BACAMALANG.COM – Ketika pertama kali masuk Ngawi, yang saya harapkan lihat dalam perjalanan adalah ikon yang paling mencolok dari Kabupaten Ngawi lebih dari lima tahun terakhir, yaitu tugu Kartonyono. Sayangnya aplikasi peta tidak memberi saya Tugu Kartonyono; saya langsung diarahkan ke penginapan melalui jalan di sebelah utara alun-alun Ngawi—Tugu Kartonyono berada di selatan alun-alun. Tapi tak apa. Belakangan, saya sadar bahwa Kartonyono sudah lama menunggu, dan nilai yang diwakili oleh Tugu Kartonyono itu sudah menunggu jutaan tahun. Menunggu saya beberapa jam lagi hanyalah setitik debu…
Setelah menaruh barang-barang di penginapan yang berada di antara benteng pendem Van Den Bosch dan alun-alun, kami berangkat ke rumah kawan. Kebetulan kawan dari Universitas Ma Chung ini sedang pulang ke Ngawi untuk merayakan Natal bersama keluarga besar. Dalam perjalanan ke rumah kawan itu kami akan melewati alun-alun dan Tugu Kartonyono. Namun, kami baru menyempatkan mampir ke Tugu Kartonyono sepulang dari rumah kawan itu.
Ternyata, kunjungan singkat ke episentrum dangdut koplo yang satu ini menyadarkan saya terhadap satu hal lain yang sama sekali belum tertangkap lagu Denny Caknan yang membius itu: kekayaannya sebagai bahan mentah imajinasi
Perempatan Woles dalam Imajinasi Musik
Tugu yang indah itu berupa tujuh batang gading putih dan satu batang gading emas. Enam gading putih ditata berbaris tiga pasang. Satu gading putih di pasang di depan dengan ujung tanduk melengkung ke arah timur. Tiap pasang berhadapan dan saling menyilangkan ujungnya. Di persilangan tiga pasang gading putih itu, berbaring gading emas dengan ujung mengarah ke timur. Jalan di bagian timur itu kemudian akan berbelok ke utara, menuju Bojonegoro.
Tugu Kartonyono ini berada di perempatan kelurahan Margomulyo. Menurut informasi popular, Kartonyono adalah nama salah satu lurah Margomulyo, tapi saya tidak yakin kapas pastinya beliau menjabat. Yang saya tahu pasti adalah yang semua orang sekarang tahu: Tugu Kartonyono dikenal orang luar Ngawi berkat karya dangdut Jawa putra daerah yang rumahnya tidak terlalu jauh dari sana, yaitu Denny Caknan. Oh iya, ikuti jalan yang ditunjuk oleh tanduk emas. Kalau beruntung Anda akan sampai di rumah Denny Caknan.
Begitu tiba di sini, saya menemukan sesuatu yang unik di Ngawi. Banyak sekali tempat nongkrong maupun toko di kawasan perempatan ini, mulai angkringan kopi saset, kopian, hingga toko cat yang buka sampai jam 9 malam. Namun, tidak ada tempat yang disediakan untuk parkir mobil. Mereka yang membawa motor bisa menaikkan motor mereka ke trotoar, tapi tidak demikian dengan mobil. Orang-orang memarkir mobil di lajur paling kiri di jalan yang dekat dengan pembatas jalan yang juga berfungsi sebagai pot itu. Kayaknya orang-orang begitu santai. Maka saya pun ikut juga memarkir mobil dengan cara itu.
Di Malang, yang semacam ini pasti menimbulkan keresahan warga. Di kota lain, bisa-bisa mobil yang parkir di jalan raya begitu bisa langsung viral. Tapi tidak di Ngawi. Tampaknya orang woles saja dengan fenomena itu. Mungkin ini berhubungan dengan tulisan besar “Ngawi Ramah” yang ada di bawah Tugu Kartonyono itu.
Dalam lagunya “Kartonyono Medot Janji,” Denny Caknan berkisah tentang seorang lelaki yang patah hati tapi menghadapi dengan gagah dan menjadikan Tugu Kartonyono sebagai penanda putus. Lagu diawali dengan sesal karena si mantan menuduh dia tidak cukup memberi perhatian. Padahal dia butuh si mantan. Tapi, lagu ini tidak meratap. Dia anggap pengalaman putus cinta yang menyakitkan itu sekadar “latihan” untuk menyiapkan diri di masa depan kelak. Toh dia juga sebenarnya lega bisa putus dengan kekasih yang terlalu menuntut itu. Salah satu statemen pentingnya: “ra sah nyawang sepionmu sing nggarai ati malah mbebani” (tidak perlu melihat kaca spion yang hanya membebani).
