Oleh: Muhammad Ulil Albab, S.H
Tanggal 1 Juni bukan sekadar penanda lahirnya Pancasila. Ia adalah momentum untuk mengingat kembali cita-cita besar yang diletakkan oleh Bung Karno tentang arah bangsa Indonesia. Di hadapan sidang BPUPKI pada 1 Juni 1945, Bung Karno menggali nilai-nilai yang hidup di tengah rakyat Indonesia dan merumuskannya menjadi dasar negara yang kemudian kita kenal sebagai Pancasila.
Pancasila bukan hadiah dari langit. Ia lahir dari pergulatan sejarah panjang bangsa Indonesia melawan penjajahan, kemiskinan, ketidakadilan, dan segala bentuk penindasan terhadap manusia. Karena itu, memperingati Hari Lahir Pancasila tidak cukup hanya dengan upacara dan seremoni. Yang lebih penting adalah bagaimana nilai-nilai Pancasila diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Di tengah berbagai persoalan yang dihadapi rakyat saat ini, pertanyaan mendasarnya adalah: apakah nilai-nilai Pancasila benar-benar telah menjadi arah pembangunan bangsa?
Ketika petani masih kesulitan mendapatkan pupuk sesuai haknya, ketika buruh bekerja keras tetapi tetap hidup dalam ketidakpastian ekonomi, ketika rakyat kecil harus berhadapan dengan birokrasi yang tidak transparan, maka kita harus berani melakukan refleksi. Sebab Pancasila tidak hanya berbicara tentang simbol negara, tetapi juga tentang keadilan sosial yang harus dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia.
Sila Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh hanya dinikmati oleh segelintir orang. Negara harus hadir untuk melindungi mereka yang lemah dan memastikan bahwa hasil pembangunan dapat dirasakan secara merata. Keadilan bukanlah slogan, melainkan amanat konstitusi yang harus diwujudkan dalam kebijakan dan tindakan nyata.
Begitu pula Sila Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, mengandung pesan bahwa kekuasaan harus dijalankan dengan mendengarkan suara rakyat. Demokrasi bukan hanya soal pemilu lima tahunan, tetapi juga tentang kesediaan para pemegang kekuasaan untuk membuka ruang kritik dan partisipasi masyarakat.
Sebagai organisasi yang lahir dari rahim pemikiran Bung Karno, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), memiliki tanggung jawab moral dan historis untuk terus mengawal cita-cita tersebut. Marhaenisme mengajarkan bahwa politik harus berpihak kepada rakyat kecil, kepada petani, buruh, nelayan, pedagang kecil, dan seluruh kelompok masyarakat yang selama ini menjadi tulang punggung bangsa.
Oleh karena itu, memperingati Hari Lahir Pancasila juga berarti memperkuat komitmen untuk melawan segala bentuk ketidakadilan, korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, dan praktik-praktik yang menjauhkan negara dari rakyatnya. Kritik terhadap kebijakan publik bukanlah bentuk permusuhan terhadap pemerintah, melainkan bagian dari upaya menjaga agar arah pembangunan tetap sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Bagi kaum muda, khususnya mahasiswa, tantangan terbesar hari ini bukan lagi penjajahan fisik seperti yang dihadapi para pendiri bangsa. Tantangan kita adalah bagaimana memastikan bahwa Indonesia tidak kehilangan arah ideologis di tengah arus pragmatisme, individualisme, dan ketimpangan sosial yang semakin nyata.
Mahasiswa harus tetap menjadi kekuatan moral, kekuatan intelektual, dan kekuatan kontrol sosial. Mahasiswa tidak boleh menjadi penonton ketika rakyat menghadapi kesulitan. Sebaliknya, mahasiswa harus hadir di tengah masyarakat, mendengar suara mereka, mengorganisir aspirasi mereka, dan memperjuangkannya melalui jalur-jalur demokratis.
Pancasila akan tetap hidup bukan karena dihafalkan, tetapi karena diperjuangkan. Pancasila akan tetap relevan bukan karena diperingati setiap tahun, tetapi karena dijadikan pedoman dalam membangun kehidupan yang lebih adil dan bermartabat.
Pada momentum 1 Juni ini, mari kita jadikan Pancasila bukan sekadar dokumen sejarah, melainkan energi perjuangan untuk menghadirkan Indonesia yang lebih berkeadilan. Sebab cita-cita para pendiri bangsa belum selesai. Dan tugas sejarah generasi hari ini adalah memastikan bahwa negara benar-benar hadir untuk seluruh rakyat Indonesia.
Dirgahayu Hari Lahir Pancasila.
“Negara Republik Indonesia bukan milik suatu golongan, bukan milik suatu agama, bukan milik suatu kelompok etnis, tetapi milik seluruh rakyat Indonesia.”
— Soekarno
Merdeka!
Marhaen Menang!
GMNI Jaya!
*) Penulis Muhammad Ulil Albab, S.H, Ketua DPC GMNI Kabupaten Malang
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis





















































