UB Kukuhkan Empat Profesor Lintas Ilmu, Ulas Masalah Hukum, Banjir, Pemerintahan hingga Mayonnaise Rendah Lemak - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 26 Nov 2024 22:07 WIB ·

UB Kukuhkan Empat Profesor Lintas Ilmu, Ulas Masalah Hukum, Banjir, Pemerintahan hingga Mayonnaise Rendah Lemak


 Dari kiri-Profesor Afifah Kusumadara, SH. LL.M. SJD (FH); Profesor Ir. Agus Suharyanto, M.Eng., Ph.D; Prof. Dr. Herly Evanuarini, S.Pt., MP. Prof Dr. Drs. Irwan Noor, MA yang akan dikmukuhkan menjadi Guru Besar Universitas Brawijaya di gedung Samantha Krida, Kamis, (28/11/2024). (Nedi Putra AW) Perbesar

Dari kiri-Profesor Afifah Kusumadara, SH. LL.M. SJD (FH); Profesor Ir. Agus Suharyanto, M.Eng., Ph.D; Prof. Dr. Herly Evanuarini, S.Pt., MP. Prof Dr. Drs. Irwan Noor, MA yang akan dikmukuhkan menjadi Guru Besar Universitas Brawijaya di gedung Samantha Krida, Kamis, (28/11/2024). (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Universitas Brawijaya kembali mengukuhkan empat profesor dari Fakultas Hukum, Fakultas Teknik, Fakultas Peternakan, dan Fakultas Ilmu Administrasi, di gedung Samantha Krida, Kamis, (28/11/2024).

Empat professor yang dikukuhkan tersebut adalah Profesor Afifah Kusumadara, SH. LL.M. SJD (FH) yang merupakan professor aktif ke 210, Profesor Ir. Agus Suharyanto, M.Eng., Ph.D. professor ke 211; Prof. Dr. Herly Evanuarini, S.Pt., MP., merupakan professor aktif ke 213, dan Dr. Irwan Noor, MA yang merupakan professor aktif ke 214 di UB.

Dalam orasinya, Prof. Afifah Kusumadara, SH. LL.M. SJD mengemukakan Model P3P (Pilihan Pengadilan Para Pihak) untuk Selesaikan Sengketa berdasar Pilihan Pengadilan.

Model P3Pini membahas “penyelesaian sengketa perdata internasional berdasarkan pilihan pengadilan para pihak”.

“Model penyelesaian sengketa ini adalah model yang sesuai dengan prinsip kebebasan berkontrak yang memberikan hak kepada para pihak dalam kontrak untuk membuat ketentuan sendiri bagi mereka, termasuk ketentuan penyelesaian sengketanya,” ujar Prof. Afifah dalam konrerensi pers di UB, Selasa (26/11/2024).

Menurut Profesor aktif ke 9 di Fakultas Hukum ini, P3P termasuk baru karena hukum Indonesia tidak mengatur tentang kewenangan pengadilan asing yang sering dipilih para pihak dalam kontrak internasional.

“Hal ini tidak diatur dalam peraturan perundangan Indonesia, karena Kitab Undang-undang Hukum Acara Perdata lebih mengutamakan prinsip penggugat menggugat di tempat tergugat, daripada di pengadilan yang dipilih para pihak. Oleh karena itu, model yang ditawarkan di sini akan dapat menciptakan kepastian hukum dan memberikan penyelesaian sengketa yang efisien untuk menarik investor asing serta menaikkan peringkat Business Ready Indonesia,” tegasnya.

Namun di sisi lain, imbuh dia, model ini mungkin dapat menimbulkan keresahan pada para hakim Indonesia yang ingin mempertahankan kekuasaan kehakiman yang diberikan oleh Konstitusi.

Sedangkan Perubahan iklim (climate change) yang menjadi fenomena yang terus terjadi di muka bumi ini menjadi perhatian Profesor Ir. Agus Suharyanto, M.Eng., Ph.D. dengan Model Hietograf-Hidrograf Banjir Berdasarkan Perubahan Iklim.

Dikatakan Profesor aktif ke 29 di Fakultas Teknik ini, salah satu yang paling dirasakan ialah pemanasan global yang akhir-akhir ini berubah menjadi pendidihan global (global boiling).

“Perubahan suhu permukaan bumi ini diakibatkan oleh penurunan vegetasi yang menutupi permukaan bumi. Perubahan suhu akan mempengaruhi perubahan karakteristik hujan yang terjadi. Perubahan karakeristik hujan akan mempengaruhi karakteristik aliran air pemukaan,” ungkapnya.

Prof. Agus menjelaskan, model Hietograf-Hidrograf Banjir ini dibuat agar perubahan suhu permukaan lahan dapat dievaluasi dengan cepat, akurat, dan murah dengan citra satelit penginderaan jauh.

“Dengan demikian keunggulan dari model yang dibuat adalah dapat mengestimasi perubahan debit aliran air permukaan akibat hujan yang dipengaruhi oleh kenaikan suhu permukaan lahan atau dapat dikatakan akibat dari perubahan iklim dengan cepat, akurat, dan murah. Namun kelemahan dari model yang telah dibangun ialah data citra satelit tergantung dari tutupan awan yang ada, sehingga gangguan tutupan awan sangat mempengaruhi ketelitian analisis suhu permukaan lahan,” tandasnya.

