BACAMALANG.COM — Prestasi membanggakan kembali ditorehkan siswa SMK PGRI 3 Kota Malang. Kali ini, talenta muda sekolah tersebut sukses mengukir prestasi di ajang Kapolri Cup E-Sport tingkat nasional dengan membawa nama Polda Jawa Timur.
Tim yang diperkuat siswa SMK PGRI 3 Kota Malang itu berhasil meraih juara III tingkat nasional, setelah melewati persaingan berjenjang mulai dari tingkat Polres, Polda Jawa Timur, hingga kompetisi nasional yang mempertemukan perwakilan dari 34 provinsi.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa prestasi siswa tidak hanya lahir dari ruang kelas. Dunia e-sport juga dapat menjadi wadah untuk mengasah strategi, kerja sama tim, disiplin, komunikasi, sekaligus mental kompetitif.
Kepala SMK PGRI 3 Kota Malang, Dr. M. Lukman Hakim, S.T., M.M., mengatakan sekolah berkomitmen memberikan ruang seluas-luasnya bagi siswa untuk mengembangkan potensi yang dimiliki.
«“Kami fokus pada penguatan talenta anak-anak agar mereka dapat mengembangkan potensi dan meraih prestasi, baik akademik maupun nonakademik. Keduanya harus berjalan seimbang karena masa depan siswa tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik, tetapi juga keterampilan dan soft skill,” ujarnya.»
Menurut Lukman, pengembangan bakat siswa dilakukan melalui berbagai kegiatan dan kompetisi, baik di dalam maupun di luar sekolah. Siswa diberikan kesempatan untuk memilih bidang sesuai minat dan kemampuan masing-masing.
Bidang yang dikembangkan pun beragam, mulai dari olahraga, seni, teknologi, kepemimpinan hingga e-sport. Selain mengejar prestasi, berbagai kegiatan tersebut menjadi sarana bagi siswa untuk belajar bekerja sama, berkomunikasi, menjaga kedisiplinan, berpikir kreatif, dan mengelola tekanan saat berkompetisi.
Salah satu siswa yang ikut mengantarkan tim Polda Jawa Timur meraih juara III adalah Al Hazby Lazuardy Yahya, siswa kelas XII Jurusan Elektronika Industri SMK PGRI 3 Kota Malang.
Al Hazby menceritakan, perjalanan menuju panggung nasional tidak diraih secara instan. Tim harus terlebih dahulu melewati seleksi di tingkat Polres sebelum berkompetisi di tingkat Polda Jawa Timur.
«“Awalnya kami mengikuti seleksi di tingkat Polres. Setelah menjadi juara, kami mewakili Polres untuk bertanding di tingkat Polda. Di tingkat Polda kami berhasil menjadi juara sehingga berkesempatan mewakili Polda Jawa Timur di tingkat nasional,” jelasnya.»
Tim tersebut dihuni lima pemain yang berasal dari sejumlah sekolah, di antaranya SMK PGRI 3 Kota Malang, SMK Negeri 4 Malang, dan SMK Mediatama.
Persaingan di tingkat Polda Jawa Timur menjadi salah satu tantangan terberat. Al Hazby menyebut tim asal Kabupaten Jember sebagai salah satu lawan yang harus diwaspadai karena memiliki pengalaman serta rekam jejak prestasi di berbagai kompetisi e-sport.
«“Jember menjadi salah satu lawan terberat. Mereka sudah memiliki pengalaman dan pernah menjadi juara nasional. Namun, kami mendapat dukungan dari pelatih sehingga lebih siap secara mental maupun strategi,” katanya.»
Pengalaman bertanding sebelumnya juga menjadi modal penting bagi Al Hazby. Ia pernah mengikuti kompetisi tingkat provinsi sehingga lebih terbiasa menghadapi tekanan dan atmosfer pertandingan kompetitif.
Tantangan semakin besar ketika tim Polda Jatim tampil di tingkat nasional. Berhadapan dengan tim dari berbagai provinsi, mereka harus mampu menjaga konsentrasi sejak pertandingan awal.
Salah satu laga penting terjadi ketika mereka bertemu tim asal Bali.
«“Kami langsung bertemu Bali. Pertandingan itu cukup menentukan mental kami. Alhamdulillah, kami bisa memenangkan pertandingan dan melanjutkan ke babak berikutnya,” ujarnya.»
Selain Al Hazby, ada pula M. Muhammad Marfiano Putra Attala yang turut menjadi bagian dari tim. Marfiano mengaku awalnya direkrut setelah bertemu dengan sejumlah pemain dalam turnamen lokal.
«“Saya sebenarnya berasal dari Kabupaten Malang, kemudian direkrut untuk memperkuat tim yang mewakili Polres Batu. Kami mengikuti kualifikasi dan berhasil menjadi juara pertama sehingga bisa mewakili Polda Jawa Timur,” ungkapnya.»
Setelah menjuarai kompetisi tingkat Polda Jawa Timur, perjuangan mereka berlanjut ke Jakarta. Di tingkat nasional, tim Polda Jatim harus berhadapan dengan wakil dari 34 provinsi.
Persaingan ketat akhirnya mengantarkan tim tersebut finis di posisi ketiga nasional.
«“Alhamdulillah, kami bisa meraih juara III tingkat nasional. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga. Tahun depan kami akan mencoba kembali dan menargetkan juara pertama,” kata Marfiano.»
Bagi Marfiano, prestasi tersebut bukan sekadar soal kemenangan di arena pertandingan. Kompetisi tersebut juga menjadi pengalaman berharga untuk membangun mental, kerja sama, strategi, dan kepercayaan diri.
Ia bahkan memiliki cita-cita untuk melanjutkan karier sebagai pemain e-sport profesional. Meski demikian, pendidikan tetap menjadi prioritas yang harus diselesaikan.
Prestasi di Kapolri Cup E-Sport tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana lingkungan pendidikan dapat menjadi ruang tumbuh bagi berbagai talenta siswa.
SMK PGRI 3 Kota Malang pun terus mendorong siswa untuk mengembangkan kemampuan secara seimbang, tidak hanya melalui prestasi akademik, tetapi juga olahraga, seni, teknologi, hingga e-sport.
Dengan dukungan sekolah, pelatih, dan lingkungan yang tepat, talenta siswa diharapkan tidak berhenti pada sebuah trofi, tetapi menjadi bekal untuk membangun keterampilan dan karakter dalam menghadapi dunia kerja maupun melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya. (yon)




















































