Lewat Kopi Cinta, Harmoni Cafe & Resto Malang Beri Fasilitas Teman Tuli Berkarya - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

KULWIS · 8 Okt 2024 09:25 WIB ·

Lewat Kopi Cinta, Harmoni Cafe & Resto Malang Beri Fasilitas Teman Tuli Berkarya


 Alif (bertopi), didampingi Public Relation Harmoni Cafe & Resto Rega Aprilianto, saat berkomunikasi dengan seorang tamu yang akan memesan gula kapas, Senin (7/10/2024). (Nedi Putra AW) Perbesar

Alif (bertopi), didampingi Public Relation Harmoni Cafe & Resto Rega Aprilianto, saat berkomunikasi dengan seorang tamu yang akan memesan gula kapas, Senin (7/10/2024). (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Suasana Harmoni Cafe & Resto pagi itu tampak ramai. Resto yang berloksi di Jalan Bromo Kota Malang itu mengolah dan menyediakan menu-menu sarapan sebagai agenda reguler yang dimulai dari halaman depannya, dimana para tamu juga dapat menikmati di area dalam resto.
Namun begitu masuk ke dalam, pengunjung langsung bertemu dengan sebuah booth bertajuk Kopi Cinta, yang ditunggui oleh seorang gadis berhijab dengan sejumlah menu yang disediakan, mulai Es Kopi Susu, Es Americano maupun Es Coklat.

Uniknya, diantara daftar menu tersebut terdapat semacam booklet yang menceritakan sekilas Kopi Cinta yang ternyata dikelola oleh teman disabilitas. Ya, ternyata booth ini juga dilayani langsung oleh Ardisa, seorang Teman Tuli, sebutan bagi mereka yang terganggu pendengarannya.

Lewat bahasa isyarat, Ardisa dengan ramah mempersilakan para tamu untuk memesan minuman. Agar komunikasi berjalan baik, disediakan pula tanda bahasa isyarat di antara buku menu Kopi Cinta sebagai panduan. Ada pula pemberitahuan kepada para tamu yang menyatakan bahwa pengelola Kopi ini adalah teman tuli, dan proses pembayaran dapat dilakukan langsung di booth tersebut.

Tak jauh dari booth Kopi Cinta, ada pula booth yang menarik perhatian, khususnya anak-anak. Booth ini menyedikan popcorn dan cotton candy atau gula kapas yang juga dihandle seorang Teman Tuli. Sedikit berbeda dengan Kopi Cinta, di area ini terpampang dengan jelas lewat sebuah banner yang cukup menyolok, bahwa para tamu dapat memesan keduanya ini secara gratis dengan menggunakan bahasa isyarat, dengan gambar ‘Aku Mau Pesan’. Cukup dengan menirukan apa yang ada di banner tersebut, para tamu dapat menikmati popcorn maupun gula kapas yang dibuat oleh seorang Teman Tuli bernama Alif.

Refa, salah seorang tamu yang menikmati sarapan di Harmoni mengaku cukup senang bisa berkomunikasi dengan Alif lewat bahasa isyarat saat memesan gula kapas. “Asyik juga nih, saya jadi tahu bagaimana menyebutkan nama saya dalam bahasa isyarat, selain kata-kata umum seperti salam, terima kasih dan sebagainya,” tandas wanita dari Madura ini.

Konsep unik dan menarik ini dapat ditemui setiap hari selama jam operasional Harmoni Cafe & Resto. Ada tiga teman tuli yang bertugas sekaligus menjadi peracik atau baristanya, yakni Axel, Ardisa dan Alif, seperti diungkapkan Public Relation, Rega Aprilianto, A. Md AB.

“Kebetulan saya juga seorang penerjemah bahasa isyarat. Kami sengaja mengajak teman-teman Tuli di sini, karena saya melihat masih kurangnya kesempatan kerja teman-teman disabilitas,” ucapnya kepada BacaMalang.com, Senin (7/10/2024).

Ardisa, teman tuli dari Kopi Cinta saat melayani pesanan seorang customer Harmoni Cafe & Resto di Jalan Bromo Kota Malang, Senin (7/10/2024). (Nedi Putra AW)

Pria yang biasa disapa Rega ini menambahkan, ia mencoba memadukan konsep dari resto tempatnya bekerja saat ini yakni “Berbagi Kehangatan” dengan apa yang bisa dikerjakan teman-teman tuli ini.  Oleh karena itu mengapa pihaknya menyediakan gula kapas dan popcorn gratis dan bahasa isyarat, yakni agar memberi pengalaman yang lebih dari sekedar rasa kenyang. Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang unik.

