BACAMALANG.COM – Ada satu fenomena unik dalam seni tradisi saat ini, yakni Bantengan, dimana ‘mberot’ menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh semua kalangan, termasuk para Gen-Z. Tidak sampai di situ, “mberot” atau “trance” ternyata dapat merasuk ke sebuah kafe atau warung kopi.
Hal ini disampaikan Guru Besar Sastra Universitas Negeri Malang (UM) Prof. Djoko Saryono dalam orasi budaya peresmian Kafe Pustaka di Jalan Pekalongan No.1 Kota Malang, Selasa (5/11/2024).
Prof. Djoko memaparkan bahwa kafe dapat menjadi tempat untuk Mberot Kebudayaan, Mberot Gagasan, dan sebagai titik picu agar terus semangat dan bergairah dalam mencari yang terbaik dengan cara masing-masing.
“Kalau pakai istilah inovasi dan invensi jadinya terlalu gagah. Nah yang paling familiar dan kontekstual adalah ‘mberot’ yang dimaknai sebagai kondisi kegilaan atau ketidaksadaran yang melampaui kebiasaan, baik itu tentang pendidikan, kesusastraan dan lainnya,” jelas Prof. Djoko.
Ia menambahkan, bahwa esensi ‘mberot’ adalah ‘trance’ yang melepaskan diri dari kerangkeng dan bingkai-bingkai untuk mendapatkan pilihan.
“Kafe atau warung kopi ini dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk itu,” tegasnya.

Sastrawan Tengsoe Tjahjono saat membacakan puisi dalam Kafe Pustaka Reloaded di Jalan Pekalongan No.1 Kota Malang, Selasa (5/11/2024). (Nedi Putra AW)
Selain Prof. Djoko Saryono, peresmian kembali atau Kafe Pustaka Reloaded ini dihadiri sejumlah tokoh dan pegiat seni, budaya dan sastra, seperti sastrawan Tengsoe Tjahjono yang membacakan puisinya, ada pula pegiat komunitas Pelangi Sastra Malang, Denny Mizhar, serta Wawan Eko Yulianto, penulis dan Dosen Sastra Inggris Universitas Ma Chung.
Acara juga dimeriahkan dengan ‘jamming’ bersama Antok Yunus, Usung Usung Enterprise, Han Farhani, Indra Suherjanto (Ras Band) dan vokalis Pagi Tadi, Ben Lazuardi.
Sebagai informasi, Kafe Pustaka ini sebelumnya beroperasi di lingkungan kampus UM, sejak 9 tahun lalu yang ide awal pembentukannya berasal dari Prof. Djoko Saryono.
Mengusung tagline “Sembari Ngopi Membangun Literasi”, kafe ini pindah lokasi di luar kampus dan berada di kawasan residensial di Jalan Pekalongan.
Kafe ini menjadi saksi bisu hadirnya tokoh-tokoh seni, budaya, politik, akademisi, maupun literasi lainnya lewat ajang diskusi, bedah buku maupun seni teater, antara lain sejarawan Peter Carey, Suciwati hingga Riwanto Tirtosudarmo, intelektual organik yang mendalami bidang demografi politik Indonesia yang pertama.
“Uniknya, kami sekarang lokasinya tepat bersebelahan dengan kediaman pak Riwanto, sayang beliau tidak dapat memenuhi undangan Kafe Pustaka Reloaded karena sedang berada di luar negeri,” ungkap David Ardyanta, pengelola Kafe Pustaka.
David menambahkan, pada prinsipnya Kafe Pustaka tetap dengan visi misi membuka ruang publik, sebagai ruang belajar bersama dengan berbasis komunitas.
“Kami membuka kolaborasi dengan semua komunitas, baik itu dari dalam maupun luar kampus, dengan menyediakan fasilitas secara gratis untuk diskusi, bedah buku dan sebagainya,” tandas David.
Kafe Pustaka ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB.
Pewarta : Nedi Putra AW
Editor: Aan Imam Marzuki




















































