BACAMALANG.COM – Fakultas Sains, Teknologi, dan Matematika Universitas Brawijaya (STeM UB) kembali menggelar acara “Ngopi Sam” atau Ngobrol Santai Bersama Media, Kamis (21/5/2026). Kegiatan kali ini menghadirkan dua alumni inspiratif sebagai narasumber, yakni Prof. Agus Suryanto, Guru Besar Matematika Departemen Matematika, serta Drs. Sunarno dari Departemen Kimia.
Dalam kesempatan tersebut, keduanya berbagi pandangan tentang luasnya peluang karier yang dapat ditempuh lulusan matematika maupun kimia, mulai dari dunia akademik hingga bisnis yang menjanjikan.
Selama ini, matematika kerap identik dengan angka, rumus, dan perhitungan yang rumit. Padahal, ilmu ini memiliki peran besar dalam membantu memahami berbagai fenomena kehidupan sehari-hari, termasuk perubahan yang terjadi pada manusia, hewan, tumbuhan, hingga lingkungan.
Hal itu disampaikan Prof. Agus Suryanto yang menekuni bidang matematika terapan. Ia menjelaskan bahwa kajian matematika dapat digunakan untuk mempelajari dinamika populasi, yakni bagaimana jumlah suatu kelompok makhluk hidup dapat bertambah, berkurang, atau tetap stabil dari waktu ke waktu.
“Perubahan tersebut dipengaruhi berbagai faktor seperti kelahiran, kematian, perpindahan, ketersediaan makanan, kondisi lingkungan, hingga penyebaran penyakit,” ujarnya.
Menurutnya, melalui pendekatan matematika, manusia dapat memperkirakan berbagai kemungkinan yang terjadi di masa depan.
“Misalnya memahami pola penyebaran penyakit, menjaga kelestarian hewan dan tumbuhan, mengendalikan hama, serta membantu pengelolaan lingkungan secara lebih baik,” terang akademisi yang telah mengabdi sebagai dosen UB sejak 1995 itu.
Ia menambahkan, saat pandemi COVID-19 lalu, berbagai kebijakan juga banyak dipengaruhi hasil prediksi melalui pemodelan matematika.
“Dengan demikian, matematika bukan sekadar pelajaran di kelas, melainkan cara berpikir yang bermanfaat untuk memahami persoalan nyata dan menemukan solusi bagi kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Prof. Agus juga menyoroti fleksibilitas lulusan matematika dalam dunia kerja. Menurutnya, alumni matematika justru banyak berkiprah di berbagai sektor, seperti perpajakan, perbankan, asuransi, Badan Pusat Statistik, hingga perusahaan berbasis teknologi informasi.
“Di balik angka dan rumus matematika itu ada proses mengasah pikiran secara telaten dan teliti. Lulusan matematika umumnya fleksibel, bahkan banyak yang lebih cepat menyelesaikan berbagai pekerjaan dibanding mereka yang profesinya linier dengan disiplin ilmunya,” jelasnya.
Ia juga menegaskan bahwa perkembangan teknologi modern, termasuk Artificial Intelligence (AI), tidak lepas dari fondasi matematika melalui berbagai algoritma yang dikembangkan.
Namun demikian, ia mengakui tantangan terbesar adalah menanamkan kecintaan terhadap matematika sejak dini.
“Bagaimana matematika bisa disukai? Tentu butuh ketelatenan orang tua dan guru. Saya akui salah satu tantangannya adalah konten matematika dari SD hingga SMA yang cukup padat. Meski begitu, sudah banyak metode pembelajaran yang bisa diterapkan agar ilmu ini lebih mudah ditransformasikan kepada siswa,” tandasnya.
Sementara itu, Drs. Sunarno berbagi kisah berbeda. Jika Prof. Agus meniti karier di dunia akademik, alumnus Kimia UB angkatan kedua tahun 1988 ini justru memilih jalur praktisi dan sukses mengembangkan bisnis di bidang pengolahan air.
“Justru karena kimia dianggap sulit, saya jadi tertarik mempelajarinya,” ungkapnya.
Mengawali karier sebagai karyawan di sebuah perusahaan di kawasan Gresik, Sunarno kemudian memberanikan diri membangun usaha sendiri setelah sembilan tahun bekerja.
“Saya rasa sembilan tahun cukup untuk belajar. Tahun 2003 saatnya menerima tantangan dengan berbisnis dan belajar menjadi pengusaha,” tuturnya.
Kini, ia telah mendirikan beberapa perusahaan sebagai supplier maupun kontraktor, dengan nilai proyek mencapai miliaran rupiah. Salah satunya adalah PT Samudra Embun Anugerah yang bergerak di bidang kontraktor sistem water treatment, meliputi fresh water, drinking water, hingga sistem reverse osmosis (RO).
Meski demikian, perjalanan bisnisnya tidak selalu mudah. Ia mengaku sempat menghadapi tantangan besar, terutama karena sifat introvertnya.
“Saya akhirnya sadar, menjadi pengusaha tidak bisa berdiri sendiri. Butuh kolaborasi, teman, dan jejaring untuk saling mendukung. Karena itu saya bergabung dengan asosiasi,” jelasnya.
Sunarno juga merasa bersyukur karena ketiga putranya kini ikut terlibat dalam mengembangkan bisnis keluarga.
“Mungkin karena sejak kecil saya selalu bilang bahwa air limbah yang saya teliti di rumah itu baunya adalah bau uang,” kenang pria yang kerap menjadi dosen tamu di sejumlah perguruan tinggi ini sambil tersenyum.
Kepada mahasiswa dan pelajar SMA, ia berpesan agar tidak takut memilih jurusan kimia.
“Apapun bidangnya, total dalam bekerja adalah kuncinya. Sejak awal kita harus menentukan bidang yang benar-benar ingin ditekuni,” pesannya.
Ia pun mengapresiasi transformasi Fakultas MIPA UB menjadi Fakultas STeM. Menurutnya, perubahan ini akan membuka ruang lebih luas bagi pengembangan ilmu pengetahuan sesuai kebutuhan zaman.
“Jika ingin besar, mulailah dari mimpi besar. Tapi ketika sudah terjun ke dunia bisnis, pilihannya hanya dua: tumbuh atau mati. Jadi, total-lah dalam bekerja,” tandas lulusan CumLaude Kimia UB ini.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































