BACAMALANG.COM-Dokter gigi bukan hanya tentang profesi, tetapi juga panggilan untuk membantu sesama. Hal inilah yang mendorong drg. Jeremy Kartika Soeryono untuk menekuni dunia kedokteran gigi, sebuah bidang yang sangat dibutuhkan di Indonesia. Setelah menyelesaikan pendidikan, Jeremy menjalani tahapan penting sebelum resmi praktik, yaitu mengikuti program internship dan memperoleh Surat Tanda Registrasi (STR). Program internship dokter gigi sendiri merupakan tahap pemantapan kompetensi sekaligus adaptasi terhadap sistem pelayanan kesehatan di fasilitas seperti rumah sakit dan puskesmas yang dilaksanakan selama 6 bulan.
“Internship sangat penting karena kami dituntut lebih mandiri dalam menangani pasien. Berbeda dengan masa koas yang masih bergantung pada arahan DPJP, saat internship kami harus mampu merencanakan perawatan secara mandiri,” jelas drg. Jeremy, belum lama ini.
Alumnus Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Brawijaya (FKG UB) tersebut memilih menjalani internship di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat, sebuah daerah yang termasuk kategori Daerah Terpencil, Perbatasan, dan Kepulauan (DTPK). Ia mengaku, keputusan ini dilatarbelakangi rasa ingin tahu untuk melihat kondisi kesehatan dan budaya dari suku terasing di Pasangkayu, mencari pengalaman baru, sekaligus memahami kondisi kesehatan masyarakat di daerah terpencil.
Dokter kelahiran Jakarta ini mengungkapkan, dalam menjalani tugas di wilayah tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Keterbatasan fasilitas menjadi salah satu hambatan utama, mulai dari sulitnya akses transportasi, keterbatasan bahan bakar yang harus antri berjam-jam, hingga jaringan komunikasi yang tidak stabil.
“Bahkan, perjalanan menuju lokasi pelayanan seperti posyandu sering kali harus ditempuh hingga satu jam melalui jalan berbatu,” imbuhnya.

Kegiatan drg. Jeremy Kartika Soeryono (paling kanan) di puskesmas, yang juga terlibat dalam kegiatan posyandu serta penanganan pasien gawat darurat secara on-call. (ist)
Dalam kesehariannya, drg. Jeremy bertugas di poli gigi, IGD, hingga membantu bagian CSSD dan rekam medis di rumah sakit. Sementara di puskesmas, ia juga terlibat dalam kegiatan posyandu serta penanganan pasien gawat darurat secara on-call. Menurutnya, salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah saat menangani kasus Ludwig Angina.
“Pengalaman tersebut sangat membuka wawasan saya, karena benar-benar merasakan langsung bagaimana kondisi klinis yang selama ini hanya saya baca di buku,” ungkapnya.
Meski begitu, di balik tantangan ada pula momen menyenangkan selama menjalani internship. Pria berkacamata ini mengaku sangat bersyukur, karena dapat menikmati keindahan alam, berinteraksi dengan masyarakat lokal, hingga merasakan kehidupan sederhana di desa. Namun ia juga menghadapi kendala dalam mengedukasi masyarakat terkait pentingnya kesehatan gigi dan mulut.
“Masih banyak pasien yang belum memiliki kesadaran untuk menjaga kebersihan gigi, bahkan lebih memilih pengobatan alternatif seperti dukun atau tukang gigi. Selain itu, tidak sedikit pula kasus pasien yang datang dalam kondisi sudah parah akibat menunda perawatan,” ungkapnya.

Di tengah kesibukannya, drg. Jeremy Kartika Soeryono masih dapat menikmati keindahan alam, berinteraksi dengan masyarakat lokal, hingga merasakan kehidupan sederhana di desa Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat. (ist)
Pengalaman ini mengubah cara pandang drg. Jeremy terhadap pelayanan kesehatan gigi di Indonesia. Ia menilai bahwa distribusi tenaga medis, fasilitas, serta akses layanan kesehatan di daerah terpencil masih sangat terbatas. Meski begitu, internship juga memberikan dampak positif dalam pengembangan dirinya, terutama dalam hal komunikasi dengan pasien. Ia menjadi lebih percaya diri dalam melakukan anamnesis, menjelaskan diagnosis, serta menyusun rencana perawatan.
Bagi drg. Jeremy, menjadi suatu kewajiban untuk memberikan pesan kepada masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan gigi dan mulut, dengan menerapkan kebiasaan sederhana seperti menyikat gigi dua kali sehari dan rutin memeriksakan diri ke dokter gigi setiap enam bulan sekali.
“Bagi rekan-rekan, khususnya para mahasiswa kedokteran gigi, saya berpesan untuk tetap semangat dan serius dalam menjalani pendidikan. Semua proses yang dijalani selama kuliah akan sangat berguna di dunia kerja. Jangan menyerah, karena semua usaha itu akan terbayar,” tegasnya.
Menutup pesannya, drg. Jeremy menegaskan bahwa profesi dokter gigi memiliki prospek yang luas dan sangat dibutuhkan di Indonesia, terutama di daerah terpencil.
“Saya berharap semakin banyak calon dokter gigi yang berani mengabdi dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” pungkasnya.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































