BACAMALANG.COM – Suasana di Museum Pendidikan di Tlogowaru Kota Malang tampak meriah, Senin (13/11/2023). Pasalnya museum yang berada di bawah pengelolaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang ini dipenuhi para siswa SD yang sedang bermain sejumlah permainan tradisional. Mereka dengan penuh semangat beramai-ramai bermain egrang, terompah panjang, lompat tali, dakon, dagongan serta bola bekel.
Salah satu yang paling meriah dan menarik perhatian adalah dagongan, yang kali ini dilombakan antar sekolah. Dagongan merupakan lomba unjuk kekuatan saling dorong sebatang bambu dari dua tim yang masing-masing terdiri dari 5 orang. Antusiasme para siswa yang luar biasa membuat panitia harus bekerja keras untuk mengatur dan menginfokan peraturan lomba, karena dagongan pada prinsipnya seperti tarik tambang, namun justru di sini para peserta harus saling dorong.
Lomba berlangsung meriah karena para peserta mendapat dukungan dari suporter dari sekolah masing-masing. Mereka sampai jatuh bangun berusaha memenangkan pertandingan yang dibagi dalam kelompok putra dan putri ini. Suasananya sangat meriah mirip lomba tujuhbelasan, bahkan emosional, karena ada peserta yang tak kuasa menahan tangis karena harus menelan kekalahan. Meski demikian panitia tetap berusaha mendinginkan suasana, dimana masing-masing tim harus berjabat tangan usai berlaga.

Anak-anak bermain bola bekel di dalam gedung Museum Pendidikan di Tlogowaru Kota Malang, Senin (13/11/2023). (Nedi Putra AW)
Sinta, salah satu peserta lomba dagongan ini mengaku sangat senang dapat bermain meski harus jatuh bangun. “Saya senang, ini baru pertama kali tahu tentang permainan ini,” ungkap siswa kelas 6 SD Mergosono 2 ini.
Salah satu pembimbing permainan Ahmad Winarto menerangkkan, filosofi dari acara ini adalah membuat anak-anak menjadi pribadi yang tidak individualis, khususnya di era penggunaan gadget seperti sekarang ini. “Pada dasarnya permainan ini adalah olahraga yang menyenangkan, karena dapat digelar secara murah meriah, baik dari tempat maupun dari segi bahan dan peralatan. Selain itu juga untuk memupuk jiwa sportif, karena ada yang menang dan kalah, serta sebagai sarana bertemu dengan teman-teman baru,” paparnya di tengah acara.
Pegiat budaya dari Paguyuban Sinau Budoyo Rampal Celaket ini menegaskan, permainan tradisional yang melibatkan banyak pemain ini juga sebagai upaya memupuk jiwa sportif. “Sportivitas ini penting, karena anak-anak ini pada 15-20 tahun mendatang akan menjadi pemimpin republik dimana pun levelnya, sehingga mereka sudah punya dasar sportif yang mengedepankan legowo dan kejujuran,” tandasnya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Kota Malang, Yuli Handayani S.E., M.M ikut meramaikan permainan terompah panjang bersama anak-anak, Senin (13/11/2023). (Nedi Putra AW)
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan Kota Malang, Yuli Handayani S.E., M.M mengatakan, acara bertajuk Belajar Bersama di Museum Pendidikan ini dihelat selama dua hari, mulai Senin (13/11/2023) dan Selasa (14/11/2023). “Tujuannya untuk meramaikan Museum Pendidikan yang ada di kawasan timur Kota Malang, sehingga setelah bermain meeka dapat melihat koleksi di dalam museum,” ungkapnya saat ditemui BacaMalang.com di sela kegiatan.
Yuli menjelaskan, acara ini konsepnya adalah belajar lewat bermain bersama, khususnya dengan permainan tradisional yang mungkin sudah ditinggalkan di era gadget seperti saat ini. Sejumlah permainan, imbuhnya, seperti dagongan, dakon, bekel, egrang, lompat tali dan terompah panjang kembali dikenalkan kepada anak-anak agar mereka dapat berinteraksi dengan anak lainnya. “Selain itu permainan yang disajikan kali ini menunjukkan bagaimana mereka dapat bekerjasama sebagai tim dengan permainan warisan nenek moyang sebagai pendidikan karakter,” tegasnya.
Sementara penanggung jawab kegiatan Harimet Sulistiono menambahkan, kegiatan ini merupakan agenda rutin tahunan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang. Dijelaskan Harimet, lomba yang diadakan bukan untuk menampilkan pemenang-pemenang, namun lebih kepada meramaikan suasana dan menambah semangat anak-anak. “Acara ini diikuti 200 peserta dari 8 SD yang ada di Kota Malang, dan akan bergilir untuk sekolah-sekolah lainnya,” pungkas pria yang juga Analis Penetapan Cagar Budaya dan Koleksi Museum ini.
Pewarta : Nedi Putra AW
Editor / Publisher : Rahmat Mashudi Prayoga




















































