Bambang Irianto: “Lorong Waktu” Kampung Semar Tempo Doeloe Bukti Nyata RT Berkelas di Kota Malang - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 18 Mei 2026 09:57 WIB ·

Bambang Irianto: “Lorong Waktu” Kampung Semar Tempo Doeloe Bukti Nyata RT Berkelas di Kota Malang


 Pengunjung membeli produk UMKM dalam Semar Tempo Doleoe Djilid 3 di wilayah RT 06 RW 02, Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Minggu (17/5/2026). (Nedi Putra AW) Perbesar

Pengunjung membeli produk UMKM dalam Semar Tempo Doleoe Djilid 3 di wilayah RT 06 RW 02, Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Minggu (17/5/2026). (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM — Semar Tempo Doleoe Djilid 3 bertajuk “Lorong Waktu” sukses menjadi ruang pertemuan antara nostalgia, kreativitas warga, dan perputaran ekonomi masyarakat. Selama empat hari pelaksanaan pada 14–17 Mei 2026 di RT 06 RW 02, Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, kawasan kampung tersebut dipadati pengunjung yang menikmati suasana lintas zaman dengan balutan hiburan rakyat, seni budaya, kuliner, hingga geliat UMKM.

Di balik kemeriahan itu, Kampung Semar ternyata menyimpan filosofi yang lebih dalam. Semar merupakan akronim dari “Senang Menanam Ramai-ramai”, sebuah semangat kolektif warga dalam membangun lingkungan yang hijau, produktif, dan berkelanjutan.

Salah satu mentor, atau pembina Kampung Semar, Ir. Bambang Irianto, menilai Kampung Semar telah berkembang menjadi contoh nyata RT Berkelas di Kota Malang, sehngga tepat disebut sebagai prototype atay role modelnya.

“Dalam membangun RT Berkelas, pertama harus ada roadmap, yang diawali dengan jiwa dan mindset yang sudah diubah sebelumnya. Baru setelah itu bergerak setahap demi setahap,” ujarnya di sela penutupan acara, Minggu (17/5/2026).

Pembina Kampung Semar, Ir. Bambang Irianto (kanan), didampingi Ketua RT 06 RW 02 Arjosari, Edi Sugianto, Minggu (17/5/2026). (Nedi Putra AW)

Inisiator gerakan Glintung Go Green atau 3G tersebut menegaskan bahwa pembangunan kampung tidak bisa hanya bergantung pada bantuan pemerintah maupun pihak luar. Bantuan, menurutnya, hanyalah pemantik agar warga mampu bergerak secara mandiri.

“Bantuan itu sifatnya stimulan saja. Kampung tidak bisa dibangun hanya dengan mengandalkan bantuan semata,” tegasnya

Meski demikian, Bambang memahami bahwa keterbatasan sumber daya di tingkat RT memang menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, ia menilai penting adanya konsultasi, jejaring, dan kolaborasi dengan berbagai pihak agar kampung mampu berkembang secara berkelanjutan.

“Oleh sebab itu, pergerakan harus dibarengi konsultasi dan kolaborasi dengan berbagai pihak. Dengan begitu, capaian dan prestasi bisa diraih kampung tersebut, dengan target akhir adalah kesejahteraan warga,” tambahnya.

Melalui konsep Festival Semar Tempo Doeloe yang sukses digelar untuk ketigakalinya tersebut, Kampung Semar tidak hanya menghadirkan hiburan bagi masyarakat, tetapi juga memperlihatkan bagaimana kekuatan gotong royong warga mampu mengubah kawasan kampung menjadi ruang kreatif yang hidup, produktif, sekaligus memiliki dampak ekonomi dan sosial yang nyata.

Senada dengan Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, tentang ketangguhan sektor UMKM sebagai fondasi ekonomi masyarakat, Bambang juga berpendapat bahwa fleksibilitas UMKM sebenarnya sudah harus disiapkan dalam menghadapi tantangan krisis ekonomi saat ini. Menurutnya, festival Semar Tempo Doloe pada dasarnya mengakomodir kegiatan-kegiatan keseharian warga, dimana UMKM turut berkembang.

“Warga belanja di warung tetangga, warga belanja ke UMKM, yang artinya local economic development terjaga sebagai benteng menghadapi krisis ekonomi. Maka kalau setiap kampung di Kota Malang mampu menggerakkan roda ekonominya, saya yakin mereka mampu menghadapi tantangan tersebut,” tandas penerima Penghargaan Pegiat Lingkungan 2026 dari Pemerintah Kota Malang tersebut.

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 3 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Diduga Culik Anak di Kedungkandang, Perempuan Asal Gresik Diamankan Polisi, Ternyata ODGJ

18 Mei 2026 - 09:09 WIB

Nenek Hilang 3 Pekan Ditemukan Meninggal di Sungai Poncokusumo

18 Mei 2026 - 07:24 WIB

Misa Perdana RD Gendhis Permiro, Romo Nyentrik yang Dekat dengan Anak Muda Resmi Bertugas di Paroki Langsep

17 Mei 2026 - 20:28 WIB

Wali Murid SDN Keluhkan Beban Iuran Sekolah, Kadindik Kota Batu: Berdasarkan Permendikbud Tidak Boleh ada Pungutan Apapun

17 Mei 2026 - 19:27 WIB

Maling Gasak Motor di PS Nankatsu Bedali Lawang

17 Mei 2026 - 14:19 WIB

Penemuan Mayat di Kali Gadungan Wajak Masih Diselidiki Polisi

17 Mei 2026 - 14:15 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !