BACAMALANG.COM – Ecobrick, metode inovatif daur ulang sampah plastik, telah memikat hati para pegiat lingkungan. Dari meja, kursi, hingga dinding non permanen dan taman, ecobrick membuka peluang baru dalam pemanfaatan plastik bekas. Seby, kreator ecobrick, terinspirasi untuk memulai proyek ini dua bulan lalu setelah melihat tumpukan sampah plastik bekas paket dan menemukan cara membuat ecobrick melalui media sosial.
“Ecobrick adalah bentuk nyata kepedulian terhadap lingkungan. Sampah plastik memerlukan waktu puluhan tahun untuk terurai, namun dengan ecobrick, kita dapat memanfaatkannya menjadi sesuatu yang berguna,” ujar Seby.
Seby menambahkan, prospek ecobrick sangat baik karena selain ramah lingkungan, proses pembuatannya juga tergolong mudah. Meski demikian, dibutuhkan kesabaran karena sampah plastik harus dimasukkan ke dalam botol bekas air mineral menggunakan tongkat kecil untuk memastikan kepadatannya. “Botol air 600 ml idealnya harus berisi 200-250 gram sampah ecobrick agar hasilnya baik dan tidak cepat penyok,” katanya.
Tantangan utama dalam pembuatan ecobrick adalah pengumpulan sampah yang harus dicuci dan dikeringkan sebelum dimasukkan ke dalam botol. Namun, keuntungan ecobrick jauh lebih banyak daripada tantangannya.
“Saat ini, saya menawarkan ecobrick kepada siapa saja yang membutuhkan, baik untuk keperluan kerajinan sekolah atau lainnya. Ada juga platform khusus yang menampung ecobrick dan memprosesnya dengan lebih higienis. Bahkan, ada yang menawarkan ecobrick yang bisa ditukar dengan bitcoin,” jelas Seby.
Seby berharap semakin banyak masyarakat yang sadar akan pentingnya memanfaatkan limbah plastik, karena dampaknya sangat besar bagi masa depan.
Saat ini, Seby memproduksi ecobrick di Jalan Wahid Hasyim, Pagedangan, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Karyanya dapat dilihat di Instagram @yunus_a_ijaz. Untuk sementara, ecobrick dijual kepada murid sekolah yang memerlukan untuk tugas sekolah. “Selanjutnya, saya berencana untuk memberdayakan lebih banyak orang setelah benar-benar menguasai proses pembuatan, pemasaran, dan lainnya,” tutupnya.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor/Publisher: Rahmat Mashudi Prayoga




















































