BACAMALANG.COM – Pulihnya pandemi, membuat Universitas Brawijaya (UB) kembali melaksanakan perkuliahan untuk tahun akademik 2022/2023.
Sebelum dimulai, digelar rangkaian agenda seperti Upacara Penerimaan Mahasiswa Baru (maba) pada 16 Agustus, maupun Orientasi Pendidikan-Orientasi Mahasiswa (Ordik-Ormawa) yang semuanya dilaksanakan blended atau secara daring dan luring pada 17-18 Agustus 2022. Sementara ospek atau yang kini disebut dengan Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru atau
PK2MABA juga digelar blended, dan dimulai 19-21 Agustus 2022.
Adanya program ini membuat para pedagang atribut dan perlengkapan ospek kembali menggelar dagangannya, khususnya di seputar wilayah kampus UB di Jalan Veteran Kota Malang.
Seperti diungkapkan Dewiyanti (48) yang mulai berjualan sejak tiga hari lalu.
“Alhamdulillah selama berjualan kali ini masih ada pemasukan kembali meskipun tidak sebanyak tiga hari pertama saat sebelum ada corona,” ujarnya kepada BacaMalang.com, Senin (15/8/2022).
Dewiyanti mengaku tiga tahun terpaksa absen berjualan atribut ospek karena pandemi yang membuat pihak kampus menggelar semua kegiatan mulai penerimaan dan perkuliahan secara daring.
“Harapannya bisa kembali dapat untung, karena mahasiswa UB sangat banyak,” tukas wanita asal Solo, Jawa Tengah ini.

Dagangannya beragam, mulai ID Card, pita warna warni, ikat pinggang hingga baju seragam putih. Barang-barang ini dibanderol mulai Rp. 1.000 hingga Rp. 100.000.
Ia mengaku sudah mendapat informasi terkait benda-benda yang dibutuhkan para maba ini.
“Sebagian besar sudah sesuai kebutuhan, meskipun ada beberapa yang tidak seperti yang diperintahkan panitia,” ujarnya.
Ia hanya berharap kehadiran para maba ini dapat melariskan dagangannya kembali seperti saat sebelum pandemi dahulu.
Kehadiran para penjual ini di satu sisi sangat membantu para maba. Berbeda dengan era tahun 90-an atau di awal tahun 2.000an, dimana maba saat itu benar-benar dibuat pusing dengan perintah panitia.
Seperti diutarakan Aulia, seorang maba asal Palembang yang merasa sangat terbantu dengan adanya para penjual ini.
“Saya yang berasal dari luar Malang tidak merasa kebingungan, karena kebutuhan saya sebagian besar sudah terpenuhi di sini,” ujarnya.
Mahasiswi baru Fakultas Teknologi Pertanian ini juga senang karena barang-barang tersebut harganya relatif terjangkau. (ned)





















































