Prof Djoko Saryono: Jadikan Kafe Pustaka Sebagai Tempat 'Mberot' Kebudayaan - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 6 Nov 2024 12:27 WIB ·

Prof Djoko Saryono: Jadikan Kafe Pustaka Sebagai Tempat ‘Mberot’ Kebudayaan


 Guru Besar Sastra Universitas Negeri Malang (UM) Prof. Djoko Saryono (tengah), bersama para pengunjung dalam Kafe Pustaka Reloaded di Jalan Pekalongan No.1 Kota Malang, Selasa (5/11/2024). (Nedi Putra AW) Perbesar

Guru Besar Sastra Universitas Negeri Malang (UM) Prof. Djoko Saryono (tengah), bersama para pengunjung dalam Kafe Pustaka Reloaded di Jalan Pekalongan No.1 Kota Malang, Selasa (5/11/2024). (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Ada satu fenomena unik dalam seni tradisi saat ini, yakni Bantengan, dimana ‘mberot’ menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh semua kalangan, termasuk para Gen-Z. Tidak sampai di situ, “mberot” atau “trance” ternyata dapat merasuk ke sebuah kafe atau warung kopi.

Hal ini disampaikan Guru Besar Sastra Universitas Negeri Malang (UM) Prof. Djoko Saryono dalam orasi budaya peresmian Kafe Pustaka di Jalan Pekalongan No.1 Kota Malang, Selasa (5/11/2024).

Prof. Djoko memaparkan bahwa kafe dapat menjadi tempat untuk Mberot Kebudayaan, Mberot Gagasan, dan sebagai titik picu agar terus semangat dan bergairah dalam mencari yang terbaik dengan cara masing-masing.

“Kalau pakai istilah inovasi dan invensi jadinya terlalu gagah. Nah yang paling familiar dan kontekstual adalah ‘mberot’ yang dimaknai sebagai kondisi kegilaan atau ketidaksadaran yang melampaui kebiasaan, baik itu tentang pendidikan, kesusastraan dan lainnya,” jelas Prof. Djoko.

Ia menambahkan, bahwa esensi ‘mberot’ adalah ‘trance’ yang melepaskan diri dari kerangkeng dan bingkai-bingkai untuk mendapatkan pilihan.

“Kafe atau warung kopi ini dapat dimanfaatkan sebagai ruang untuk itu,” tegasnya.

Sastrawan Tengsoe Tjahjono saat membacakan puisi dalam Kafe Pustaka Reloaded di Jalan Pekalongan No.1 Kota Malang, Selasa (5/11/2024). (Nedi Putra AW)

Selain Prof. Djoko Saryono, peresmian kembali atau Kafe Pustaka Reloaded ini dihadiri sejumlah tokoh dan pegiat seni, budaya dan sastra, seperti sastrawan Tengsoe Tjahjono yang membacakan puisinya, ada pula pegiat komunitas Pelangi Sastra Malang, Denny Mizhar, serta Wawan Eko Yulianto, penulis dan Dosen Sastra Inggris Universitas Ma Chung.

Acara juga dimeriahkan dengan ‘jamming’ bersama Antok Yunus, Usung Usung Enterprise, Han Farhani, Indra Suherjanto (Ras Band) dan vokalis Pagi Tadi, Ben Lazuardi.

Sebagai informasi, Kafe Pustaka ini sebelumnya beroperasi di lingkungan kampus UM, sejak 9 tahun lalu yang ide awal pembentukannya berasal dari Prof. Djoko Saryono.

Mengusung tagline “Sembari Ngopi Membangun Literasi”, kafe ini pindah lokasi di luar kampus dan berada di kawasan residensial di Jalan Pekalongan.

Kafe ini menjadi saksi bisu hadirnya tokoh-tokoh seni, budaya, politik, akademisi, maupun literasi lainnya lewat ajang diskusi, bedah buku maupun seni teater, antara lain sejarawan Peter Carey, Suciwati hingga Riwanto Tirtosudarmo, intelektual organik yang mendalami bidang demografi politik Indonesia yang pertama.

“Uniknya, kami sekarang lokasinya tepat bersebelahan dengan kediaman pak Riwanto, sayang beliau tidak dapat memenuhi undangan Kafe Pustaka Reloaded karena sedang berada di luar negeri,” ungkap David Ardyanta, pengelola Kafe Pustaka.

David menambahkan, pada prinsipnya Kafe Pustaka tetap dengan visi misi membuka ruang publik, sebagai ruang belajar bersama dengan berbasis komunitas.

“Kami membuka kolaborasi dengan semua komunitas, baik itu dari dalam maupun luar kampus, dengan menyediakan fasilitas secara gratis untuk diskusi, bedah buku dan sebagainya,” tandas David.

Kafe Pustaka ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 22.00 WIB.

Pewarta : Nedi Putra AW

Editor: Aan Imam Marzuki

Artikel ini telah dibaca 208 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

DPRD Kabupaten Malang Dorong Perlindungan Balita Korban Pencabulan Dosen

7 April 2026 - 06:12 WIB

Pembatasan Medsos Anak, Cegah Mereka Jadi Pelaku Kejahatan di Malang

6 April 2026 - 19:46 WIB

KAI Daop 8 Layani 191 Ribu Penumpang di Malang Raya Selama Lebaran

6 April 2026 - 19:42 WIB

Dugaan Korupsi Pasar Among Tani Menguat, Lima ASN Pemkot Batu Diperiksa Kejari

6 April 2026 - 19:32 WIB

Pemkot Malang Kebut Imunisasi Campak, Wali Kota Turun Langsung Pastikan Target Tercapai

6 April 2026 - 17:56 WIB

Amarah Brawijaya Tolak Nota Kesepahaman Laga Persebaya vs Arema FC di Kanjuruhan

6 April 2026 - 06:01 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !