BACAMALANG.COM – Sektor rumah tangga masih menjadi penerima porsi terbesar penyaluran kredit perbankan di wilayah kerja Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang. Hingga Maret 2026, kredit yang disalurkan ke sektor tersebut mencapai 30,02 persen dari total penyaluran kredit.
Kepala OJK Malang, Farid Faletehan mengatakan, porsi tersebut masih lebih tinggi dibanding sektor Perdagangan Besar dan Eceran; Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor sebesar 18,64 persen serta Industri Pengolahan sebesar 18,33 persen.
“Ini menunjukkan bahwa kredit konsumsi masih menjadi main driver pertumbuhan kredit di wilayah kerja OJK Malang,” ujarnya, Selasa (26/5/2026).
Farid menjelaskan, secara year on year (yoy), kredit konsumsi tumbuh sebesar 6,62 persen, sementara kredit investasi tumbuh 3,09 persen dan kredit modal kerja tumbuh 0,49 persen.
Meski pertumbuhan kredit cukup tinggi, kualitas kredit dinilai tetap terjaga. Hal tersebut terlihat dari rasio Non Performing Loan (NPL) yang berada di angka 3,03 persen. Sementara pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga Maret 2026 tercatat meningkat 4,93 persen yoy menjadi Rp105,50 triliun.
Selain perkembangan sektor perbankan, Farid juga menyinggung upaya pemberantasan judi online yang dinilai berdampak terhadap sektor keuangan dan perekonomian.

Kepala Kantor OJK Malang, Farid Faletehan. (Nedi Putra AW)
“OJK telah meminta perbankan melakukan pemblokiran terhadap sekitar 33.252 rekening berdasarkan data dari Kementerian Komunikasi dan Digital RI,” tegasnya.
Selain pemblokiran, OJK juga meminta perbankan melakukan pengembangan penelusuran rekening yang terindikasi terkait judi online melalui proses Enhance Due Diligence (EDD).
Sementara pada sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB), penyaluran piutang pembiayaan di wilayah kerja OJK Malang masih didominasi sektor Perdagangan Besar dan Eceran serta Reparasi dan Perawatan Mobil dan Sepeda Motor dengan nilai Rp1,58 triliun atau 22,37 persen.
Di posisi berikutnya terdapat sektor Aktivitas Jasa Lainnya sebesar Rp866,18 miliar atau 12,25 persen, serta Industri Pengolahan sebesar Rp817,26 miliar atau 11,56 persen.
Farid menambahkan, OJK Malang juga terus mendorong peningkatan literasi dan inklusi keuangan melalui berbagai program edukasi kepada masyarakat.
“Sampai akhir April 2026, OJK Malang telah melaksanakan 46 kegiatan edukasi dan sosialisasi dengan total peserta mencapai 82.919 orang,” jelasnya.
Dalam periode 1 Januari hingga 30 April 2026, OJK Malang juga menerima 1.384 layanan konsumen yang terdiri dari pertanyaan sebesar 97,62 persen, pengaduan 2,17 persen, dan permintaan informasi sebesar 0,22 persen.
Ia menerangkan, bahwa dari jumlah tersebut, sebanyak 623 layanan berkaitan dengan perusahaan IKNB, 613 layanan terkait perbankan, dan 144 layanan berkaitan dengan aktivitas keuangan ilegal.
Selain itu, tambah Farid, hingga April 2026 OJK Malang telah memproses 5.084 permintaan informasi debitur melalui Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), terdiri dari 3.037 permintaan secara luring dan 2.047 secara daring.
Di sektor pasar modal, jumlah investor juga mengalami peningkatan signifikan. Total Single Investor Identification (SID) di wilayah kerja OJK Malang hingga 31 Maret 2026 tercatat mencapai 476.091 SID atau tumbuh 56,24 persen yoy.
“Peningkatan tertinggi terjadi pada SID S-INVEST yang mencapai 451.107 SID atau tumbuh 56,59 persen yoy,” tukasnya.
Sementara itu, nilai transaksi saham meningkat 59,26 persen yoy, disertai pertumbuhan frekuensi transaksi sebesar 5,98 persen yoy dan volume transaksi saham sebesar 1,08 persen yoy.
“Secara umum kondisi sektor jasa keuangan di wilayah kerja OJK Malang hingga Triwulan I 2026 masih dalam kondisi stabil dan terjaga,” tandasnya.
Pewarta/Editor: Nedi Putra AW




















































