BACAMALANG.COM – Musisi sekaligus penggerak ekosistem kreatif asal Malang, Yonanda Galuh Puspitasari, S.M., yang dikenal dengan nama Mary Jona, turut membawa semangat dan aspirasi pelaku ekonomi kreatif daerah ke panggung internasional melalui ajang The 5th World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di CGV Grand Indonesia, Jakarta.
Mahasiswa Magister Terapan Industri Kreatif Universitas Negeri Surabaya (UNESA) tersebut hadir bersama jejaring Indonesia Creative Cities Network (ICCN) dalam agenda Suara Ekraf Indonesia: From Voice to Action.
Dalam kesempatan itu, Mary Jona membawakan lagu Tanah Air sebagai simbol semangat kebangsaan sekaligus representasi keberagaman Indonesia. Penampilannya disaksikan langsung oleh Menteri Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Ekonomi Kreatif RI, Teuku Riefky Harsya.
Kehadirannya di forum tersebut sekaligus merepresentasikan peran aktifnya di ICCN sebagai Wakil Direktur Distribusi Daring, Direktorat Media & Communication, Deputi 5 Strategic Partnership, Branding & Creative Economy.
Menurut Mary Jona, pengembangan ekonomi kreatif tidak cukup hanya bertumpu pada potensi individu, tetapi juga membutuhkan ekosistem yang kuat, kolaboratif, dan berakar pada kekuatan lokal.
“Pengembangan ekonomi kreatif harus bertumpu pada kekuatan komunitas dan potensi lokal. Dari Malang, kita buktikan bahwa ekosistem daerah bisa bersuara sampai ke forum dunia,” ujarnya.
Salah satu agenda penting dalam kegiatan tersebut adalah penyerahan 10 Manifesto Suara Ekonomi Kreatif Indonesia: Dari Daerah untuk Dunia oleh Ketua Umum ICCN, Fiki Satari, kepada Menteri Ekonomi Kreatif.
Manifesto tersebut dirumuskan berdasarkan aspirasi dari 277 kota dan kabupaten kreatif yang tersebar di 35 provinsi. Sejumlah isu strategis yang diangkat meliputi inovasi berbasis sumber daya lokal, pembangunan berkelanjutan, pengakuan terhadap pelaku kreatif informal, penguatan peran intermediari, inklusivitas, serta transformasi digital.
Selain itu, manifesto tersebut menyoroti pentingnya penguatan data indeks ekonomi kreatif daerah, dukungan regulasi, sinergi heksaheliks, hingga keterlibatan daerah dalam agenda ekonomi kreatif global.
Bagi Mary Jona, WCCE menjadi ruang strategis untuk mempertemukan praktik kreatif yang berkembang di daerah dengan arah kebijakan nasional. Ia menilai, banyak pelaku kreatif di Malang Raya memiliki karya dan potensi besar, tetapi masih menghadapi tantangan dalam mengakses jejaring, distribusi, dan pasar yang lebih luas.
Pengalamannya membangun NAWAKEWED dan NCreators di Malang menjadi salah satu bekal untuk menyuarakan kebutuhan tersebut. Ekosistem musik independen dan kreator digital lokal, menurutnya, terus berkembang dan memiliki peluang besar untuk bersaing. Namun, keberlanjutan ekosistem itu memerlukan kolaborasi antara komunitas, pemerintah, akademisi, dan industri.
Keterlibatannya dalam WCCE 2026 juga menjadi bagian dari upaya menghubungkan dunia akademik dengan praktik industri kreatif. Sebagai mahasiswa magister terapan, ia tengah mengkaji model artist development berbasis ekosistem independen yang dinilai relevan untuk menjawab kebutuhan musisi daerah.
Melalui jejaring ICCN, Mary Jona berharap aspirasi dari daerah tidak berhenti sebagai gagasan atau wacana, tetapi dapat menjadi pertimbangan dalam penyusunan kebijakan ekonomi kreatif yang lebih inklusif dan berpihak pada komunitas.
Di luar aktivitasnya bersama ICCN, Mary Jona dikenal sebagai Founder NAWAKEWED Music Ecosystem, sebuah inisiatif yang berfokus pada pengembangan musisi independen di Malang Raya. Ia juga mendirikan NCreators yang bergerak di bidang influencer marketing dan konten digital.
Selain itu, ia turut menggagas Acting School Malang serta album kompilasi Make Our Home Great Again (MOHGA).
Berbagai kiprah tersebut menjadi bagian dari upayanya memperkuat hubungan antara talenta, komunitas, dan industri. Melalui kolaborasi lintas sektor, ia berharap ekosistem kreatif di Malang Raya semakin berkembang, memiliki daya saing, dan mampu menciptakan keberlanjutan bagi para pelakunya.
Partisipasi Mary Jona dalam WCCE 2026 menjadi salah satu gambaran bagaimana pelaku kreatif daerah dapat mengambil bagian dalam percakapan ekonomi kreatif di tingkat nasional maupun global, sekaligus membawa perspektif komunitas lokal ke ruang yang lebih luas.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




















































