.
Pewarta: Nedi Putra AW
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































