BACAMALANG.COM-Salah satu olahan kue manis yang jadi tren di kalangan anak muda saat ini adalah Dubai Chewy Cookies. Varian ini menjadi salah satu produk dari Clévia Dessert, usaha dessert rumahan dengan tiga produk utama yakni soft cookies, mochi, dan Dubai Chewy Cookies. Usaha ini berhasil mengepakkan sayap bisnisnya hingga menjangkau belasan kantin sekolah dan kampus ternama.
Namun siapa sangka, bahwa usaha homemade dessert di Kota Malang ini berawal dari ketidaksengajaan saat mengerjakan tugas ujian praktik sekolah, bahkan menjadi upaya keberhasilan mengalahkan rasa gengsi sebagai seorang Gen Z.
Hal ini diuraikan Ailsya Nabilla Widiantoro, mahasiswi Departemen Kimia Fakultas Sains, Teknologi dan Matematika (FSTeM) Universitas Brawijaya (UB), saat acara NGOPI SAM di MIPA Center UB akhir pekan lalu.
Kisah sukses usaha ini berawal ketika Ailsya, yang memang memiliki hobi baking, terpaksa absen sekolah selama dua minggu akibat sakit saat duduk di kelas 12 SMA. Karena tidak bisa mengikuti ujian praktik bersama teman-temannya, ia diharuskan menyusul dan memilih untuk membuat produk cookies.
“Waktu itu saya sengaja bikin cookies lebih banyak untuk dibagikan ke teman-teman. Ternyata respons mereka sangat positif. Banyak yang menyukai rasanya dan menyarankan saya untuk menjualnya,” ungkapnya.
Melihat peluang tersebut, alumnus MAN 1 Kota Malang ini mulai melakukan riset harga. Awalnya ia menawarkan dengan harga Rp6.000 per piece, dan ternyata produknya terbukti mampu bersaing ketat dengan produk kompetitor di pasaran yang umumnya dibanderol sekitar Rp8.000.
Rasa yang bersaing dengan harga yang ramah di kantong membuat produknya langsung diserbu pembeli. Penjualan perdana dimulai dari kantin sekolahnya sendiri.
“Bermula dari membawa 15 hingga 20 pieces per hari saja, tapi selalu ludes terjual, akhirnya permintaan pasar terus meningkat,” ujarnya.
Mahasiswi angkatan 2025 ini memanfaatkan masa gap year sebelum masuk bangku perkuliahan, ia memberanikan diri menepis rasa gengsi untuk menembus kantin-kantin sekolah lain.
“Kebayang ‘kan promo kue kantin-kantin, sempat ada rasa malu juga sih,” ungkap perempuan berkacamata ini.
Namun niat dan perjuangannya berbuah manis seperti rasa kuenya. Kini, produk dessert tersebut telah hadir di delapan kantin sekolah di Kota Malang, antara lain SD Laboratorium UM, MAN 2 Kota Malang, SMK Telkom, SMA Lab UM, hingga SMA 8 Malang.
Kapasitas produksinya saat ini dalam sehari sudah mencapai 300 pieces. Tak berhenti di jenjang sekolah, ekspansi pemasaran terus diperluas melalui media sosial seperti TikTok, Instagram, serta sistem pre-order WhatsApp, dibantu rekannya, Mega Nurul Madania di bagian digital marketing, yang juga dari Kimia FSTeM UB.
Langkah ini sukses menjaring jaringan reseller dari kalangan mahasiswa di berbagai universitas besar seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), dan Universitas Bina Nusantara (Binus).
“Untuk sistem reseller, cookies kami patok harga Rp4.500. Ini membuka peluang bagi teman-teman mahasiswa yang butuh keuntungan untuk kegiatan acara kampus atau dana usaha. Mereka bisa mengambil produk dari kami lalu menjualnya kembali,” tambahnya.
Sementara untuk harga jual eceran, varian soft cookies dan mochi dibanderol Rp6.000 all variant, s’mores melted seharga Rp8.000, serta dubai chewy cookie seharga Rp28.000.
Ailsya dan Mega Nurul membuktikan, bahwa cuan akan menghampiri dengan usaha keras dan cerdas tanpa harus mempertahankan gengsi dan rasa malu. Dengan kombinasi harga terjangkau dan strategi pemasaran yang tepat, usaha homemade dessert ini terus membuktikan eksistensinya di kalangan generasi muda Kota Malang.
Keduanya merupakan satu dari para wirausahawan muda bertalenta penerima Program Hibah Wirausaha Mahasiswa (PHWM) dari FSTeM UB.
Program ini terus menunjukkan komitmennya dalam mencetak bibit-bibit pebisnis andal dari bangku kuliah. Wakil Dekan III FSTeM UB, Prof. Chomsin Sulistya Widodo, Ph.D., mengungkapkan bahwa pelaksanaan PHWM yang kini memasuki tahun ketiga selalu mengalami peningkatan kualitas yang signifikan, baik dari segi inovasi maupun kesiapan para mahasiswanya.
Prof. Chomsin menuturkan, bahwa hadirnya program ini sekaligus mematahkan stigma lama yang kerap melekat pada mahasiswa MIPA/FSTeM.
“Masih ada anggapan bahwa kuliah di FSTeM (dahulu MIPA) itu hanya berkutat pada bidang keilmuan eksakta saja. Intinya kami sudah menyiapkan mahasiswa untuk dapat menjadi wirausahawan sejak dini,” tegasnya.
Melalui kolaborasi antara ilmu akademis dan keberanian berbisnis, FSTeM UB membuktikan bahwa mahasiswanya tak hanya unggul di laboratorium, tetapi juga siap menguasai pasar usaha modern.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































