BACAMALANG.COM – Berbagai jenis tepung terpantau mulai naik bertahap sejak Agustus 2026 di wilayah Malang Raya. Kenaikan signifikan terjadi pada kurun waktu Oktober hingga awal November 2026.
Kenaikan terjadi serentak sehingga memukul pedagang eceran dan pelaku UMKM kuliner di pasar tradisional, termasuk pembuat kerupuk, siomay, kue, hingga gorengan.
Kenaikan harga ini disebabkan beberapa faktor. Pertama, adanya kelangkaan pasokan dari distributor, sementara permintaan tetap tinggi.
Di sisi lain, kondisi cuaca ikut menjadi faktor yang mempengaruhi. Produksi tepung berbasis komoditas lokal seperti tapioka dan tepung beras atau ketan, terimbas cuaca ekstrem sepanjang tahun 2026. Pasokan singkong dalam negeri turun, sehingga bahan baku industri penggilingan menjadi berkurang.
Di sisi lain, pemerintah telah menyetop keran impor komoditas tepung tapioka, dengan tujuan agar bertumpu sepenuhnya pada produksi dalam negeri.
Sedangkan untuk tepung terigu, pasokannya sangat terimbas oleh melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Padahal Indonesia bergantung 100 persen pada impor biji gandum dari luar negeri. Depresiasi nilai tukar rupiah ini berimbas juga pada membengkaknya biaya logistik, sehingga harga tepung terigu terkerek naik.
Di wilayah Malang Raya, berbagai jenis tepung seperti tepung terigu, tepung beras, dan tepung tapioka mengalami kenaikan harga sekitar 10 persen secara bertahap. Tepung ketan mengalami lonjakan paling signifikan. Di tingkat eceran atau pasar tradisional, harganya naik dari sekitar Rp13.000 menjadi Rp21.000 per kemasan 500 gram, atau berkisar Rp20.000 sampai Rp22.000 per kilogram.
Rata-rata harga terigu di Jawa Timur berada di kisaran Rp11.600 per kilogram, dengan wilayah sekitar Malang seperti Kota Batu dan Kota Malang tercatat antara Rp13.300 hingga Rp13.500 per kilogram. Para pedagang pasar menyebut kenaikan dipicu dari tingkat distributor, yang juga dipengaruhi faktor eksternal seperti dampak kemarau panjang terhadap hasil panen serta sempat terjadinya kelangkaan stok, khususnya tepung ketan.
Kondisi itu dirasakan langsung oleh Fitri Astutik, penjual gorengan di Kepanjen, Kabupaten Malang. Menurutnya, kenaikan tidak hanya terjadi pada tepung, tetapi hampir semua bahan pokok ikut naik.
Fitri menyebut tepung selain naik harga juga langka. Ia mempersilakan untuk mengecek langsung ke distributor terkait kondisi pasokan tersebut.
Dampaknya, Fitri mengaku belum bisa mengurangi volume produksi gorengannya. Namun keuntungan yang didapat semakin tipis karena efek kenaikan harga bahan baku yang terus terjadi.
“Semua bahan pokok naik, mulai gula dan tepung. Belum bisa ngurangi volume, cuma keuntungan makin nipis. Karena efek kenaikan harga bahan baku,” kata Fitri, Sabtu (7/11/2026).
Di tengah harga yang terus merangkak naik dan pasokan yang belum stabil, pelaku UMKM kuliner seperti Fitri kini hanya bisa bertahan dengan menekan keuntungan. Mereka berharap pemerintah dan distributor segera menstabilkan pasokan dan harga, agar usaha kecil tidak terus tergerus dan harga gorengan di tingkat konsumen tetap terjangkau.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga



















































