BACAMALANG.COM – Untuk meningkatkan partisipasi ayah dalam pencegahan stunting, program Pengabdian kepada Masyarakat (Pengmas) FISIP Universitas Brawijaya (UB) menggelar workshop dengan tema yang sama, baru-baru ini.
“Kami ingin meningkatkan partisipasi ayah dalam pencegahan stunting, lewat workshop,” tegas Psikolog Departemen Psikologi FISIP UB Ika Adita Silviandari, S.Psi., M.Psi kepada BacaMalang.com, Selasa (19/9/2023).
Gelar workshop dengan tema : Peran Ayah dalam Pencegahan Stunting, diadakan, karena intervensi atau keterlibatan pola asuh orang tua dalam mencegah stunting selama ini lebih banyak melibatkan peran ibu balita dua tahun (BADUTA) dan ibu hamil.
Sementara, partisipasi ayah dalam pengasuhan anak untuk mencegah stunting, masih sangat rendah.
Berdasarkan hasil survei analisa situasi Baduta stunting di Kota Batu pada bulan Februari 2023, menunjukkan bahwa salah satu penyebab anak mengalami stunting ialah ayah Baduta merupakan perokok.
Ayah perokok menyebabkan pendapatan keluarga yang seharusnya bisa untuk membeli kebutuhan protein anak, justru dialokasikan untuk membeli rokok, dan asap rokok ini juga berpengaruh pada kesehatan Baduta.

Intervensi perilaku orang tua khususnya terkait pola asuh dalam pencegahan stunting, tentunya tidak hanya cukup pada ibu saja, namun diperlukan peran ayah.
Keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak, tentunya akan lebih optimal dalam upaya pencegahan stunting pada anak.
Kegiatan workshop ini bertujuan tidak hanya meningkatkan pengetahuan ayah seputar faktor penyebab stunting dan cara pencegahannya.
Tetapi juga peningkatan pengetahuan ayah tentang kesetaraan gender dalam pengasuhan anak, sehingga diharapkan berimbas terhadap peningkatan partisipasi ayah, dalam mengasuh anak untuk mencegah stunting.
Workshop ini diselenggarakan di Resto Bondesa, sebuah usaha tempat makan sekaligus catering yang dikelola ibu-ibu masyarakat desa Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu yang diikuti oleh ayah anak BADUTA yang mengalami stunting, serta perwakilan dari Bidan, PKK dan Kader KB desa Tulungrejo.
Selain workshop, dalam kesempatan tersebut juga dilakukan proses diskusi dalam sebuah Forum Group Discussion (FGD) yang bertujuan untuk mengidentifikasi akar permasalahan stunting di Desa Tulungrejo.
Berdasarkan laporan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2022, angka stunting di Kota Batu mengalami kenaikan sebesar 10,2% dibanding tahun sebelumnya (Kemenkes RI, 2021, 2022).
Kenaikan angka stunting di Kota Batu merupakan kenaikan tertinggi nomor tiga di Jawa Timur, setelah Kabupaten Ngawi, dengan kenaikan angka stunting sebesar 12,3%, disusul Kabupaten Jember sebesar 11% (Kemenkes RI, 2021, 2022).
Kegiatan diskusi difokuskan pada upaya penurunan angka stunting yang sudah dilakukan, baik di level Pemerintah Kota Batu maupun Pemerintah Desa Tulungrejo serta kendala yang dihadapi oleh Bidan, kader KB dan PKK sebagai pihak yang bersentuhan langsung dengan masyarakat selama menangani permasalahan stunting.
“Diharapkan lewat kegiatan ini kami bisa ikut meningkatkan peran ayah dalam pencegahan stunting, sehingga bisa mewujudkan masa depan keluarga Indonesia lebih baik,” terangnya mengakhiri.
Pewarta : Hadi Triswanto
Editor/Publisher : Aan Imam Marzuki




















































