BACAMALANG.COM – Kawasan lereng gunung Arjuno dikenal sebagai salah satu penghasil kopi. Salah satunya yang berlokasi di daerah Pasuruan, Jawa Timur. Para petani di sini tergabung dalam kelompok tani Sumadi atau Sumber Makmur Abadi, yang mengembangkan budidaya kopi dengan konsep agroforestri, dimana bukan hanya dapat memenuhi pasar lokal namun juga internasional.
Komoditi ini ditanam di lokasi yang berada di ketinggian sekitar 1.500 mdpl, tepatnya di di Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Pasuruan. Kopi di lereng Arjuno ternyata sudah diminati beberapa negara, salah satunya Korea Selatan.
Ketua Kelompok Tani Sumadi, Nurhidayat menuturkan, kopi ini dibudidayakan di lahan seluas 54 hektar oleh 54 petani secara agroforestri. “Konsep ini merupakan kombinasi tanaman perkebunan, tanaman hutan dan tanaman pertanian,” ungkapnya, Jumat (13/12/2024).
Ditambahkan Nurhidayat, sebagai UMKM, pihaknya sangat terbantu dengan adanya fasilitas green house, yang merupakan hasil binaan Bank Indonesia (BI) Malang sejak tahun 2018. Salah satu manfaatnya adalah membuat produksi kopinya semakin berkualitas dan dapat menembus pasar internasional. “Pasar internasional meminta kopi spesial taste yang ‘single origin’, yakni prosesnya mampu menjaga konsistensi rasa kopi. Sarana green house ini membuat proses produksi bisa full wash 36 jam, sehingga kami mampu memenuhi pasar internasional,” urainya.

Salah seorang pengunjung menunjukkan biji kopi arabica Kelompok Tani Sumadi di Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Pasuruan, Jumat (13/12/2024). (Nedi Putra AW)
Selain itu, suhu udara yang berkisar 18 sampai 23 derajat celcius di kawasan ini mendukung untuk pemanfaatan stabilisasi pengeringan biji kopi sesuai standar. Citarasa kopinya sendiri, imbuh dia, cenderung soft, lembut, dan ‘creamy’, dan ada ‘fruity’ juga, yang membuat produknya tersebut disukai. “Kopi arabica ini kami hasilkan dengan serangkaian proses dan pengeringan yang stabil, salah satunya yang diminati adalah ‘special taste’, untuk dikirim ke Korea Selatan tersebut, ” jelas Nurhidayat.
Rata-rata, tambahnya, Korea Selatan dalam sekali beli bisa mengambil 1 ton dengan harga Rp150 ribu per kilogramnya. Dikatakan pria ramah ini, selain Korea Selatan yang paling serius, pasarnya juga diminati sejumlah negara seperti Perancis, Swiss, dan China. “Kalau dari Korea, mereka datang langsung ke sini, lihat prosesnya dan membuat bersama standarisasinya,” jelas dia
Nurhidayat memaparkan, dalam satu hektar, terdapat 2.000 pohon kopi dengan usia per pohon 4 tahun,yang menghasilkan sebanyak 20 kilogram kopi. Ia menegaskan, bahwa produksinya saat ini bisa mencapai 12 ton per tahun, berkat green house tersebut. “Padahal sebelumnya untuk kopi spesial taste ini hanya mampu berproduksi 1 ton per tahun saja,” tukasnya.
Ia merasa pembinaan oleh Bank Indonesia Malang ini banyak berdampak. Seperti warga yang setempat yang saat ini dapat dikatakan tidak ada yang menganggur, karena bekerja sebagai petani dan penghasil kopi. Secara ekonomi, lanjut dia, adalah terkait hasil produksi yang cukup siginifikan. “Jadi dalam 1 hektar, omzet petani di sini bisa sampai Rp 200 juta, dengan Rp 50 juta untuk operasional di masa tunggu setahun,” tuturnya.
Ia merasa pihaknya banyak menerima manfaat sebagai UMKM binaan Bank Indonesia Malang
“Sebelumnya para petani di sini hanya memiliki beberapa pohon kopi saja, sehingga penghasilannya pun minim. Konsep agroforestri yang dikembangkan memang berdampak secara ekonomi, yang membuat para petani bisa mandiri melalui kopi yang kini menjadi komoditas utama serta mampu memenuhi pasar internasional,” tandasnya.
Pewarta: Nedi Putra AW
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga




















































