BACAMALANG.COM – Pancasila memiliki peran penting sebagai pemersatu bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman suku, agama, bahasa, dan budaya. Pancasila juga dinilai dapat menjadi fondasi bagi Indonesia dalam berkontribusi terhadap terciptanya perdamaian dunia.
Hal tersebut disampaikan Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan Universitas Islam Raden Rahmat (UNIRA) Malang, Dr. Hasan Bisri, M.Pd., dalam kegiatan Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila bertema ‘Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia’ yang digelar di Aula Gedung KH. Moh. Said Lantai 3 UNIRA, Kabupaten Malang, Selasa (29/9/2026).
Pada kegiatan itu hadir pula Anggota Komisi XIII DPR RI, Dr. Ahmad Basarah, S.H., M.H,; Sekretaris Utama sekaligus Plt. Deputi Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi, dan Jaringan BPIP, Dr. Tonny Agung Arifianto, S.E., M.A.B.,; serta Rektor UNIRA Malang, H. Imron Rosyadi Hamid, S.E., M.Si., Ph.D.
Kegiatan yang diselenggarakan oleh BPIP bersama Komisi XIII DPR RI yang bekerjasama dengan UNIRA Malang tersebut bertujuan untuk mendorong mahasiswa dan masyarakat untuk mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam pemaparannya, Hasan menjelaskan bahwa Pancasila tidak hanya berkedudukan sebagai dasar negara, tetapi juga menjadi pandangan hidup dan ideologi terbuka yang menjadi pedoman masyarakat Indonesia dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
Menurutnya, lima sila dalam Pancasila merupakan satu kesatuan nilai yang saling menjiwai dan tidak dapat dipisahkan. Nilai-nilai tersebut tumbuh dari budaya, adat, serta nilai agama yang berkembang dalam kehidupan bangsa Indonesia.
“Pancasila bukan lima nilai yang berdiri sendiri, melainkan satu kesatuan nilai kebangsaan,” ujar Hasan dalam pemaparan materi kegiatan tersebut.
Hasan juga menekankan posisi Pancasila sebagai titik temu di tengah keberagaman Indonesia. Dengan keberadaan ribuan pulau serta ratusan etnis, bahasa daerah, dan agama, Pancasila menjadi dasar untuk mengelola perbedaan agar menjadi kekuatan dan tidak berkembang menjadi perpecahan.
Nilai Bhinneka Tunggal Ika, musyawarah, dan gotong royong menjadi bagian penting dalam membangun persatuan. Perbedaan tidak harus diseragamkan, tetapi dikelola melalui tujuan bersama dan semangat kebersamaan.
Lebih lanjut, Hasan mengaitkan nilai-nilai Pancasila dengan kontribusi Indonesia dalam menjaga perdamaian dunia. Amanat Pembukaan UUD 1945 menempatkan Indonesia pada posisi untuk ikut menjaga ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Prinsip tersebut antara lain diwujudkan melalui politik luar negeri bebas aktif serta berbagai kontribusi Indonesia dalam upaya perdamaian, termasuk keterlibatan dalam misi perdamaian di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, mediasi konflik regional, Konferensi Asia Afrika 1955, dan Gerakan Non-Blok.
Dalam konteks kehidupan masyarakat saat ini, Hasan menyebut semangat patriotisme Pancasila tidak cukup hanya diwujudkan melalui slogan. Patriotisme dapat ditunjukkan melalui kecintaan terhadap tanah air, rela berkorban, menjaga persatuan, disiplin, tanggung jawab, integritas, serta menghasilkan karya yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ia juga menyoroti sejumlah tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini, seperti polarisasi dan penyebaran hoaks di media sosial, intoleransi, ujaran kebencian, disrupsi teknologi, krisis keteladanan, serta melemahnya semangat gotong royong.
Karena itu, relawan Gerakan Kebajikan Pancasila diharapkan dapat menjadi teladan dalam menerapkan nilai-nilai Pancasila di lingkungan masing-masing. Relawan juga didorong untuk menyebarkan konten positif, meningkatkan literasi digital, membuka ruang dialog lintas identitas, serta menggerakkan aksi sosial bersama masyarakat.
Hasan menegaskan bahwa Pancasila harus diwujudkan dalam sikap dan karya nyata dalam kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai universal seperti kemanusiaan, keadilan, persatuan, dan musyawarah tidak hanya relevan bagi kehidupan bangsa Indonesia, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kontribusi Indonesia dalam membangun perdamaian dunia.
“Berbeda bukan alasan untuk berhenti, Pancasila menyatukan kita sampai nanti,” pungkasnya.
Pewarta : Dhimas Fikri
Editor/Publisher : Rahmat Mashudi Prayoga





















































