BACAMALANG.COM-“The Art of Diversity” adalah cara melihat cerita dari berbagai perspektif, rasa, dan realita yang beda-beda, tapi tetap satu frame. Tema inilah yang diusung Malang Photo Club (MPC) dalam pameran fotografi Mata Emas di koridor timur Malang Town Square (Matos), mulai Sabtu-Senin (25–27/4/2026).
Selain pameran 80 foto-foto hasil kurasi dari 16 anggota MPC, dalam acara gratis dan terbuka untuk umum ini digelar pula lomba unik, yaitu foto rally pada Minggu (26/4/2026). Foto rally adalah sebuah lomba, dimana peserta mengintepretasi 25 soal, yang kali ini dilaksanakan di Kawasan mal yang berlokasi di Jalan Veteran Kota Malang tersebut.
Lomba yang diikuti 28 peserta ini membutuhkan ketelitian bagaimana menebak bagian mana atau apa yang harus dipotret dari soal yang diajukan.
“Konsepnya sama dengan pada saat lomba ini digelar di era foto analog dengan rol film, yakni foto harus urut, benar dan tepat Waktu, hanya saja sekarang media pakai memory card, dan untuk alatnya kami bebaskan peserta untuk menggunakan kamera maupun smartphone,” ungkap Ketua MPC Ronny Sugiarto, Minggu (26/4/2026) di lokasi pameran.
“The Art of Diversity”, pada prinsipnya tidak berbeda dengan pameram Mata Emas sebelumnya. Pada gelaran kesebelas kalinya ini, imbuh Ronny, ada 8 tema seperti Pendidikan, Di Jalan, Kemesraan hingga Negative Space yang harus diintrepretasikan dalam karya foto. Namun Ronny menegaskan bahwa kegiatan ini bukan kompetisi foto, meski ada mentor atau semacam juri untuk menentukan foto-foto yang lolos pameran.

Didit Prasetyo Nugroho (kanan), salah satu mentor eksternal saat memperoleh apresiasi dari pengurus MPC.
“Jadi lebih kepada kurasi untuk menentukan foto yang layak pamer. Dan kami senang dalam pameran ini sebagian anggota baru sudah menunjukkan usahanya dengan lolos pameran,” jelasnya.
Namun sebagai bentuk apresiasi, hasil para pekarya dikurasi lagi untuk meraih bebebrapa penghargaan, demikian pula bagi para mentor, yang dalam setiap kurasi ada yang dari eksternal MPC.
Salah satu mentor, Didit Prasetyo Nugroho, M.Ds., mengaku senang dapat berkolaborasi dengan MPC. Dosen Program Studi Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Ma Chung ini memberi apresiasi atas konsistensi klub foto yang cikal bakalnya sudah eksis sejak tahun 1955 ini dalam menggelar pameran sebagai agenda tahunan.
“Berbicara tentang foto, maka kita berbicara tentang cetak, meski di era digital seperti sekarang. Jadi apa yang digarap teman-teman MPC lewat pameran ini memang bagus untuk diketahui publik,” ungkapnya.
Dosen yang berencana menggelar pameran tunggal ini memberi saran dan semangat, khususnya kepada para anggota junior MPC agar lebih berani bereksplorasi fotografi seperti para seniornya.
“Jangan ragu untuk lebih berani mengartikan sebuah tema, apalagi sebagai foto seni, dalam beberapa hal dibebaskan untuk lebih berkreativitas dengan aneka tools dalam proses maupun post produksi,” tandasnya.
Pewarta/Editor : Nedi Putra AW


























































