Oleh: Pietra Widiadi
Menuju Raas, pulau kecil di Selat Madura seperti menuju labirin tahun 1980an. Meski dari sana Madura Mart, pesaing utama swalayan modern dibesarkan. Pulau penuh para perantau, pekerja dan pejuang penghidupan.
Sebuah ferry, maksudnya kapal milik sebuah perusahaan, yang mewakili ASDP membawa penumpang mengarungi jalur pelabuhan Jangkar, Asembagus, Situbondo, Pulau Raas dan berujung di pelabuhan Kalianget, Sumenep. Jalur sepanjang 8 jam, membelah Selat Madura.
*Penumpang Gelap*
Pelayanan publik, seperti pelayanan tiket transportasi laut sudah disiapkan melalui perangkat lunak daring. Perusahaan BUMN yang pernah dipimpin perempuan yang disangkakan korupsi ini, menyiapkan jalur perjalanan laut dengan metode canggih. Tapi penuh ranjau menghalangi.
Jalur daring yang disangkakan mempermudah pelayanan tiket, seperti pendaftaran siswa di pedalaman hutan belantara. Nampaknya pelayanan yang seolah-olah, seolah-olah disiapkan sebagai alur pelayanan yang mudah, ternyata berujung kecewa. Kekecewaan ternyata mengular di Pulau Raas. Malah banyak yang bilang kalau gak terpaksa jangan ke Raas lewat Jangkar, banyak tikusnya.
Untuk mempermudah pelayanan, memang layak membuka banyak jalur pelayanan, termasuk menyediakan loket kalau-kalau secara daring macet. Ternyata loket pun sama, ada loketnya orangnya gentayangan jadi calo. Meski tiket gak dapat, tetap bisa masuk kapal sebagai penumpang gelap, yaitu penumpang tanpa tiket.
*Tiket KKN*
Pada saat mau masuk kapal, tukang becak yang mengantar dari parkir depan ke dermaga bilang, aman kok, kan itu tiket KKN. Jadi udah biasa nampaknya, ada tiket KKN. Entah apa kepanjangan KKN di sini, apakah ini dianggap kolusi, gak paham? Kapal baru bergerak sesuai dg jadwalnya, dan kapal juga dijejali penumpang tiket KKN.
Tiket KKN ini harganya lebih mahal hampir 100% dari tarif yang ditetapkan. Dari Rp 49 ribu, menjadi Rp 80 ribu, sepertinya tidak mahal. Kata penumpang di sebelah kursi darurat, bilang masih murah. Kalau pas musim orang mudik, 1 orang bisa bayar jauh lebih mahal.
Tiket KKN ini, tidak ditemukan di Pelabuhan Kalianget, Sumenep. Antrian pembeli tiket tetap ada, dan tiket diberikan penumpang yang membayar sesuai jumlahnya. Loket yang dibuka 1 jam sebelum kapal bergerak, antrian sudah mengular dan semua dilayani.
*Jangkar yang Istimewa*
Jangkar adalah pelabuhan antar pulau yang terletak di Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo. Penulis sudah kenal pelabuhan ini sejak masih SMP, karena ada keluarga yang tinggal dekat pelabuhan. Selain pelabuhan pintu ke Raas dan Sapudi dan berakhir di Kalianget, Jangkar juga pintu menuju Mataram. Banyak truk-truk ekspedisi besar, masuk menuju NTB melalui pelabuhan ini.
Pelabuhan ini cukup wah, dan di dalam pelabuhan cukup bersih dan terkontrol. Namun kalau melihat halaman luar pelabuhan, di parkiran dan jalan keluar, nampak berserakan termasuk sampah. Terdapat kios atau loket tiket, tapi gak ada yang jaga.
Kawasan yang cukup luas dengan penjaja makanan berderet menuju keluar pelabuhan. Selain sampah beneran, juga berserakan sampah pelayanan publik. Publik ditelikung dengan tiket KKN dan menjadi penumpang gelap. Kalau ada kecelakaan laut, pasti penumpang gelap ini akan hilang karena tidak ada jejak catatan sebagai penumpang.
Kondisi ini menjadi gambaran keistimewaan pelayanan publik. Keistimewaan ini jelas nampak karena sebagian besar penumpang adalah perantauan dari pulau-pulau kecil di Selat Madura, yang literasi internetnya rendah. Penyediaan tiket daring, nampak seperti asesori mewah.
*) Penulis : Pietra Widiadi, Founder Pendopo Kembangkopi, Desa Sumbersuko, Wagir, Kabupaten Malang; Praktisi Sosiolog, alumni Universitas Airlangga dan PhD sosial-budaya Universitas Merdeka Malang.
*) Isi tulisan sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis





















































