Oleh: Pietra Widiadi
Desa Kranggan, salah satu desa tua di Kabupaten Malang. Punden Kemuning merupakan ikon desa ini. Punden Kemuning terletak di Dusun Kemuning, Desa Kranggan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang. Punden ini adalah situs keramat yang sangat dihormati oleh warga desa Kranggan. Di lokasi ini merupakan sebuah situs, terdapat prasasti tinggalan masa Kerajaan Tumapel dari Raja Wisnuwardhana.
Situs yang tidak hanya ditandai dengan prasasti, tetapi juga sebuah hutan kecil seluas kurang lebih 2 Ha dengan pohon-pohon tua. Situs yang menyimpan artefak batu patok dan prasasti yang merupakan peninggalan masa Singosari. Walau prasasti tersebut sudah mengalami aus, keberadaannya membuktikan nilai historis wilayah Kranggan sejak masa lampau.
Setiap bulan Suro, yang merupakan penanggalan tahun baru Jawa Saka, tempat ini merupakan rujukan untuk menyampaikan penghormatan pada leluhur desa. Dimulai dari upacara Bersih Desa, yang lupa dengan tidak membersihlan desa dalam hajatan desa, lebih menonjolkan pesta rakyatnya. Dan ini ditandai dengan selametan, di mana tanda ini menjadi petunjuk hidupnya Tradisi Wayang Topeng Jenar Kemuning.
Punden ini sangat lekat dengan Upacara Wayang Topeng Jenar Kemuning. Sebuah ritual untuk menyampaikan rasa bakti bahwa mereka mendapatkan berkah dari warisan leluhur. Acara ini rutin digelar sebagai wujud pelestarian budaya Wayang Topeng Malangan.
Metri Topeng
Hari ini, Buda (Rabu) Kliwon, dilakukan setiap Buda Kliwon bulan Suro, dilaksanakan metri Topeng, yaitu menghaturkan rasa syukur dan menyampakan pada leluhur yang meninggalkan tradisi ini. Dibuka dengan dihantarkan sajian doa dan makan makanan lungsuran yamg disajikan. Dengan menyampaikan rasa syukur atas perjalanan Topeng di sanggar Sailendra. Desa Krangan yang terus dikaryakan dengan trasisi yang diwariskan itu.
Sebuah ritus tradisi, di mana Topeng yang menjadi alat kerja, untuk beraktivitas bagi penarinya. Selametan hari ini, adalah penutup sekaligus pembuka bahwa pada satu tahun telah dijalani dengan penuh suka cita. Perjuangan untuk terus hidup karena topeng yang dipakai untuk membuat lakon cerita pada Wayang Topeng Malangan terus dikaryakan.
Pembuka adalah dilantunkan doa Jawa pada saat penutupan hajatan, yaitu mementaskan sendratari wayang topeng dengan lakon “Wahyu Kamulyan” dengan dalang Ki Setyo Wahyudi. Lakon yang menghantarkan para penari untuk selalu eling lan waspada bahwa perjalanan tahun depan tidak semakin ringan. Ini sebuah wejangan pada awalan menuju tahuh berikutnya.
Metri adalah ritus perjalanan
Maka setelah 1 tahun berjalan, mengelilingi Malang Raya dengan menggelar berbagai lakon, dengan cerita utama yang jadi andalan yaitu Panji Asmorobangun. Topeng yang menggambarkan karakter dari peran yang dimainkan, tidak akan berguna kalau tidak dimainkan. Maka perjalanan pentas sendratari dan gelaran wayang bukanlah tujuan dari pentas komersial.
Penari yang memainkan aktor adalah para petani, pekerja harian dan tukang bangunan yang berada di desa Kranggan. Pentas pada Metri Topeng, bukan sebuah pertunjukan, tetapi dilakukan dalam bentuk rasa syukur dan dipersembahkan pada leluhur. Tidak ada penonton yang hadir karena pergelaran wayang bukan untuk sebuah tontonan.
Maka lengkap sudah prosesi kehidupan pada penari dan penabuh gamelan. Mereka akan memulai tahun berikutnya dengan kesungguhan. Dan nanti akan diakhiri dengan rasa penuh suka cita. Bahwa metri dibuktikan bukan soal selametan, soal puja syukur. Tetapi soal bentuk bangunan relasi antar manusia dalam masyarakat. Topeng adalah bangunan jaringan antara komunitas untuk ditampilkan sebagai alat peringatan.
Menyajikan pergelaran dalam bentuk puja tentang memelihara, yaitu menyampaikan pesan tentang sebuah perjuangan dan perdamaian di mana bergeraknya manusia menimbulkan kerusakan, maka harus dikembalikan pada alam supaya menjadi baik kembali. Serta menyelaras dengan semesta yang dimaknakan dalam diri leluhur yang beberikan mereka warisan, Topeng Malangan.
Maka dalam hal ini jelas bahwa metri itu semacam standar kerja atau SOP dan selamatan adalah pembuka dan penutup pintu waktu yang akan dilalui. Seperti sebuah penutupan perjalanan tahun lalu dan masuk ke dalam. Gerbang pintu masa kemudian.
*) Penulis Pietra Widiadi, Founder Pendopo Kembangkopi, pejalan tradisi Jawa, Sosiolog alumni Unair dan sedang menyelesaikan studi doktoral dengan kajian sosial-budaya, Jawa di Unmer, Malang
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis





















































