BACAMALANG.COM — Bukan sekadar tempat berkumpul dan berbincang, cangkrukan di Lawang kini menjadi ruang untuk berbagi gagasan sekaligus menggerakkan ekonomi warga.
Setiap tanggal 15 dalam penanggalan Jawa, Komunitas Maiyah Lawang melalui forum Padhange Ati berpindah dari satu kafe atau resto ke tempat lainnya. Lampu temaram menjadi latar perbincangan, lantunan puisi, musik, hingga aksi teatrikal yang menghidupkan suasana malam.
Padhange Ati sendiri memiliki makna “menerangi hati”. Konsepnya sederhana, yakni berkumpul, berdiskusi, dan belajar bersama dalam suasana santai dengan posisi duduk melingkar.
Namun, ada hal yang membedakan forum ini dengan komunitas pada umumnya. Padhange Ati tidak memiliki sekretariat tetap. Forum ini sengaja digelar secara nomaden, berpindah-pindah lokasi dan menjadikan tempat usaha warga sebagai ruang pertemuan.
Konsep tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Setiap kali forum digelar, pelaku usaha di lokasi mendapatkan kesempatan menawarkan produk, makanan, minuman, maupun kerajinan kepada para peserta.
Dengan demikian, cangkrukan tidak berhenti pada aktivitas ngobrol dan bertukar pikiran. Ada perputaran ekonomi yang diharapkan ikut dirasakan oleh pelaku usaha yang menjadi tuan rumah.
Gagasan tersebut berangkat dari keresahan terhadap terbatasnya ruang publik di Lawang yang nyaman dan ramah bagi keluarga. Karena itu, Padhange Ati juga menyediakan ruang bagi anak-anak untuk berekspresi.
Mereka dapat bernyanyi, membaca puisi, bermain pantomim, hingga mengikuti kegiatan seni lainnya. Konsep tersebut membuat orang tua tetap bisa mengikuti diskusi tanpa harus meninggalkan anak di rumah.
Pemilihan tanggal 15 penanggalan Jawa juga bukan tanpa alasan. Padhange Ati ingin menjaga keterhubungan forum dengan ritme budaya lokal. Materi yang dibahas pun tidak dikemas secara kaku.
Ada diskusi mengenai persoalan sosial, budaya, dan kehidupan sehari-hari. Ada pula sesi Kawruh Jiwa, yang mengajak peserta mengenali diri, rasa, serta ego.
Selain diskusi, forum ini juga menjadi panggung terbuka bagi mereka yang ingin berkarya. Penyanyi, pembaca puisi, pemain teater, hingga seniman pantomim dapat tampil dan berbagi karya.
“Kami ingin Padhange Ati menjadi ruang yang menghidupkan tradisi sekaligus menggerakkan ekonomi warga. Dari cangkrukan inilah silaturahmi, ilmu, dan rezeki UMKM bisa berjalan bersama,” ujar Yuri Maula, perwakilan Komunitas Maiyah Lawang, kepada BACAMALANG.COM, Jumat (28/8/2026).
Dukungan terhadap gerakan tersebut juga datang dari Bastian Nova Pratama, kolaborator dari Lawang Netizen.
“Ini menjadi forum dan rumah singgah untuk berpikir, untuk berkarya, serta untuk saling menguatkan,” kata Bastian.
Menurutnya, Lawang membutuhkan ruang publik yang inklusif. Ruang yang tidak menghakimi, terjangkau, serta dapat diakses berbagai elemen masyarakat dari beragam usia.
Padhange Ati dijadwalkan kembali menggelar cangkrukan pada Selasa (1/9/2026) pukul 19.00 WIB di Ghobed Cafe & Resto, Lawang.
Mengusung tema “Kawruh Jiwa — Edisi 49”, kegiatan tersebut terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.
Di tengah semakin terbatasnya ruang perjumpaan masyarakat, Padhange Ati mencoba menawarkan cara sederhana: duduk bersama, berbincang, berkesenian, belajar memahami diri, sekaligus membantu roda ekonomi UMKM tetap berputar.
Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashuudi Prayoga




















































