Oleh: Pietra Widiadi
Waktu di Jakarta saya tinggal di Condet, kawasan yang lebih dikenal sebagai wilayah budaya daripada wilayah administrasi. Tanaman khas Condet dulu banyak, seperti duku, salak, bidara, dan menteng. Di rumah saya mewarisi lima pohon duku.
Pohon duku biasanya panen sekali setahun. Rasanya manis, tidak kalah dengan langsat Pontianak. Setelah 20 tahun hidup bersama lima pohon itu, saya menyadari siklusnya tidak selalu tahunan. Ada tahun yang berbuah lebat setiap dua atau empat tahun sekali. Ada juga tahun yang buahnya hanya sedikit.
Siklus Kopi
Setiap tanaman punya kawasan yang cocok untuk tumbuh dan berkembang. Seperti kopi di kawasan Gunung Kawi di mana, Saya sudah tinggal selama 12 tahun. Khususnya di lereng Gunung Kawi sisi tenggara sebagai petani kopi robusta dan arabika.
Sama seperti duku di Condet, kopi di Kawi juga punya siklus. Secara umum kopi panen sekali dalam setahun. Berdasarkan amatan saya, masa panen di lereng Kawi berlangsung tiga sampai lima bulan.
Hasil panen dipengaruhi budidaya seperti pembibitan, pemupukan, pemangkasan, dan penjarangan. Cuaca juga berperan, terutama hujan dan suhu udara. Masyarakat petani kopi menyebut periode suhu dingin disertai hujan sebagai “udan ne” kopi, atau hujan jatahnya kopi. Dalam setahun biasanya terjadi dua kali.
Saat musim kopi berbunga, warga menunggu suhu menghangat dan hujan turun, karena hari-hari suhu udara cukup dingin. Jika suhu mencapai puncak dingin tanpa hujan, bunga tidak mekar sempurna. Dingin, hujan, dan wangi bunga kopi menjadi satu kesatuan. Menariknya, bau bunga kopi tidak tercium saat didekati. Wanginya justru menyebar di seluruh area kebun.
Secara kalender Masehi, panen kopi umumnya berlangsung Mei hingga September, sekitar lima bulan. Panen tidak selalu selesai serentak karena masih ada buah yang belum matang. Sisa panen itu menjadi penanda peralihan menuju siklus berikutnya.
Di akhir panen, masyarakat yang masih memegang tradisi biasanya menggelar selametan syukur, yaitu penggalan dari Metri Kopi atau Metri Tegal. Tradisi itu bentuk terima kasih kepada tanah, tanaman, alam, dan leluhur. Metri Kopi menandai berakhirnya satu siklus produksi dan dimulainya persiapan siklus berikutnya.
Siklus Panen Besar
Setiap petani berharap panen tahunan melimpah. Harapan itu membuat petani menjalankan Metri dengan cermat, mulai dari memilih bibit, merawat tanah, memelihara kebun, hingga menentukan waktu panen. Metri bukan hanya teknis budidaya, tetapi juga sikap merawat kebun dengan tanggung jawab kepada alam.
Petani sadar hasil tidak sepenuhnya dalam kendali manusia. Cuaca, curah hujan, kondisi tanah, hama, dan dinamika ekologis ikut menentukan. Panen dipahami sebagai hasil hubungan timbal balik antara manusia, tanaman, tanah, dan alam.
Tahun lalu petani di lereng Gunung Kawi mengalami panen melimpah. Tanaman berbuah lebat dan produksi melebihi harapan. Tahun ini berbeda. Sejak fase pembungaan, bunga yang muncul lebih sedikit. Bagi petani, ini bukan kegagalan. Ini bagian dari siklus alam yang naik turun mengikuti cuaca, kelembapan, kesuburan tanah, dan keseimbangan kebun.
Tahun ini suhu dingin dan curah hujan datang tidak lebih intens, bahkan saat seharusnya memasuki musim kering. Petani menyebut kondisi sangat dingin di malam hari pada musim kemarau sebagai mbediding. Dalam setahun biasanya ada dua periode suhu sangat dingin disertai hujan ekstrem.
Perubahan suhu, kelembapan, dan curah hujan langsung memengaruhi pembungaan dan pembentukan buah. Petani membaca tanda ini. Peluang bunga muncul serempak besar ketika periode dingin kering diikuti hujan singkat di puncak dingin. Perubahan dari kering ke hujan menjadi pemicu fisiologis tanaman.
Tidak hanya kopi. Pohon randu, jarak, cengkeh, dan tanaman lain juga menunjukkan perubahan pertumbuhan dan pembungaan mengikuti musim. Bagi petani, perubahan pada tanaman lain menjadi penanda alam untuk memperkirakan perkembangan kopi. Siklus tumbuhan adalah bagian dari sistem ekologis yang saling terkait.
Tata Kelola Kopi yang Baik
Produksi memengaruhi harga, baik buah (cerry) kopi, green bean, maupun kopi sangrai. Namun harga tidak hanya ditentukan jumlah produksi dan cuaca. Dinamika pasar juga berperan, termasuk perilaku pedagang, pembeli, dan spekulan.
Saat ini struktur pasar berubah. Pemilik warung, kedai, dan kafe tidak lagi selalu membeli lewat pedagang. Banyak yang membeli langsung ke petani untuk mendapat bahan baku dan mengolah sendiri. Pola ini menciptakan hubungan yang lebih beragam dan membuka peluang harga berbeda berdasarkan kualitas, volume, kontinuitas, dan kepercayaan.
Harga kopi bisa dipantau dari tren pasar. Namun petani di lereng Gunung Kawi belum sepenuhnya mendapat harga yang layak. Harga lokal dipengaruhi harga komoditas di pasar internasional, terutama perdagangan berjangka di London dan New York.
Posisi petani lemah dalam menentukan harga. Petani berada di awal rantai nilai dengan keterbatasan informasi, pengolahan, dan akses pasar, dan bukan pada modal. Akibatnya, meski memahami biaya produksi dan kualitas, petani tetap sulit menetapkan harga sesuai harapan.
Harga yang diterima petani adalah hasil mekanisme pasar global dan posisi tawar pelaku di antara petani dan konsumen akhir. Fluktuasi itu memengaruhi langsung penghidupan. Saat harga turun bertepatan dengan kebutuhan rumah tangga naik, petani kesulitan memenuhi kebutuhan pokok, pendidikan, dan biaya produksi.
Kerentanan ini paling terasa pada petani dengan lahan kurang dari satu hektar. Skala kecil membuat budidaya, panen, pascapanen, pengolahan, dan pemasaran sulit dilakukan optimal secara individu.
Karena itu pembagian peran dan kerja kolektif menjadi penting. Selain modal dan keterampilan teknis, petani perlu pengetahuan tentang pasar, kualitas, biaya produksi, dan informasi harga. Akses ke pasar yang transparan juga harus diperkuat.
Dengan kerjasama, keterbukaan informasi, pembagian risiko, pembagian keuntungan yang adil, dan hubungan langsung ke pasar, petani punya peluang mengubah posisi dari _price taker_ menjadi pelaku yang punya daya tawar. Penguatan kelembagaan dan kerja kolektif menjadi strategi untuk mengurangi ketergantungan pada mekanisme pasar yang tidak terkendali dan menciptakan tata niaga kopi yang lebih transparan, efisien, dan berkeadilan.
_) Penulis Pietra Widiadi, Founder Pendopo Kembangkopi, pejalan tradisi Jawa, Sosiolog alumni Unair dan sedang menyelesaikan studi doktoral dengan kajian sosial-budaya Jawa di Unmer, Malang
_) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis





















































