BACAMALANG.COM – Nama Ria Enes sangat populer di era tahun 1990an. Pendongeng yang selalu tampil dengan boneka Suzan ini sangat dikenal karena kemampuan ventriklokuis, atau berbicara dengan suara perut, yang membuatnya seolah-olah berdialog dengan Suzan, kadang-kadang dengan dialek Jawa Timuran yang kental.
Ria hadir dalam acara Belajar Bersama di kompleks Museum Pendidikan Kota Malang di Kelurahan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang, Rabu (20/7/2022). Acara ini sekaligus upaya mengenalkan kembali Museum Pendidikan yang ada di tempat itu.
Pemilik nama asli Wiwiek Suryaningsih ini mengaku tetap bersyukur masih dapat eksis di dunia mendongeng dan dapat tetap menghibur anak-anak.
“Tradisi bertutur itu ada di lapisan masyarakat mana saja, yang papa prinsipnya tak akan tergerus perkembangan jaman,” ungkapnya di sela kegiatan.
Ria menambahkan, mendongeng adalah salah satu bentuk penguatan literasi yang harus dipertahankan.
“Anak-anak harus tetap diberi pendidikan budi pekerti, kejujuran, keberanian dengan cara yang menyenangkan dan menghibur,” papar ibu tiga anak ini.
Menurut Ria, lewat mendongeng banyak kisah dari buku yang bisa disampaikan kepada anak-anak.
“Di usia dini, anak-anak harus mendapatkan yang utuh, bukan remah-remah, dan itu semua berasal dari membaca buku,” tegasnya.

Ia juga bersyukur saat ini masih banyak generasi muda yang menggiatkan literasi membaca meski dengan berbagai cara.
Seperti di dunia hiburan, imbuhnya, ada stand up comedy, yang tentunya sebelum bercerita harus membaca buku atau referensi dahulu, sehingga mau tidak mau membuat orang harus membaca.
“Mendongeng tetap harus dibudayakan bagi anak-anak, karena mereka harus diberi nilai-nilai budi pekerti secara utuh yang kelak akan selalu teringat sepanjang hidupnya,” pungkasnya.
Pada acara tersebut, selain mendongeng, Ria bersama Suzan juga mengajak sedikitnya 300 anak-anak dari berbagai sekolah di tingkat PAUD menyanyi dan berfoto bersama.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang Suwarjana mengatakan, acara ini adalah salah satu upaya yang sedang digiatkan untuk membuat Museum Pendidikan ini dikenal di masyarakat.
“Memang saat ini pengunjungnya masih minim, sehingga ada wacana juga untuk mewajibkan siswa mengunjungi Museum Pendidikan ini,” ungkapnya.
Selain itu, Suwarjana juga mengaku bahwa koleksi yang ada saat ini juga masih di bawah standar. Oleh karena itu ia akan bekerjasama dengan perguruan tinggi untuk pengembangan museum ini.
“Kami juga berencana akan melakukan studi banding di museum pendidikan yang ada di Kota Bandung, sehingga wawasan semakin terbuka, khususnya untuk menambah koleksi. Nantinya pengunjung yang datang tidak hanya melihat mesin ketik jadul saja, dan tentunya ke depan arahnya juga ada digitalisasi, agar anak-anak semakin mencintai museum,” ujarnya.
“Jika kunjungan meningkat, maka pengelola museum juga semakin bersemangat,” tandasnya.
Museum Pendidikan ini dikelola Dinas Pendidikan Kota Malang yang mempunyai koleksi beragam alat pendukung pendidikan, seni maupun budaya Indonesia. Museum ini didirikan di era pemerintahan Wali Kota Peni Suparto pada tahun 2010 lalu di Kawasan Tlogowaru, Kecamatan Kedungkandang Kota Malang.
Sementara ini koleksinya berupa sejumlah alat-alat penunjang pendidikan yang mengingatkan pada masa-masa tahun 1980-an. Ada papan tulis, bangku sekolah, mesin ketik serta sepeda yang kerap dipakai para guru di masa lalu.
Ada pula beberapa permainan lawas seperti dakon, serta untaian karet gelang untuk lompat tali serta patung wajah para pahlawan revolusi yang terbuat dari tanah liat.
Kabid Kebudayaan, Dian Kuntari menambahkan, Ria Enes sengaja dihadirkan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Malang juga untuk mengenalkan Museum Pendidikan di Kota Malang.
“Sementara ini pengenalan ini kami gelar dengan segmen yang berbeda secara bertahap, yang sekarang bagi siswa PAUD, berikutnya siswa pendidikan dasar yakni SD dan SMP,” pungkasnya. (ned).




















































