Silaturahmi Lebaran: Tradisi Jawa agar Tidak “Kepaten Obor” dan Mendoakan Leluhur - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

HEADLINE · 22 Mar 2026 15:26 WIB ·

Silaturahmi Lebaran: Tradisi Jawa agar Tidak “Kepaten Obor” dan Mendoakan Leluhur


 Suasana khusyuk dan hangat mewarnai Silaturahi Lebaran di Dusun Bodho Ngebruk, Sumberpucung, ratusan anak cucu dan keturunan keluarga besar Bani Wongso Karto berkumpul dan memanjatkan doa bersama arwah leluhur agar diterima di sisi Allah. (Huda for Baca Malang) Perbesar

Suasana khusyuk dan hangat mewarnai Silaturahi Lebaran di Dusun Bodho Ngebruk, Sumberpucung, ratusan anak cucu dan keturunan keluarga besar Bani Wongso Karto berkumpul dan memanjatkan doa bersama arwah leluhur agar diterima di sisi Allah. (Huda for Baca Malang)

BACAMALANG.COM – Lebaran bukan sekadar perayaan kemenangan setelah sebulan berpuasa. Bagi masyarakat Jawa, termasuk di Kabupaten Malang, momen ini juga menjadi ajang penting untuk menjaga ikatan tali keluarga agar tidak “kepaten obor” atau terputus ikatan dengan leluhur.

Di Dusun Bodho Ngebruk, Sumberpucung, ratusan anak cucu dan keturunan keluarga besar Bani Wongso Karto berkumpul dalam acara silaturahmi, Minggu (22/3/2026). Suasana hangat terasa sejak pagi, ketika doa bersama dipanjatkan untuk arwah leluhur agar diterima di sisi Allah.

“Dengan silaturahmi ini, kita bisa mengenal kakek nenek dan saudara-saudara kita yang sudah meninggal, sekaligus mendoakan mereka,” tutur M. Huda, warga Kepanjen, Kabupaten Malang.

Usai doa, hidangan khas Lebaran seperti ketupat dan ikan mujaer tersaji di meja. Lebih dari seratus orang hadir—mulai dari anak cucu, buyut, hingga canggah—menciptakan suasana guyub penuh keakraban. Anak-anak pun tersenyum ceria mendapat uang sebagai simbol kasih sayang dan keberkahan.

Tradisi Halal Bihalal atau Sungkeman menjadi inti dari pertemuan ini. Dalam budaya Jawa, sungkeman menjadi ritual sakral, sarana menguatkan silaturahmi, membersihkan hati dari kesalahan, menghormati leluhur, menjadikan penduduk langit sumringah dan booster spiritual tiap insan jalani kehidupan setelah Ramadan. Nilai spiritual dan sosial berpadu, menjadikan tradisi ini warisan yang patut dijaga.

Harapannya, generasi muda semakin mengenal akar keluarga mereka, menghargai leluhur, dan meneruskan tradisi yang telah diwariskan. Sebab, silaturahmi menjadi momen mengesankan berkumpul, dan juga ikhtiar mulia menjaga nyala obor kebersamaan agar tidak padam.

Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 70 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

JMSI Jatim Siap Gelar Pelantikan Pengurus dan FGD Media

2 Juni 2026 - 19:12 WIB

Sukses Reboisasi Pujon Hill, UMM Hidupkan Kembali Mata Air dan Pasok Air Bersih untuk Empat Dusun

2 Juni 2026 - 18:54 WIB

Renungan Peringatan 1 Juni, Pancasila Adalah Rumah Bersama

1 Juni 2026 - 12:44 WIB

Hari Lahir Pancasila: Meneguhkan Gotong – Royong di Tengah Arus Individualisme

1 Juni 2026 - 12:38 WIB

Bukti Daya Saing Global, Mahasiswa UNISMA Jadi Delegasi Konferensi Internasional Asia Tenggara

1 Juni 2026 - 05:24 WIB

SPPG di Kampus Tuai Kritik, Akademisi UB: Bukan Tugas Perguruan Tinggi

31 Mei 2026 - 19:04 WIB

Trending di HEADLINE

©Hak Cipta Dilindungi !