Oleh : Lely Susiyani
اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِي هَدَانَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْلَا أَنْ هَدَانَا اللّٰهُ ، اَشْهَدُ اَنْ لۤا اِلٰهَ اِلَّا اللهُ وَاحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، وَ اَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ، لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ.
Alhamdulillah, Allah telah memberi kekuatan lahir dan batin kepada kita, sehingga puasa hari pertama telah dapat kita laksanakan dengan baik dan sempurna, semoga menjadi ibadah puasa yang diridhai Allah SWT. Dengan izin Allah pula hari ini kita sedang melaksanakan puasa dengan baik, semoga rangkaian iabadah puasa kita diterima Allah sebagai amal shalih. Aamiin.
Dalam kesempatan kultum di bulan ramadhan ini, akan membahas makna tarbiyah di bulan ramadhan.
Puasa sebagai system ibadah dalam Islam, dalam pelaksaksanaannya memerlukan pemahaman tentang kaifiyat (tata cara) sesuai dengan petunjuk syari’at, baik syarat, rukun, hukum ibadah. Bahkan lebih dari itu, puasa tidak sekedar dilaksanakan, namun harus dirasakan dan dijiwai dengan segenap kemampuan hati dan pikiran.
Puasa mengandung makna universal bagi kehidupan, mencakup segala aspek yang dibutuhkan manusia, mengandung pesan moral untuk merubah perilaku manusia menjadi lebih baik, mengandung filsafat hidup guna mengantarkan manusia memahami makna terdalam dan hakekat hidup.
Oleh karena itu puasa harus dipahami secara benar, proporsioanl dan konprehensip, sehingga terhindar dari sekedar puasa syari’at, namun dapat mencapai puasa hakekat.
Para Pemirsa yang dirahmati Allah SWT mengingat itu pula secara khusus Allah SWT memberi petunjuk terkait Tarbiyah khusus di Bulan Ramadhan yang tercantum dalam Al-Baqarah [2]:185
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ ٱلشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ ٱللَّهُ بِكُمُ ٱلْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ ٱلْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
Artinya: (Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.
Pemirsa yang di Rahmati Allah
Allah sebagai Rabbun, yang mengandung arti Dzat yang Maha Kuasa dalam mencipta, mengatur, memelihara dan mendidik seluruh makhluq-Nya. Sebagai Pendidik, Allah menetapkan system pendidikan melalui berbagai media ibadah yang tidak saja sebagai sarana bertaqarrub kepada Allah, namun juga mengandung system pendidikan seperti ibadah puasa.
Adapun beberapa nilai pendidikan yang dikandung dalam ibadah puasa adalah:
- Tarbiyah Ilahiyah
Bahwa puasa merupakan system pendidikan Tuhan, untuk membentuk manusia menjadi “Khairul bariyyah” yakni sebaik-baik makhluq, maka orang yang tidak mau mengikuti pendidikan yang di selenggarakan oleh Allah, akan menjadi “Syarrul Bariyyah” yakni sejelek-jelek manusia. Atau dapat dipahami bahwa puasa merupakan latihan untuk mengasah sifat Rububiyah yakni sifat ke-Tuhanan, seperti kasih sayang, pema’af, pemberi, penolong, penyantun, bijaksana, dll.
- Tarbiyatul Iradah
Bahwa puasa merupakan pendidikan kehendak, kemauan, keinginan. Manusia memiliki banyak kemauan atau keinginan yang tidak terhingga, sehingga apabila tidak dibimbing dan diarahkan kepada kemauan yang baik, maka keinginan manusia akan cenderung liar dan merugikan kehidupannya, maka melalui ibadah puasa seluruh keinginan tersebut dibina dengan baik melalui puasa ramadhan.
Dalam tarbiyatul iradah, tidak saja mengendalikan keinginan yang jelek, namun keinginan naluriyah yang baik sekalipun dalam waktu tertentu harus di kendalikan untuk mentaati segala larangan Allah, seperti makan, minum, berhubungan dengan suami istri.
