BACAMALANG.COM – Ramadan 2026 kembali menjadi momentum penting bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Malang Raya. Sejalan dengan tren nasional yang mencatat kenaikan omzet rata-rata 15–20 persen, sejumlah UMKM lokal turut merasakan dampaknya, meski tidak semua produk mengalami lonjakan penjualan.
Didit Rudy, pemilik usaha Cokelat Karakter di Kecamatan Lawang, mengungkapkan penjualan hariannya mencapai rata-rata 15–20 pcs cokelat mika, 5–10 pcs cokelat stik, dan 15–20 pcs permen jeli. Menurutnya, performa penjualan tahun ini relatif stabil dibandingkan tahun lalu.
“Meski bukan produk utama seperti snack atau biskuit, Cokelat Karakter tetap diminati karena keunikannya untuk sajian berbuka maupun Lebaran. Ke depan, saya berencana menambah jumlah toko mitra agar pemasaran lebih luas,” ujarnya.
Di sisi lain, Wijianik, pemilik usaha Akbar Jaya di Jalan Klayatan 1, Kota Malang, mengalami dinamika penjualan yang berbeda. Produk makaroni pedas mengalami penurunan, namun permintaan Sosis Solo dan risol justru meningkat.
“Kami membuat kemasan khusus edisi Lebaran dalam bentuk toples agar lebih menarik. Konsumen banyak memilih Sosis Solo dan risol sebagai pelengkap hidangan Lebaran. Harga sulit dinaikkan karena menyesuaikan daya beli masyarakat menengah ke bawah, tetapi kami tetap memberikan diskon untuk pembelian dalam jumlah besar,” jelasnya.
Ramadan terbukti menjadi momentum krusial bagi UMKM, khususnya di sektor kuliner yang mencatat peningkatan signifikan. Strategi kemasan edisi Lebaran serta pemberian diskon menjadi faktor pendorong utama dalam menarik minat konsumen.
Dengan tren nasional yang menunjukkan kenaikan omzet hingga 15–20 persen, pelaku UMKM di Malang Raya dituntut untuk terus beradaptasi, memperkuat strategi digital, memperluas jaringan mitra, serta menjaga kualitas produk agar peluang Ramadan dapat dimaksimalkan secara optimal.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga





















