Sebenarnya, dengan begitu saja lagu ini sudah cukup membius. Dia hadir di dalam tradisi penggunaan fasilitas publik sebagai duta perasaan hati. Strategi literer ini sebelumnya sudah sukses dijalankan almarhum Lord Didi Kempot melalui “Stasiun Balapan Solo,” “Pelabuhan Tanjung Mas,” “Terminal Tirtonadi,” dan lainnya. Denny tidak menggunakan terminal, stasiun, atau pelabuhan. Dia memilih landmark penting kabupaten Ngawi, yaitu perempatan yang boleh disebut kawasan “Arc De Triomph”-nya Ngawi. Imaji tempat-tempat publik ini sudah cukup kuat untuk mewakili patahnya hati. Dia sudah di jalan yang tepat.
Namun, Denny Caknan juga membuat video yang membuat Kartonyono itu lebih jelas: Perempatan dan Tugu Kartonyono. Tanpa tugu itu, bisa saja non-warga Ngawi akan mengira Kartonyono itu nama terminal. Denny sudah menggunakan idiom-idiom transportasi juga dalam lagunya: selain “sepion” tadi, ada juga “budalo malah tak duduhi dalane, metu kono, belok kiri, lurus wae” (pergilah, akan kutunjukkan jalannya, lewat sana, belok kiri, terus lurus saja). Namun, seolah untuk mencegah salah paham, dia juga membuat video klip yang berlokasi di kawasan perempatan Kartonyono yang merupakan tempat nongkrong dan ngopi itu. Mungkin si cowok dalam lagu ini putus di salah satu tempat ngopi di kawasan Kartonyono ini.
Perempatan Kartonyono adalah tempat yang ramah bagi mereka yang nongkrong. Selain banyak angkringan dan kopian, ada juga kursi-kursi akar jati yang sebentar-sebentar ada di trotoar kawasan perempatan itu. Para hadirin pun bermacam-macam, mulai teman-teman nongkrong yang berusia SMP-SMA, sampai juga keluarga-keluarga yang datang berama seluruh anggota dengan naik motor. Sangat mungkin terjadi pertemuan, percintaan, dan perpisahan di tempat yang sehidup dan sesantai ini.
Stegodon di Balik Pintu Kartonyono
Yang tak kalah uniknya dari sini adalah bahwa selain perempatan, Kartonyono adalah juga sebuah tugu unik. Tugu di perempatan Kartonyono itu memiliki bentuk yang khas, tetapi tidak begitu saja bisa dipahami maksudnya. Sekilas seperti jalinan rusuk. Tapi tentu bukan. Di awal tulisan saya jelaskan bahwa tugu ini adalah gading-gading gajah yang cenderung lebih gemuk dari gading yang umumnya kita ketahui. Namun, distorsi bentuk untuk keperluan estetika tentu saja sudah lazim. Tokoh Bima dalam wayang Baratayudha sudah mengajari kita bahwa tokoh manusia yang kekar bisa diwakili dengan bentuk pipih lengan yang lebih terkesan ramping memanjang ala lengan foto model dan kuku jempol bisa dibuat seperti paruh burung.
Kartonyono sudah menjadi tempat nongkrong yang populer sejak lama, namun ketika Denny Caknan membuat videoklip, tugu Kartonyono baru berusia dua tahun. Tentu ada kontroversi sendiri di balik pembangunan tugu itu yang tidak perlu saya bahas di sini. Yang tidak banyak dibahas adalah bahwa tugu Kartonyono ini mewakili sesuatu yang luar biasa istimewa. Gading-gading tugu Kartonyono itu adalah representasi dari fosil-fosil gading sejenis gajah purba yang bernama latin Stegodon trigonocephalus yang ditemukan di kawasan Ngawi dan daerah-daerah lain yang dialiri Bengawan Solo. Penemuan fosil tidak pernah tidak istimewa karena fosil adalah surat cinta dari jutaan atau bahkan ratusan juta tahun yang lalu.

