BACAMALANG.COM – DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang mengambil langkah tegas dan bijaksana meskipun tidak melaporkan ujaran kebencian yang diunggah akun Facebook Randy Juniardi terhadap Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.
Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang Didik Gatot Subroto mengatakan bahwa pihaknya hendak mengambil langkah tegas dengan melapor ke kepolisian terkait persoalan tersebut, namun pada akhirnya partai berlambang banteng moncong putih lebih memilih memberikan sanksi moral terhadap Randy.
“Sebenarnya kami tegas akan mengambil langkah hukum dengan membuat laporan ke kepolisian, namun ayah yang bersangkutan ternyata datang dan meminta maaf yang kemudian diterima oleh DPC DPI Perjuangan Kabupaten Malang dan BBHAR. Tetapi kami belum sepenuhnya menerima permohonan maaf tersebut, dan saya meminta kepada yang bersangkutan agar mengedukasi kepada setidaknya 5 orang teman-temannya bahwa apa yang dilakukannya itu adalah hal yang salah. Jika punishment itu sudah benar-benar dia lakukan, baru kami sepenuhnya akan membuka pintu maaf sepenuhnya,” kata Didik Gatot Subroto, Jumat (10/11/2023).
Sementara itu Wakil Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Malang, Abdul Qodir menyatakan, tindakan yang dilakukan Randy tersebut dapat dijadikan pelajaran bagi masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
“Dari kejadian ini karena pelakunya anak muda, saya menangkap dari ketidaktahuan dia, ketidakpahaman dia, dan situasi emosinalnya dia masih labil, memang memang kami mengapresiasi anak muda dalam berbagai hal terutama politik, makanya kemudian kenapa saya mengajak Randi itu supaya disamping tidak mengulangi apa yang sudah dia dilakukan, saya mengajak dia itu untuk belajar politik di PDI Perjuangan, agar dia tahu proses di PDI Perjuangan menempa anak muda untuk menjadi seorang pemimpin,” tutur pria yang akrab disapa Cak Adeng ini.
Ditambahkan oleh Cak Adeng, selalu ada hikmah dari setiap peristiwa, kususnya buat Randy yang masih muda. Sebagaimana yang dinasehatkan Cak Adeng kepada kepada Randy.
“Saya dibesarkan di dunia aktivis, usia muda saya, saya habiskan di dunia pergerakan sosial. Saya tahu persis bahwa anak muda seusia Randy, yang usianya masih di bawah 40 tahun, rata-rata kejiwaannya masih labil, saya sendiri pernah mengalami. Untuk itu belajar dari peristiwa Randy yang pada akhirnya menuai masalah buat dirinya, maka anak muda, utamanya yang bercita-cita dan mau jadi pemimpin, jangan tergesa-gesa,” tegasnya.
“Modal menjadi pemimpin bukan hanya bertumpu pada emosional, bukan hanya karena melihat ada kesempatan, tapi matangkan diri dulu. Karena bagi seorang pemimpin sikap kebijaksanaan itu sangat menenangkan untuk rakyat yang dipimpinnya, jadi sebagai anak muda jangan tergesa-gesa, belajarlah untuk lebih matang. Contoh saja Rasulullah Muhammad SAW, diangkat menjadi rasul di usia 40 tahun, artinya Allah Tuhan semesta alam, lebih tahu batas-batas kematangan manusia di usia berapa dia memiliki jiwa kepemimpinan,” Cak Adeng mengakhiri.
Pewarta : Dhimas Fikri
Editor/Publisher : Aan Imam Marzuki




















