“Prosesnya juga tidak instan, yakni mulai sejak awal tahun 2023 lalu dengan melibatkan banyak pihak. Dalam hal ini Harmoni bekerjasama dengan komunitas sosial Omah Gembira hingga Dinas Sosial untuk merumuskan formula seperti yang dijalankan sekarang ini,” tutur pria yang kerap menjadi MC ini.

Dikatakan Rega, akhirnya diputuskan untuk mencoba mempekerjakan mereka yang diawali dengan training bahasa isyarat kepada teman tuli, dimana mereka juga melatih teman lainnya, sehingga tempat kerja menjadi inklusif, selain juga sebagai langkah antisipatif atas tindakan bullying dan diskriminasi di tempat kerja.

“Seperti yang saya sebutkan tadi, memang prosesnya panjang, karena inklusivitasnya diciptakan dulu dalam ekosistemnya, agar menjadi standar sebuah resto yang memperkerjakan karyawan disabilitas,” tukasnya.

Kopi Cinta sendiri adalah brand dari Omah Gembira. Sementara Harmoni Cafe & Resto, imbuh Rega, memfasilitasi sebagai platform bisnis yang sudah mereka miliki untuk dijalankan.

“Tapi kami tidak mau teman-teman tuli sebagai ‘pajangan’ saja di sini. Mereka harus di up-skill kemampuannya di bidang kuliner. Trial-nya juga memakan waktu yang dari awal tahun 2024 ini sehingga bisa ketemu beberapa menu yang ada. Bahkan sampai kita training ke Surabaya, sehingga proses Kopi Cinta ini sepenuhnya dikerjakan teman tuli,” beber Rega yang saat ini masih menjalani perkuliahan secara online di sebuah kampus di Bali ini.

Meski demikian Rega mengaku bahwa sebenarnya ia juga tidak berharap mereka selamanya di sini, karena yang dilakukan di Harmoni adalah batu loncatan untuk tahap selanjutnya, selain menjadi kesempatan pertama dalam mendapatkan pengalaman bekerja.

“Bayangkan, kita saja kadang-kadang kesulitan mendapatkan hal itu, apalagi mereka. Jadi ayo, jangan cuma di gula kapas sama popcorn aja, belajar yang lain, termasuk komunikasi publik agar berani ngobrol dengan orang meski komunikasinya berbeda,” ungkap Rega yang juga mengajar komunikasi publik ini.

Selain berbisnis, imbuhnya, di sini juga sekaligus sebagai sarana edukasi. Para tamu dapat belajar bahasa isyarat maupun mengenal istilah-istilah lainnya. Bagaimana mengucapkan terima kasih, salam, maupun sebutan tuna rungu yang lebih kepada istilah medis, sementara tuli adalah bahasa sosial yang terasa lebih nyaman dipanggil bagi teman tuli dan juga istilah teman dengar bagi yang normal untuk digunakan sebagai sebutannya.
Dijelaskan Rega, pihaknya akan terus mengembangkan konsep ini ke depannya, hanya saja secara bertahap.

“Sementara tiga teman tuli yang ada ini sudah lebih dari cukup agar bisa fokus. Tapi yang pasti akan tetap up-skill mereka agar tahu potensi-potensi barunya sehingga dapat ekspansi ke lainnya, seperti masak atau bikin roti misalnya,” tutup pria ramah ini.

Konsep “Berbagi Kehangatan” Harmoni Cafe & Resto ini juga diwujudkan dalam kolaborasi dengan berbagai komunitas, salah satunya dengan komunitas Malang Photo Club (MPC), untuk menikmati sarapan menu-menu andalan sambil hunting foto suasana kehangatan yang ditawarkan resto ini.

Pewarta : Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 493 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Bisa Bikin Milkshake Sendiri, Edukasi Coklat Seru di Batu Love Garden

29 April 2026 - 16:49 WIB

Tak Lagi Sekadar Jalur Bromo, Poncokusumo Siap Jadi Destinasi Wisata Mandiri

28 April 2026 - 09:41 WIB

Boutique B21 Malang Luncurkan Sarapan Menu Nusantara All You Can Eat di Akhir Pekan

24 April 2026 - 06:37 WIB

Audiensi dengan Mikutopia, Disnaker Kota Batu: Serap 95 Persen Tenaga Lokal, Komitmen Dukung PAD

13 April 2026 - 20:02 WIB

Live Musik Mikutopia Disambut Antusias, Wisatawan Ikut Berkolaborasi

12 April 2026 - 17:47 WIB

Mikutopia Fasilitasi Musisi dan Disabilitas, Live Musik Jadi Ruang Ekspresi Baru

11 April 2026 - 17:37 WIB

Trending di KULWIS

©Hak Cipta Dilindungi !