Warung Pendopo Kembang Kopi, Gairahkan Spirit Penghidupan Petani - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

KULWIS · 13 Jul 2020 07:59 WIB ·

Warung Pendopo Kembang Kopi, Gairahkan Spirit Penghidupan Petani


 Warung Pendopo Kembang Kopi, Gairahkan Spirit Penghidupan Petani Perbesar

BACAMALANG.COM – Berupaya memberikan apresiasi dan penguatan spirit penghidupan bagi petani, Owner Pendopo Kembang Kopi Pietra Widiadi menggelar Selametan pembukaan warung diiringi doa berbahasa Jawa, Sabtu (11/7/2020).

“Saya bersyukur pembukaan warung sukses. Saya berharap bisa memberi penguatan bagi spirit penghidupan petani untuk eksis dan mandiri,” tegas Pietra Widiadi.

Sekilas informasi, Warung Kembang Kopi kampus Pendopo Kembang Kopi berada di bawah naungan lembaga dial (drive innovations for alternative livelihood) Foundation.

Lembaga nirlaba dengan pelayanan penguatan kapasitas kelembagaan dan pengembangan rekayasa infrastruktur sosial dalam upaya pengembangan mata pencarian (penghidupan) alternative di pedesaan yang bertumpu pada hasil komodita pertanian dalam kerangka bisnis sosial sebagai upaya pencapaian tujuan pembangunan yang lestari.

Lembaga ini didirikan sejak tahun 2010, dan baru pada tahun 2015, mendirikan sebuah tempat belajar yang disebut community learning di Dusun Ngemplak, Desa Sumbersuko, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang.

Pada hari Sabtu Pon, 2020, kemarin melakukan selametan atau dalam istilah Jawanya Metri Warung. Ini selametan yang dihantarkan oleh seorang tokoh desa, pak Dasreem namanya dan dengan menggunakan doa dalam Bahasa Jawa.

Sabtu Pon memiliki makna yang kuat dan besar, dengan angka total 16. Selametan dihadiri oleh perwakilan Kecamatan Wagir yang juga merupakan perwakilan dari Badan Pemberdayaan Desa, Kabupaten Malang.

“Kehadiran sahabat dan warga sekitar kampus Pendopo Kembang Kopi, merupakan sebuah doa untuk warung ini berkembang dan menjadi inspirasi bagi warga dan jaringan kerja pegiat desa di Malang Raya dan Jawa Timur pada Khususnya dan Indonesia pada Umumnya,” urai Pietra.

Dikatakannya, warung ini adalah bagian dari hidupnya yang awalnya digunakan sebagai ruang makan peserta pelatihan fasilitator masyarakat yang diselenggarakan oleh dial-foundation. Sekitar 200 failitator telah dilahirkan dari kampus PèK (Pendopo Kembang Kopi) ini.

Pria alumnus FISIP Universitas Airlangga ini mengungkapkan, penamaan Kembang Kopi karena terinspirasi keberadaannya di tengah kebun Kopi yang pada saat musim bunga, akan menjadi kopi menyebarkan harum wangi.

Wangi kembang Kopi, pada saat musim kemarau dan suhu udara yang dingin (mbediding istilah Jawanya), pada sekitar 18-19 derajad Celcius, bunga mulai dihisap putiknya oleh Kumbang.

Dalam dingin yang menggigil, para Kumbang berpesta membantu penyerbukan putik Kopi yang akan melahirkan pentil Kopi.

Bersuka, berpestanya para Kumbang pada malam hari yang menggigil itu juga kemudian disusul oleh berpestanya para Lebah pada siang hari, melahirkan wewangian kembang Kopi.

Maka dengan nama Pendopo Kembang Kopi ini, diharapkan bukan sekedar wanginya yang merebak seantero desa, tetapi adalah keceriaan Kopi karena dapat memberikan sumbangsih pada Lebah dan serangga untuk hidup dan menghasilkan produk yang lain berupa madu. Ini seperti sebuah pengorbanan tetapi ini sejatinya adalah simphoni indah yang menggerakkan kehidupan bagi sesama.

Filosofi ini coba menjadi inspirasi bagi Warung Kembang Kopi, menjadi rujukan belajar, menjadi tempat dan jujugan kawan-kawan yang haus akan pengetahuan.

“Dalam hal ini, warung bukanlah tujuan utama, yang menjadi tujuan adalah perjumpaannya, pertemuan sesama kawan untuk mendorong lahirnya alternative penghidupan (mata pencaharian) bagi masyarakat, khusunya masyarakat petani yang mulai merasa tidak lagi punya masa depan dan penghidupan yang layak dan lestari,” tutur Pietra mengakhiri. (Had/Red)

Artikel ini telah dibaca 88 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Disparbud Gandeng Penggerak Konservasi Perkuat Ekowisata dan Eduwisata Pesisir Malang Selatan

7 Juni 2026 - 09:26 WIB

Ngopi di Bangunan Kolonial Belanda, 7 Cafe Batu Tawarkan Sensasi Berbeda dengan Harga Ramah Kantong

31 Mei 2026 - 19:45 WIB

Libur Panjang, 3.500 Wisatawan Padati Mikutopia: Wahana Mega Disco Jadi Favorit Pemacu Adrenalin

31 Mei 2026 - 15:58 WIB

Viral di Medsos, Kenz’s Hill Cafe & Resto Batu Suguhkan Panorama 360 Derajat, Sunrise hingga Citylight Point

24 Mei 2026 - 05:34 WIB

Bisa Bikin Milkshake Sendiri, Edukasi Coklat Seru di Batu Love Garden

29 April 2026 - 16:49 WIB

Tak Lagi Sekadar Jalur Bromo, Poncokusumo Siap Jadi Destinasi Wisata Mandiri

28 April 2026 - 09:41 WIB

Trending di KULWIS

©Hak Cipta Dilindungi !