Doktor Mengabdi UB Kenalkan Integrated Farming Lele Bioflok–Puyuh–Kelor, Perkuat Kemandirian Ekonomi Koperasi Wanita “Perempuan Mandiri” Singosari - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

MALANG RAYA · 31 Jul 2026 10:59 WIB ·

Doktor Mengabdi UB Kenalkan Integrated Farming Lele Bioflok–Puyuh–Kelor, Perkuat Kemandirian Ekonomi Koperasi Wanita “Perempuan Mandiri” Singosari


 Tim Doktor Mengabdi UB dan anggota koperasi meninjau demonstration plot integrated farming — kolam bioflok lele berdampingan dengan kandang puyuh dan tanaman kelor. (ist)
Perbesar

Tim Doktor Mengabdi UB dan anggota koperasi meninjau demonstration plot integrated farming — kolam bioflok lele berdampingan dengan kandang puyuh dan tanaman kelor. (ist)

BACAMALANG.COM – Tim Doktor Mengabdi (DM) Universitas Brawijaya (UB) 2026 memperkenalkan sistem integrated farming atau pertanian terpadu berbasis ekonomi sirkular kepada Koperasi Wanita (KopWan) “Perempuan Mandiri” di Desa Klampok, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang. Program ini mengintegrasikan budidaya lele bioflok, puyuh, dan kelor dalam satu siklus produksi yang saling mendukung sehingga lebih efisien, hemat biaya, dan ramah lingkungan.

Kegiatan yang terintegrasi dengan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) tersebut digelar pada Selasa (28/7/2026). Program ini diketuai oleh Dr. Jaisy Aghniarahim Putritamara, S.Pt., M.P. dari Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan (FAST) UB.

Dr. Jaisy menjelaskan, pemanfaatan lahan pekarangan anggota koperasi yang rata-rata seluas 75–150 meter persegi selama ini belum optimal. Di sisi lain, biaya pakan ternak dan pupuk masih cukup tinggi karena limbah belum dimanfaatkan sebagai sumber produksi.

“Padahal wilayah ini memiliki potensi besar untuk pengembangan lele, puyuh, dan kelor. Melalui konsep integrated farming, ketiga komoditas tersebut dirancang saling menopang dalam satu ekosistem produksi yang hemat input dan minim limbah,” ujarnya.

Tim Doktor Mengabdi UB bersama mitra di lokasi kolam bioflok lele, unit percontohan integrated farming di Desa Klampok. (ist)

Ia menerangkan, sistem ini menerapkan prinsip ekonomi sirkular, di mana limbah dari satu komoditas dimanfaatkan sebagai sumber daya bagi komoditas lainnya. Kotoran puyuh difermentasi menjadi nutrien bagi bioflok lele sehingga mampu menekan biaya pakan hingga 30–40 persen. Sementara air kolam bioflok yang kaya unsur hara dimanfaatkan sebagai pupuk cair untuk budidaya kelor secara vertikultur, sedangkan sisa bahan organik diolah menjadi kompos.

“Dengan demikian, keluaran dari satu komoditas menjadi masukan bagi komoditas lainnya sehingga rantai limbah dapat ditutup menjadi sumber daya yang bernilai,” ungkapnya.

Sebagai model pembelajaran, tim Doktor Mengabdi membangun satu unit demonstration plot yang terdiri atas dua kolam bioflok, 50 ekor puyuh, dan 50 tanaman kelor. Demplot tersebut menjadi sarana praktik bagi anggota koperasi sekaligus contoh yang dapat direplikasi di pekarangan masing-masing.

Program ini turut melibatkan anggota tim, yakni Dr. Mochammad Syamsulhadi, S.P., M.P., Firda Alfiani, S.P., M.Sc. dari Fakultas Ilmu Administrasi, serta Ajik Siswantoro, S.P., M.Si. Selain itu, sembilan mahasiswa FAST UB yang mengikuti KKN juga diterjunkan untuk mendampingi penyiapan demplot, praktik budidaya, hingga pencatatan hasil produksi.

Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh tiga materi utama. Materi budidaya lele bioflok disampaikan oleh Kharis Izzul Sulthoni, S.TP., yang merupakan tenaga kependidikan FAST UB sekaligus praktisi budidaya lele.

Ia menjelaskan teknik pengelolaan kualitas air, pembentukan bioflok, hingga manajemen pakan yang memungkinkan budidaya lele berkepadatan tinggi di lahan terbatas.