- Tarbiyah Sifatiyah
Bahwa puasa merupakan pendidikan efektif terhadap sifat-sifat manusia, karena dirasakan langsung oleh orang-orang yang berpuasa, sehingga proses pengendalian sifat-sifat yang jelek akan berjalan dengan baik.
Menurut Imam Ghazali dalam bukunya bimbingan mencapai tingkatan mukmin mengatakan bahwa manusia memiliki empat macam sifat, yakni:
- Sifat Rububiyah, yakni sifat ketuhanan, yang serba baik, seperti kasih sayang, adil dan bijaksana, pema’af, suka menolong dll.
- Sifat Syaithaniyah, yakni sifat syetan yang senantiasa menghalang-halangi manusia berbuat baik dan mengajak manusia berbuat maksiyat.
- Sifat Bahimiyah, yakni sifat kebinatangan, yang lebih mengedepankan pemenuhan kebutuhan jasmaniyah dan nafsunya.
- Sifat Sabu’iyah, yakni sifat sadis, kejam, biadab, cenderung melakukan eksploitasi, pemerasan dan kedzaliman.
4. Tarbiyah Nafsiyah
Tabiyah Nafsiyah, yakni puasa merupakan pendidikan nafsu manusia. Menurut petunjuk Al-Qur’an, manusia memiliki tiga nafsu, yaitu:
- Nafsu Muthmainnah: nafsu yang tenang, baik, senantiasa mendorong kepada kebaikan, sehingga kelak akan mendapat panggilan terhormat dari Allah:
- Law-wamah: nafsu yang menyesali, serakah, rakus, senantiasa mendorong kepada keinginan yang melampaui batas
- Amara bissu’: nafsu yang senantiasa mendorong kepada kebebasan dalam melakukan maksiyat dan kedurhakaan
Demikian makna tarbiyah di bulan ramadhan, sangat ideal dan universal dalam mendidik orang yang beriman yang taat melaksanakan ibadah puasa, untuk menghasilkan lulusan hamba terbaik yakni Muttaqin.
Jika manusia diciptakan oleh Allah, namun tidak mau di didik oleh Allah, lantas mau di didik oleh siapa ?. Apakah ada di dunia ini pendidik yang lebih baik dari Allah ?
Jika manusia sebagai hamba Allah, namun tidak mau mengabdi kepada Allah, lantas jadi hambanya siapa ?. Apa ada di dunia ini yang patut disembah selain Allah ?
Jika manusia makhluq yang lemah, namun tidak mau memohon kekuatan kepada Allah, lantas mohon kekuatan kepada siapa ? Apa ada di dunia ini yang lebih kuat dari Allah ?
Jika manusia pasti mati, namun terus maksiyat, tidak pernah taat, lantas kalo mati seperti apa ?. Apa ada ahli masiyat akhir hayatnya mencapai husnul Khatimah ?
Jika manusia pasti ke akhirat, namun tidak yakin adanya kehidupan di akhirat, lantas kalau mati ke alam apa ? Emangnya ada alam lain selain alam akhirat ?.
Jika di akhirat setiap manusia akan menghadap Allah untuk dihisab amalnya selama hidup di dunia, namun mendustakaan hari pertemuanya dengan Allah, lantas di akhirat menghadap siapa ? dihisab oleh siapa ?
Rangkain pertanyaan di atas, memerlukan jawaban yang jujur agar menjadi motivasi melakukan transformasi nilai seperti ulat yang bertapa dalam kepompong kemudian berubah menjadi kupu-kupu yang cantik dan menawa.
Wallahul Musta’aan.
*) Penulis : Lely Susiyani S.Pd, alumni IKIP Budi Utomo Malang dan Pascasarjana STAIMA Al Hikam Malang. Kini bekerja di ASN Kemenag Kabupaten Malang sebagai Guru MI Miftahul Huda Karangploso Kabupaten Malang.
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi penanggungjawab penulis.


























































