BACAMALANG.COM – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Timur mempersembahkan East Java Heritage Expo 2025, sebuah perayaan untuk mengenang, memahami, dan menikmati kekayaan budaya serta sejarah Jawa Timur secara lebih dekat dan interaktif. Gelaran ini berlangsung selama tiga hari, Selasa–Kamis (4–6 November 2025) di Taman Krida Budaya, Kota Malang.
Sebanyak 20 booth pameran hadir dalam acara ini, sebagian besar membawa pengunjung menelusuri jejak sejarah dan identitas Jawa Timur maupun daerah lainnya. Pameran yang terbuka untuk umum mulai pukul 09.00–20.00 WIB ini diikuti oleh berbagai lembaga budaya dan pendidikan, antara lain: Laboratorium Rumah Sejarah Unesa, Sigarda Indonesia, Museum Geologi, Museum Mpu Tantular, Museum Sunan Drajat Lamongan, Ubaya Penanggungan Center, Museum Gula Indonesia, Museum Mpu Purwa, Museum Brawijaya, Museum Etnografi dan Pusat Kajian Kematian, Museum Singhasari, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI, Museum Pusat TNI AL Jalesveva Jayamahe, Pelestari Sejarah Budaya Kadhiri (PASAK), Museum Ganesya, Indonesian Heritage Museum, serta Indonesian Islamic Art Museum.
Selain pameran, acara ini juga dimeriahkan dengan Lomba Foto Heritage, Seminar Sejarah & Cagar Budaya, serta Grand Final Lomba Penulisan Sejarah Lokal. Antusiasme tinggi tampak dari para pengunjung, terutama pelajar dan mahasiswa yang aktif berkeliling meninjau koleksi dari setiap booth.

Para pelajar berkunjung ke booth pameran Indonesian Heritage Museum dan Indonesian Islamic Art Museum, Rabu (5/11/2025). (Nedi Putra AW)
Avril, siswa SMK 2 Buduran Sidoarjo, mengaku kagum dengan kemasan pameran yang interaktif. “Saya bisa menyaksikan banyak koleksi dari museum-museum yang belum pernah saya kunjungi, apalagi di booth Indonesian Heritage Museum Kota Batu ini ada teknologi keren Augmented Reality (AR),” ujarnya saat berkunjung bersama teman-temannya, Rabu (5/11/2025).
Salah satu yang menarik perhatian pengunjung adalah booth Museum Geologi Bandung di bawah naungan Kementerian ESDM. Mereka menampilkan replika Stegoloxodon celebensis (gajah endemik Sulawesi yang telah punah), fosil Celebochoerus heekereni atau babi purba Sulawesi, serta tengkorak Homo Erectus.
Yusuf, edukator dari Museum Geologi Bandung, menjelaskan bahwa museum ini telah berdiri hampir satu abad, dibangun pada tahun 1928 dan diresmikan pada 1929.
“Kami memiliki koleksi berbagai materi geologi, mulai dari batuan, mineral, fosil, hingga sejarah kehidupan. Kini museum juga dilengkapi sistem multimedia dan simulator gempabumi,” terangnya kepada BacaMalang.com.

eorang pengunjung mencoba koleksi senjata di booth Museum Brawijaya Malang, Rabu (5/11/2025). (Nedi Putra AW)
Menariknya, Museum Geologi juga memiliki cara unik untuk mengedukasi pengunjung. “Kami menyiapkan souvenir menarik. Cukup follow akun Instagram resmi kami, kemudian jawab dua pertanyaan seputar koleksi di booth, maka pengunjung bisa langsung mendapatkannya,” tambah Yusuf.
Setiap booth menerapkan aturan berbeda. Beberapa melarang pengunjung menyentuh koleksi, namun ada juga yang memperbolehkan. Di booth Museum Brawijaya Malang, misalnya, pengunjung diperbolehkan memegang senjata asli yang digunakan para pejuang TRIP. Sementara di booth Museum Gula Pasuruan, pengunjung tak hanya melihat koleksi alat pabrik gula tempo dulu, tetapi juga berkesempatan mencicipi air sari tebu murni, yang rasanya berbeda dari produk di pasaran.
Pewarta: Nedi Putra AW
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga




















