Foto bersama tim Doktor Mengabdi UB dengan mitra dan pengurus Koperasi Wanita “Perempuan Mandiri” di Desa Klampok, Singosari, Kabupaten Malang. (ist)

“Dengan bioflok, air kolam justru menjadi sumber pakan alami. Petani bisa menekan biaya pakan sekaligus memanfaatkan pekarangan sempit secara produktif,” terangnya.

Sementara itu, konsep pertanian terintegrasi dan ekonomi sirkular dipaparkan oleh Dr. Mochammad Syamsulhadi. Ia menekankan pentingnya merancang aliran nutrisi antarkomoditas agar tidak ada bahan yang terbuang.

“Kunci integrated farming adalah menutup siklus. Ketika limbah satu komoditas menjadi input komoditas lain, biaya produksi turun dan keberlanjutan meningkat,” ujarnya Syamsulhadi.

Adapun aspek kelembagaan usaha disampaikan oleh Ajik Siswantoro. Menurutnya, teknologi budidaya hanya akan berjalan berkelanjutan apabila didukung kelembagaan koperasi yang kuat.

“Integrated farming membutuhkan wadah kelembagaan agar produksi anggota dapat terkonsolidasi, terkelola dengan baik, dan memiliki nilai tawar yang lebih tinggi. Di sinilah koperasi berperan sebagai unit bisnis bersama,” tegasnya.

Melalui dua siklus produksi setiap tahun, unit percontohan ini ditargetkan mampu menghasilkan sekitar 1,2–1,4 ton lele, 200 butir telur puyuh, serta 50 kilogram daun kelor setiap tahun. Produksi tersebut diharapkan menjadi sumber pangan bergizi sekaligus membuka peluang usaha baru bagi anggota koperasi.

Kepala Desa Klampok, Jefry Arnast, menyambut positif hadirnya unit percontohan tersebut sebagai model pemanfaatan pekarangan produktif bagi masyarakat. Senada dengan itu, Sekretaris KopWan “Perempuan Mandiri”, Ruchila, berharap anggota koperasi dapat mengelola sistem budidaya tersebut secara mandiri.

“Kami ingin belajar mengelola kolam bioflok, puyuh, dan kelor ini secara mandiri agar dapat terus berkelanjutan,” ungkapnya.

Program ini juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 1 (Tanpa Kemiskinan), SDG 2 (Tanpa Kelaparan), SDG 5 (Kesetaraan Gender), SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi), SDG 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan). Selain itu, program selaras dengan agenda Asta Cita dalam mewujudkan kedaulatan pangan dan penguatan ekonomi kerakyatan berbasis desa.

Dr. Jaisy berharap sistem integrated farming lele bioflok–puyuh–kelor ini mampu menjadi fondasi bagi KopWan “Perempuan Mandiri” dalam membangun unit produksi terpadu yang efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

“Harapannya, program ini dapat menjadi fondasi menuju kemandirian ekonomi anggota koperasi melalui sistem produksi yang terintegrasi dan berkelanjutan,” pungkasnya.

Pewarta/Editor: Nedi Putra AW

Artikel ini telah dibaca 8 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

UB dan Unram Perkuat Kolaborasi, Bekali Guru SMK Pertanian NTB dengan AI dan Bioinformatika

31 Juli 2026 - 11:22 WIB

PN Malang Lakukan Konstatering Lahan Sengketa di Jalan Pahlawan Trip, Tahap Awal Menuju Eksekusi

31 Juli 2026 - 07:52 WIB

Komplotan Maling Terekam CCTV, Honda Vario Raib Digasak di Morotanjek Singosari

31 Juli 2026 - 07:30 WIB

Kolaborasi Masif Tekan Kasus TBC di Kota Malang, Wali Kota Wahyu: Dari Pemkot hingga RT/RW Bergerak Bersama

31 Juli 2026 - 06:35 WIB

Abdul Qodir: Penyelesaian Pasar Karangploso Harus Kedepankan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kemanfaatan

30 Juli 2026 - 23:23 WIB

Tiga Kali Somasi Diabaikan, PN Kota Malang Eksekusi Rumah Senilai Miliaran Rupiah di Araya

30 Juli 2026 - 20:31 WIB

Trending di MALANG RAYA

©Hak Cipta Dilindungi !