Patung Stegodon di halaman Museum Trinil. (Dokumen Pribadi)
Dalam urusan surat cinta dari masa purba, Ngawi adalah daerah yang memiliki arti penting. Di Ngawi, khususnya kawasan Trinil, pernah ditemukan gading gajah purba Stegodon. Sayangnya, di Indonesia sendiri stegodon kalah populer dengan gajah purba mamut, yang fosilnya justru ditemukan di benua Amerika. Beberapa fosil gading dan tulang gajah purba yang pernah ditemukan di kawasan Ngawi saat ini tersimpan di Museum Trinil, Ngawi, baik dalam bentuk asli maupun replika.
Berbeda dengan mamut berbulu yang cenderung lebih imut (sebagaimana diwakili tokoh Manny di seri film animasi Ice Age), stegodon tampak minim bulu seperti gajah modern. Di antara banyak jenis gajah purba, mamut adalah yang paling banyak muncul di budaya populer. Stegodon sendiri tampaknya kurang populer di mana-mana. Ada daftar-daftar gajah purba yang tidak menyebutkan stegodon, misalnya di The MacMillan Encyclopedia of Dinosaurs and Prehistoric Animals atau di daftar ini.
Kalah populernya stegodon dibanding mamut di Indonesia cukup disayangkan. Hal ini karena Indonesia ini adalah habitatnya stegodon. Ada beberapa spesies stegodon yang pernah hidup di Indonesia menurut temuan para arkeolog. Sebaran penting stegodon di nusantara juga bisa dilihat dari prosiding konferensi Unggul Prasetyo Wibowo dan timnya dari Museum Geologi, Kementerian ESDM, dimana gambar yang diambil dari “The Enigma of the Existence of Vertebrate Fossils in the Flores Island” karya Unggul Prasetyo Wibowo et al. dari Museum Geologi, Kementerian ESDM tersebut tampak bahwa kurang lebih sejak 2,5 juta tahun yang lalu sudah ada spesies gajah purba di nusantara, tepatnya Stegodon sompoensis di Sulawesi. Stegodon di Jawa sendiri ada hingga sekitar 50.000 tahun yang lalu, hidup berdampingan dengan manusia purba Homo erectus yang merupakan predator puncak pada masanya.
Pertanyaannya sekarang adalah, sebanyak apa para penonton video klip Denny Caknan atau anak-anak sekolah yang melihat Tugu Kartonyono itu menyadari arti penting Kabupaten Ngawi? Setelah melihat joged Denny Caknan berlatar Tugu Kartonyono itu, berapa banyak yang jadi penasaran dengan gading-gading gajah purba itu? Berapa banyak yang sadar bahwa Ngawi adalah salah satu pemilik keistimewaan karena punya kekayaan terpendam (literally “terpendam”, karena ya memang fosil!) sebagai salah satu situs penemuan fosil gajah purba stegodon?
Kalau saya boleh mengulur lagi implikasi dari pertanyaan-pertanyaan saya: Apakah sudah ada maskot stegodon dari Ngawi atau bahkan Jawa Timur untuk event-event tertentu? Adakah kisah fiksi anak-anak yang mengambil inspirasi dari stegodon ini dari kawasan Jawa? Atau, kalau sudah ada, sudah adakah upaya untuk membuat tokoh ini benar-benar menyentuh imajinasi anak-anak seperti karakter Manny, Ellie, dan Peaches dari seri animasi Ice Age?
Ketika puas menikmati keramahan Ngawi dan kemeriahan perempatan Kartonyono, saya dan keluarga langsung meninggalkan kawasan itu untuk berangkat ke alun-alun. Di sana, ada cemue, yang sangat mirip angsle-nya orang Malang tapi ditaburi kacang goreng dan bawang goreng. Selama perjalanan pulang hingga pagi ini saat menuliskan ini, saya masih terpikir: sepertinya Denny Caknan sudah membukakan pintu bagi saya dan banyak orang. Pintu yang terbuka itu membuat saya bisa melihat jajaran gading gajah purba dari Ngawi.
Sekarang waktunya para seniman, penulis, pengarang dari Ngawi dan Jawa Timur untuk melewati pintu yang terbuka itu. Kita mestinya ikut menggarap gajah-gajah purba Stegodon itu agar juga masuk ke alam imajinasi semua orang. Stegodon perlu mamut yang sudah terlanjut lebih terkenal bahkan di tempat ditemukannya gajah purba stegodon.
Denny Caknan menjawab: “Budalo malah tak duduhi dalane, metu kono, belok kiri, lurus wae… ”
Author: Wawan Eko Yulianto, Blogger & Dosen Sastra Inggris Universitas Ma Chung




















































