BACAMALANG.COM – Keluarga besar Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) melaksanakan Sholat Idul Fitri 1447 Hijriah di helipad UMM, Jumat (20/3/2026). Sholat berlangsung khidmat dengan imam sekaligus khotib Prof. Dr. Biyanto, M.Ag, serta dihadiri civitas akademika UMM dan masyarakat sekitar.
Dalam khutbahnya, Prof. Biyanto menegaskan bahwa Idul Fitri tidak sekadar menjadi penanda berakhirnya Ramadan, tetapi juga momentum penting untuk melakukan retret kultural dan spiritual.
Ia menjelaskan, tradisi mudik yang telah mengakar dalam masyarakat Indonesia memiliki makna lebih dalam daripada sekadar perjalanan pulang kampung. Mudik, menurutnya, merupakan bentuk retret kultural yang memperkuat identitas sosial sekaligus retret spiritual yang mengembalikan manusia pada nilai-nilai fitrah.
“Melalui mudik, masyarakat tidak hanya melakukan perjalanan fisik, tetapi juga perjalanan batin untuk kembali pada akar budaya dan nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya.
Retret kultural, lanjutnya, tercermin dari upaya menjaga tradisi silaturahmi, mempererat hubungan keluarga, serta merawat kearifan lokal yang diwariskan lintas generasi. Tradisi saling mengunjungi, bermaaf-maafan, hingga berkumpul bersama keluarga besar menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Sementara itu, retret spiritual hadir melalui refleksi diri setelah menjalani ibadah Ramadan. Momentum Idul Fitri dimanfaatkan untuk mengevaluasi diri, memperbaiki hubungan dengan sesama, serta memperkuat hubungan dengan Tuhan.
Prof. Biyanto menegaskan bahwa kedua dimensi tersebut tidak dapat dipisahkan. Retret kultural tanpa spiritualitas akan kehilangan makna, sedangkan retret spiritual tanpa sentuhan sosial dan budaya akan terasa hampa dalam kehidupan bermasyarakat.
Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga nilai-nilai yang telah dibangun selama Ramadan, seperti empati, kepedulian, dan pengendalian diri, agar tetap hidup setelah Idul Fitri. Dalam hal ini, mudik menjadi ruang aktualisasi nilai-nilai tersebut dalam kehidupan nyata.
“Idul Fitri adalah momentum untuk kembali ke fitrah, bukan hanya secara personal, tetapi juga dalam relasi sosial. Di sinilah pentingnya menjaga keseimbangan antara dimensi budaya dan spiritual,” tuturnya.
Sementara itu, Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, M.Si., mengajak seluruh jamaah menjadikan Idul Fitri sebagai sarana mempererat kembali hubungan sosial yang mungkin sempat renggang. Ia menegaskan bahwa Idul Fitri harus menjadi titik balik dalam membangun persaudaraan dan kekerabatan sebagai manifestasi ibadah dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Ia juga menekankan pentingnya kepedulian sosial sebagai buah dari ibadah puasa yang dijalankan secara mendalam. Menurutnya, puasa pada tingkat khawas al-khawas tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga mengendalikan hawa nafsu terhadap urusan dunia.
“Dengan demikian, kita menjadikan dunia ini sebagai jalan perbaikan dan amal ihsan, sebagai wujud kesejatian manusia,” ungkapnya.
Nazaruddin Malik turut menyampaikan ucapan Idul Fitri kepada seluruh jamaah, sekaligus memohon maaf atas segala kekurangan selama penyelenggaraan Ramadan hingga pelaksanaan Sholat Idul Fitri.
Dengan demikian, Idul Fitri tidak hanya menjadi perayaan tahunan, tetapi juga momentum refleksi menyeluruh untuk menguatkan dimensi kultural dan spiritual sekaligus mempererat hubungan sosial di tengah masyarakat.
Pewarta: Rohim Alfarizi
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga




























