Sementara Prof. Dr. Drs. Irwan Noor, M.A. sebagai Profesor aktif ke 12 di Fakultas Ilmu Administrasi melihat kearifan lokal dan spiritual yang terpadu pada kerangka konseptual WISH (Wisdom, Innovation, Sustainability, Harmony) dipandang tepat sebagai landasan moral dan etika pada pengambilan keputusan pemerintahan lokal.

Ia menganggap nilai lokal ini lebih berkelanjutan dibanding jika mengandalkan solusi yang hanya bersifat universal dan berbasis teknologi semata.

“WISH Model (Wisdom, Innovation, Sustainability, Harmony) adalah kerangka konseptual inovatif yang dikembangkan sebagai respons terhadap kebutuhan sistem pemerintahan. Model ini mengakar pada nilai-nilai lokal namun tetap adaptif terhadap modernisasi dan menawarkan pendekatan sistematis untuk mengintegrasikan kearifan lokal serta spiritualitas dengan inovasi teknologi,” paparnya.

Menurut Prof. Irwan Noor, proses ini melalui empat tahapan yang meliputi identifikasi kearifan lokal dan potensi spiritual, adaptasi teknologi berbasis nilai setempat, sinkronisasi kebijakan lintas sektor, dan implementasi yang harmonis.

Peran spiritualitas dalam WISH Model sangat krusial sebagai landasan moral dan etika dalam pengambilan keputusan, menyeimbangkan inovasi teknologi dengan prinsip spiritual yang mendalam.

“Pendekatan ini memastikan kebijakan yang dihasilkan efisien, berkelanjutan, dan berlandaskan nilai luhur dalam masyarakat. Keunggulannya terletak pada pendekatan holistik yang mendorong keselarasan inovasi berkelanjutan dengan kearifan lokal, meskipun kelemahannya mencakup teknologi dan adaptasi daerah, resistensi budaya, pengukuran dampak, kepemimpinan, dan kolaborasi,” ucapnya.

Prof Irwan Noor berharap model ini menjadi landasan bagi tata kelola daerah yang inovatif, harmonis, dan menghargai keberagaman budaya khusunya di Malang Raya.

“Namun sayang konsep ini masih belum diterapkan di Malang, ibarat kata pepatah, seorang dukun lebih terkenal di luar kampungnya,” ucap Guru Besar di bidang Inovasi Pemerintahan Lokal ini.

Dunia kuliner juga menjadi perhatian para guru besar ini. Seperti Prof. Dr. Herly Evanuarini, S.Pt., MP yang mengajukan Mayonnaise kandungan lemak rendah, emulsi stabil, sebagai pangan fungsional dengan SILOFA.

Kajian ini menjadi sangat menarik, karena selain menyangkut kesehatan, juga mestimulan pergerakan perekonomian rakyat dan sirkular.

“Inovasi teknologi emulsi pangan penting dilakukan sebagai upaya memenuhi permintaan pangan sehat. Silofa sebagai teknologi emulsi low fat mayonnaise berbasis penggunaan limbah agroindustri sebagai penstabil alami, memberikan solusi dalam menciptakan produk olahan hasil ternak fungsional dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal,” terang Prof. Herly.

Dikatakan Profesor dalam Bidang Ilmu Teknologi Pengolahan Hasil Ternak pada Fakultas Peternakan ini, tantangan teknologi emulsi saat ini adalah untuk menghasilkan mayonnaise rendah lemak yang memiliki karakteristik fisikokimia yang stabil, kualitas sensori yang baik, dan menyehatkan.

“Keunggulan dari teknologi emulsi ini menghasilkan produk mayonnaise yang mempunyai kandungan lemak rendah, emulsi stabil, dan berperan sebagai pangan fungsional, namun kelemahan teknologi emulsi ini adalah diperlukan reformulasi yang tepat agar produk memiliki karakteristik seperti produk full fat mayonnaise,” urainya.

Inovasi produk “Silofa” mayonnaise ini, imbuh Prof. Herly dapat mendukung upaya meningkatkan kesehatan masyarakat dengan memberikan pilihan pangan yang sehat dan bergizi.

“Selain paten, kami juga telah memberi pelatihan kepada komunitas-komuntas dan UMKM, namun masih belum ke arah industri massal karena masih perlu banyak perbaikan lagi,” ungkapnya.

Prof. Herly berharap teknologi ini dapat berkontribusi menjadi solusi inovasi produk pangan hasil ternak melalui pengelolaan limbah agroindustri berkelanjutan yang menguntungkan secara ekonomi maupun lingkungan.

Pewarta : Nedi Putra AW

Editor: Aan Imam Marzuki

Artikel ini telah dibaca 247 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Dugaan Korupsi Pasar Induk Among Tani Masuki Babak Baru, Sejumlah Nama Pejabat Mulai Disebut

19 Mei 2026 - 22:04 WIB

Modus Pura-Pura Belanja, Pemuda Tulungagung Curi 3 HP di Kepanjen dan Ditangkap Polisi

19 Mei 2026 - 16:11 WIB

Keluarga Korban Kanjuruhan Ungkap Intimidasi dan Teror Saat Perjuangkan Keadilan

19 Mei 2026 - 15:32 WIB

SMP PGRI 1 Bululawang Beri Sepeda untuk Siswa Kurang Mampu, Demi Cegah Putus Sekolah

19 Mei 2026 - 14:03 WIB

Damkarmat Kota Batu Latih Penanggulangan Kebakaran di Mikutopia, Wisatawan Merasa Aman

19 Mei 2026 - 13:15 WIB

Sidang Pembunuhan “Wanita Michat” di PN Malang, JPU Hadirkan Tiga Saksi

19 Mei 2026 - 12:47 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !