Menakar Porsi Inklusivitas dalam Film Semua Akan Baik-Baik Saja - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 7 Jun 2026 21:38 WIB ·

Menakar Porsi Inklusivitas dalam Film Semua Akan Baik-Baik Saja


 Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad mendampingi 2 aktor down syndrome pendukung film Semua Akan Baik-Baik Saja, Rahmatullah Nan Alim dan Vanessa Calista saat live greeting nasional dari Jakarta kepada penonton di Mopic Cinemas Malang, Minggu (7/6/2026). (Nedi Putra AW)
Perbesar

Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni, Raffi Ahmad mendampingi 2 aktor down syndrome pendukung film Semua Akan Baik-Baik Saja, Rahmatullah Nan Alim dan Vanessa Calista saat live greeting nasional dari Jakarta kepada penonton di Mopic Cinemas Malang, Minggu (7/6/2026). (Nedi Putra AW)

BACAMALANG.COM – Di tengah maraknya film keluarga yang mengangkat konflik rumah tangga dan kehilangan, Semua Akan Baik-Baik Saja hadir dengan menawarkan satu hal yang cukup menarik, yakni aktor penyandang down syndrome dalam jajaran pemainnya. Film besutan Baim Wong ini tidak hanya berbicara tentang duka dan penerimaan, tetapi juga mencoba menghadirkan wajah inklusivitas dalam perfilman Indonesia.

Film ini berkisah tentang Langit (Reza Rahadian), seorang pria yang mendadak harus memikul tanggung jawab besar setelah kakaknya, Mentari (Happy Salma), meninggal dunia. Kepergian sang kakak membuat Langit harus merawat tiga keponakannya, yakni Malika, Shaffa, dan Alim (Rahmatullah Nan Alim), anak berkebutuhan khusus dengan down syndrome yang kerap menjadi sasaran perundungan.

Situasi semakin rumit ketika Ilham (Teuku Rifnu Wikana), mantan suami Mentari, kembali hadir dan memunculkan berbagai konflik keluarga. Di tengah dinamika tersebut, sosok Ibu Wida (Christine Hakim), menjadi penyeimbang yang mengajarkan tentang penerimaan, kasih sayang, dan keyakinan bahwa setiap persoalan pada akhirnya akan menemukan jalan keluar.

Film ini mendapat perhatian khusus dari berbagai komunitas disabilitas. Malang bahkan menjadi salah satu kota yang cukup istimewa dalam perjalanan promosi film tersebut. Pada 16 Mei 2026 lalu, Baim Wong bersama Rahmatullah Nan Alim hadir dalam kegiatan nonton bareng (nobar) bersama komunitas down syndrome se-Malang Raya di XXI Araya. Beberapa pekan kemudian, film ini kembali diputar dalam agenda nobar serentak di tujuh kota Indonesia yang digelar Indonesia Creative Cities Network (ICCN), termasuk di Mopic Cinemas Malang, Minggu (7/6/2026).

Kegiatan tersebut turut dihadiri berbagai komunitas kreatif, pegiat budaya, dan penyandang disabilitas. Sebelum pemutaran film, peserta mengikuti sesi live greeting nasional dari Jakarta bersama Utusan Khusus Presiden Bidang Pembinaan Generasi Muda dan Pekerja Seni Raffi Ahmad, sutradara Baim Wong, serta Ketua Umum ICCN Fiki Satari.

Dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Novin Farid Setio Wibowo (paling kanan), saat nobar film Semua Akan Baik-Baik Saja di Mopic Cinemas Malang, Minggu (7/6/2026). (Nedi Putra AW)

Di antara penonton yang hadir terdapat Novin Farid Setio Wibowo, dosen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), yang memberikan pandangannya terhadap film tersebut dari perspektif akademisi sekaligus pegiat perfilman.

Menurut Novin, secara struktur cerita film ini sebenarnya memiliki fondasi yang cukup baik. Namun banyaknya karakter yang dimunculkan membuat ruang pengenalan tokoh menjadi kurang maksimal.

“Film ini secara struktur sebenarnya cukup bagus. Hanya saja karakter yang ditonjolkan terlalu banyak sehingga penulis skenario tampak kesulitan menjelaskan latar belakang masing-masing tokoh,” ujarnya usai nobar.

Salah satu mentor di Kawasan Ekonomi Kreatif (KEK) Singosari itu menilai penonton akhirnya kesulitan menentukan pusat cerita yang sebenarnya. Apakah film berfokus pada Langit yang diperankan Reza Rahadian, Malika yang dimainkan Aquene Aziz Djorghi, atau justru Alim yang menjadi representasi inklusivitas dalam film tersebut.

“Meskipun kita tahu mereka satu keluarga, pada akhirnya penonton jadi bingung ingin menempelkan tokoh utamanya ke siapa. Akibatnya, klimaks cerita terasa kurang maksimal,” ujar sutradara sejumlah film pendek ini.

Meski demikian, Novin mengapresiasi kemampuan film ini memadukan unsur drama dan komedi sehingga tetap mampu menjaga emosi penonton sepanjang cerita, apalagi sang sutradara Baim Wong sendiri sempat tampil cameo meski hanya beberapa detik saja.

Novin menilai kehadiran Rahmatullah Nan Alim dan Vanessa Calista merupakan langkah positif bagi dunia perfilman Indonesia terkait representasi penyandang down syndrome. Baginya, keberadaan mereka menjadi bukti bahwa industri kreatif mulai membuka ruang yang lebih luas bagi kelompok disabilitas.

“Menurut saya ini sebuah penghargaan bahwa siapa pun, dengan kondisi apa pun, memiliki kesempatan yang sama untuk bermain film. Peran Alim juga cukup bagus dan sesuai porsinya,” ungkap Kaprodi Ilmu Komunikasi UMM tersebut.

Bahkan menurutnya, pada bagian akhir film, karakter Alim justru tampil sebagai salah satu elemen penting yang menjadi pemecah ketegangan cerita.

“Di akhir film, Alim menjadi semacam breaker yang cukup kuat. Kehadirannya menjadi pemecah klimaks yang selama ini ditunggu-tunggu penonton,” tambahnya.

Novin juga menilai keputusan Baim Wong menggandeng dua aktor senior, Reza Rahadian dan Christine Hakim, merupakan langkah aman namun efektif untuk menopang kekuatan cerita. Keduanya berhasil menghadirkan kualitas akting yang mampu menjaga emosi film berdurasi 113 menit ini tetap hidup.

Meski demikian, ia masih melihat kecenderungan film ini menggunakan pendekatan yang berusaha membuat penonton bersedih melalui adegan-adegan emosional yang eksplisit.

“Penonton sebenarnya bisa menangis bukan karena adegan yang sengaja dibuat sedih. Kadang justru ketika karakter tersenyum dalam situasi yang menyakitkan, efek emosinya bisa jauh lebih kuat. Beberapa adegan dalam film ini masih mengandalkan tangisan dan pelukan sebagai penanda kesedihan,” jelasnya.

Terlepas dari sejumlah catatan tersebut, Semua Akan Baik-Baik Saja bagi Novin tetap menjadi langkah menarik dalam upaya menghadirkan representasi penyandang disabilitas di layar lebar Indonesia. Film ini menunjukkan bahwa inklusivitas tidak selalu harus menjadi tema utama cerita, tetapi dapat hadir secara alami melalui karakter yang diberi ruang untuk tumbuh dan berkontribusi dalam alur narasi.

Pada akhirnya, film ini bukan sekadar kisah tentang kehilangan dan keluarga, melainkan juga tentang kesempatan yang setara, bahwa setiap orang, termasuk penyandang down syndrome, memiliki hak yang sama untuk hadir, berkarya, dan mendapatkan panggung dalam industri kreatif.

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 6 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Honda CRF Digondol Maling di Karangjuwet Karangploso, Aksi Pelaku Terekam CCTV

7 Juni 2026 - 21:47 WIB

Wujudkan Kota Kreatif yang Inklusif, Penyandang Disabilitas dan Komunitas di Malang Gelar Nobar Film “Semua Akan Baik-Baik Saja”

7 Juni 2026 - 19:56 WIB

Faza Dorong Pelatih Pramuka Kabupaten Malang Terus Adaptif dan Berkarakter

7 Juni 2026 - 18:08 WIB

Motor Beat Hitam Raib di BKM Muslimat Kepanjen, Pemilik Sebar Info Kehilangan

7 Juni 2026 - 15:42 WIB

Polres Malang Kerahkan 120 Personel dalam Operasi Patuh Semeru 2026, Andalkan Tilang Elektronik

7 Juni 2026 - 13:29 WIB

Isi Liburan Kreatif, BeSS Resort & Waterpark Malang Hadirkan “The Handmade Flower Market”

7 Juni 2026 - 11:03 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !