BACAMALANG.COM — Semar Tempo Doleoe Djilid 3 bertajuk “Lorong Waktu” sukses menjadi ruang pertemuan antara nostalgia, kreativitas warga, dan perputaran ekonomi masyarakat. Selama empat hari pelaksanaan pada 14–17 Mei 2026 di RT 06 RW 02, Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, kawasan kampung tersebut dipadati pengunjung yang menikmati suasana lintas zaman dengan balutan hiburan rakyat, seni budaya, kuliner, hingga geliat UMKM.
Di balik kemeriahan itu, Kampung Semar ternyata menyimpan filosofi yang lebih dalam. Semar merupakan akronim dari “Senang Menanam Ramai-ramai”, sebuah semangat kolektif warga dalam membangun lingkungan yang hijau, produktif, dan berkelanjutan.
Salah satu mentor, atau pembina Kampung Semar, Ir. Bambang Irianto, menilai Kampung Semar telah berkembang menjadi contoh nyata RT Berkelas di Kota Malang, sehngga tepat disebut sebagai prototype atay role modelnya.
“Dalam membangun RT Berkelas, pertama harus ada roadmap, yang diawali dengan jiwa dan mindset yang sudah diubah sebelumnya. Baru setelah itu bergerak setahap demi setahap,” ujarnya di sela penutupan acara, Minggu (17/5/2026).

Pembina Kampung Semar, Ir. Bambang Irianto (kanan), didampingi Ketua RT 06 RW 02 Arjosari, Edi Sugianto, Minggu (17/5/2026). (Nedi Putra AW)
Inisiator gerakan Glintung Go Green atau 3G tersebut menegaskan bahwa pembangunan kampung tidak bisa hanya bergantung pada bantuan pemerintah maupun pihak luar. Bantuan, menurutnya, hanyalah pemantik agar warga mampu bergerak secara mandiri.
“Bantuan itu sifatnya stimulan saja. Kampung tidak bisa dibangun hanya dengan mengandalkan bantuan semata,” tegasnya
Meski demikian, Bambang memahami bahwa keterbatasan sumber daya di tingkat RT memang menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, ia menilai penting adanya konsultasi, jejaring, dan kolaborasi dengan berbagai pihak agar kampung mampu berkembang secara berkelanjutan.
“Oleh sebab itu, pergerakan harus dibarengi konsultasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Dengan begitu, capaian dan prestasi bisa diraih kampung tersebut, dengan target akhir adalah kesejahteraan warga,” tambahnya.
Melalui konsep Festival Semar Tempo Doeloe yang sukses digelar untuk ketigakalinya tersebut, Kampung Semar tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kekuatan gotong royong warga mampu mengubah kawasan kampung menjadi ruang kreatif yang hidup, produktif, sekaligus memiliki dampak ekonomi dan sosial yang nyata.
Senada dengan Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, tentang ketangguhan sektor UMKM sebagai fondasi ekonomi masyarakat, Bambang juga berpendapat bahwa fleksibilitas UMKM sebenarnya sudah harus disiapkan dalam menghadapi tantangan krisis ekonomi saat ini. Menurutnya, festival Semar Tempo Doloe pada dasarnya mengakomodir kegiatan-kegiatan keseharian warga, dimana UMKM turut berkembang.
“Warga belanja di warung tetangga, warga belanja ke UMKM, yang artinya local economic development terjaga sebagai benteng menghadapi krisis ekonomi. Maka kalau setiap kampung di Kota Malang mampu menggerakkan roda ekonominya, saya yakin mereka mampu menghadapi tantangan tersebut,” tandas penerima Penghargaan Pegiat Lingkungan 2026 dari Pemerintah Kota Malang tersebut.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































