BACAMALANG.COM – Kehilangan orang yang dicintai seringkali meninggalkan ruang kosong yang tidak mudah diisi. Waktu mungkin terus berjalan, tetapi kerinduan kepada seseorang yang telah pergi terkadang tetap tinggal di dalam hati.
Hal tersebut yang dirasakan musisi Jo Andi. Ia menuangkan pengalaman kehilangan sang Ibu ke dalam sebuah karya musik berjudul : Damai di Keabadian.
“Lagu ini lahir dari peristiwa yang sangat personal dalam hidupnya, kepergian sang Ibu untuk selamanya. Namun “Damai di Keabadian” tidak ingin berhenti menjadi cerita pribadi,” terang Jo Andi, Selasa (15/9/2026).
Jo Andi menjadikan pengalaman tersebut sebagai karya yang diharapkan dapat mewakili perasaan siapa pun yang pernah kehilangan orang yang mereka cintai.
Menurutnya, kehilangan memiliki banyak wajah. Ada anak yang kehilangan orang tuanya, orang tua yang kehilangan anaknya, suami atau istri yang harus menjalani hidup tanpa pasangan, hingga seseorang yang kehilangan sahabat terbaiknya.
“Itulah mengapa saya ingin lagu ini bukan hanya menjadi cerita tentang saya dan Ibu saya. Saya ingin siapa pun yang pernah kehilangan bisa menemukan dirinya di dalam lagu ini,” ujar Jo Andi.
“Damai di Keabadian” membawa pesan bahwa kematian mungkin mengakhiri perjumpaan secara fisik, tetapi tidak serta-merta mengakhiri cinta. Kenangan tetap hidup, kasih tetap tinggal.
Lagu ini juga menjadi pengingat bahwa merelakan seseorang pergi bukan berarti berhenti mencintainya. Justru terkadang, bentuk cinta yang paling dalam adalah belajar menerima bahwa orang yang kita cintai sudah tidak bisa lagi berada di sisi kita.
Melalui karya ini, Jo Andi ingin memberikan ruang bagi mereka yang sedang berduka. Bagi seseorang yang masih menyimpan foto orang tuanya, bagi anak yang masih merindukan pelukan ayah atau ibunya, bagi orang tua yang masih menyebut nama anaknya dalam doa, hingga bagi sahabat yang tiba-tiba harus menjalani hari tanpa sahabat terbaiknya.
Jo Andi berharap “Damai di Keabadian” dapat menjadi teman bagi mereka yang sedang merindukan. Bukan untuk menghapus rasa kehilangan, tetapi untuk menemani melewati rasa tersebut.
“Damai di Keabadian” akhirnya menjadi lebih dari sekadar lagu tentang kematian. Ia menjadi cerita tentang cinta yang tetap hidup setelah perpisahan, tentang kerinduan yang tidak selalu harus diucapkan, dan tentang belajar percaya bahwa mereka yang telah pergi telah menemukan kedamaian.
Jo Andi mempersembahkan lagu ini untuk semua yang pernah kehilangan. Karena mungkin orang yang kita cintai sudah tidak dapat kita peluk lagi, tetapi cinta mereka akan selalu menemukan tempat untuk tinggal, di dalam hati kita
Pewarta : Hadi Triswanto
Editor : Rahmat Mashudi Prayoga





















































