BACAMALANG.COM — Jalan kecil di wilayah RT 06 RW 02, Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, berubah menjadi ruang lintas zaman selama 14–17 Mei 2026. Lampu temaram, dekorasi tempo dulu, kostum lawas, musik retro, hingga nuansa perjuangan 1945 menyambut ribuan pengunjung yang datang menikmati Semar Tempo Doleoe Djilid 3 bertajuk “Lorong Waktu”.
Kegiatan tahunan tersebut resmi dibuka oleh Wali Kota Malang Wahyu Hidayat, dan kembali menjadi magnet warga karena berhasil memadukan hiburan rakyat, seni budaya, kuliner, serta geliat UMKM dalam satu kawasan tematik.
Selama empat hari pelaksanaan, pengunjung diajak menyusuri suasana dari berbagai era. Mulai dari nuansa kampung tempo dulu, atmosfer perjuangan kemerdekaan, hingga sentuhan retro dan kekinian yang dikemas kreatif oleh warga setempat.
Puncak keramaian terjadi pada hari terakhir ketika pertunjukan bantengan digelar. Atraksi seni tradisional tersebut menyedot antusiasme masyarakat yang memadati kawasan kampung hingga malam hari. Meski demikian, di balik kemeriahan itu, Semar Tempo Doleoe bukan sekadar festival hiburan. Event ini juga menghadirkan dampak ekonomi nyata bagi warga sekitar. Sebanyak 90 pelaku UMKM terlibat dalam kegiatan tersebut dengan total omzet mencapai sedikitnya Rp100 juta.
Ketua RT 06 RW 02 Arjosari, Edi Sugianto, mengungkapkan bahwa capaian tersebut meningkat dibanding penyelenggaraan tahun sebelumnya.

Kemeriahan Semar Tempo Doleoe Djilid 3 di wilayah RT 06 RW 02, Kelurahan Arjosari, Kecamatan Blimbing, Kota Malang, Minggu (17/5/2026). (Nedi Putra AW)
“Tahun lalu perputaran ekonomi mencapai Rp90 juta selama tujuh hari. Sementara tahun ini, angka tersebut sudah tercapai di hari ketiga karena pengunjung sangat membludak,” ujarnya di sela penutupan acara, Minggu (17/5/2026).
Acara penutupan turut dihadiri Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, dengan seremonial menabuh kentongan bersama Ketua RT dan Ketua TP PKK RT 06 RW 02. Ia menyampaikan apresiasi atas konsistensi warga menghadirkan event berbasis kampung dengan dampak luas bagi masyarakat.
“Event ini luar biasa. Meskipun berskala lingkungan kampung, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terlebih jika dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya.
Menurut Amithya, semangat gotong royong menjadi kekuatan utama Kampung Semar. Ia menilai kebersamaan seperti itu penting dijaga agar kegiatan terus berkembang sekaligus memperkuat ekonomi warga.
Politisi PDI Perjuangan tersebut juga menyoroti pentingnya penguatan sektor UMKM sebagai fondasi ekonomi masyarakat, terutama karena sektor tersebut terbukti mampu bertahan saat pandemi.
“Penguatan ini menjadi modal menghadapi tantangan global ke depan yang tentu tidak mudah,” tegasnya.
Selain menjadi ruang perputaran ekonomi, konsep “Lorong Waktu” juga dinilai memiliki nilai edukatif. Pengunjung, khususnya anak-anak dan generasi muda, diajak memahami kehidupan masa lalu melalui pendekatan wisata sejarah, budaya, dan ekonomi rakyat.
Amithya juga menyinggung pentingnya kesadaran lingkungan dalam penyelenggaraan event masyarakat, termasuk pengelolaan sampah dan keberlanjutan kawasan kampung wisata.
“Lorong Waktu ini bisa menjadi wisata edukasi yang memperkenalkan sejarah, ekonomi, budaya, sekaligus lingkungan hidup kepada generasi sekarang, apalagi Kampung Semar sendiri adalah singkatan dari ‘Senang Menanam Ramai-ramai’,” tambahnya.
Ke depan, DPRD Kota Malang menyatakan siap mendorong sinergi antara kegiatan masyarakat seperti Semar Tempo Doleoe dengan program Pemerintah Kota Malang agar manfaat sosial dan ekonominya semakin luas dirasakan warga.
Di tengah derasnya modernisasi kota, Kampung Semar membuktikan bahwa lorong-lorong kampung juga bisa menjadi ruang kreatif yang menghidupkan nostalgia, memperkuat kebersamaan, sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW


























































