Penulis: Muhammad Syuhada
Bulan September menyimpan berbagai catatan kelam dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Sejumlah peristiwa yang terjadi pada bulan ini menjadi pengingat tentang pentingnya menegakkan hak asasi manusia, keadilan, demokrasi, serta kebebasan dalam menyampaikan pendapat.
Beberapa tragedi yang kerap dikaitkan dengan bulan September antara lain peristiwa 1965–1966, yang bermula dari peristiwa Gerakan 30 September 1965 dan diikuti oleh pembunuhan massal serta penahanan terhadap banyak orang yang dituduh terlibat dengan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Selanjutnya, terdapat Tragedi Tanjung Priok pada 12 September 1984, yaitu peristiwa kekerasan yang terjadi dalam demonstrasi masyarakat di Jakarta dan berujung pada jatuhnya banyak korban.
Kemudian, Tragedi Semanggi II pada 24 September 1999, ketika aksi demonstrasi mahasiswa dan masyarakat yang menolak Rancangan Undang-Undang Penanggulangan Keadaan Bahaya (RUU PKB) berujung pada tindakan kekerasan dan menelan korban jiwa, termasuk mahasiswa.
Bulan September juga mengingatkan kita pada wafatnya Munir Said Thalib pada 7 September 2004. Munir merupakan salah satu aktivis hak asasi manusia yang dikenal gigih memperjuangkan keadilan dan mengungkap berbagai kasus pelanggaran HAM di Indonesia. Kepergiannya menjadi salah satu peristiwa penting dalam sejarah perjuangan penegakan HAM di Indonesia.
Selain itu, pada September 2019, terjadi gelombang aksi mahasiswa dan masyarakat di berbagai daerah yang dikenal dengan semangat “Reformasi Dikorupsi”. Aksi tersebut muncul sebagai bentuk kritik dan penolakan terhadap sejumlah rancangan undang-undang serta kebijakan yang dianggap bermasalah. Dalam berbagai aksi tersebut, terjadi bentrokan dan kekerasan yang mengakibatkan sejumlah peserta aksi menjadi korban.
Berbagai peristiwa tersebut menunjukkan bahwa perjalanan demokrasi dan penegakan hak asasi manusia di Indonesia masih menyisakan banyak persoalan yang perlu terus dikawal. Suara-suara kritis yang menyampaikan aspirasi rakyat dan mengoreksi kebijakan publik seharusnya tidak dipandang sebagai ancaman, melainkan sebagai bagian penting dari kehidupan demokrasi.
Oleh karena itu, bulan September kerap disebut oleh sebagian kalangan sebagai “September Hitam”, sebagai simbol pengingat atas berbagai tragedi kemanusiaan dan pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi dalam sejarah Indonesia.
Momentum ini seharusnya menjadi ruang untuk merefleksikan kembali perjalanan bangsa. Kita perlu terus mengingat para korban, memperjuangkan pengungkapan kebenaran, menuntut keadilan, serta memastikan agar peristiwa-peristiwa kelam tersebut tidak kembali terulang di masa depan.
Mengingat bukan untuk membuka luka lama, melainkan untuk memastikan bahwa keadilan tetap diperjuangkan dan sejarah tidak kembali mengulang tragedinya.
September Hitam bukan sekadar peringatan, tetapi panggilan untuk terus bersuara, mengawal demokrasi, dan berpihak pada kemanusiaan.
*) Muhammad Syuhada’, Presiden Dewan Eksekutif Mahasiswa Universitas Al-Qolam Malang (UQM)
*) Isi tulisan menjadi tanggung jawab penulis



















































