Cangkrukan Nomaden Padhange Ati, Dari Ruang Diskusi hingga Menggerakkan UMKM Lawang - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

EKOBIZ · 30 Agu 2026 17:03 WIB ·

Cangkrukan Nomaden Padhange Ati, Dari Ruang Diskusi hingga Menggerakkan UMKM Lawang


 Berfoto bersama usai kegiatan Komunitas Maiyah Lawang. (Bastian for BacaMalang) Perbesar

Berfoto bersama usai kegiatan Komunitas Maiyah Lawang. (Bastian for BacaMalang)

BACAMALANG.COM — Bukan sekadar tempat berkumpul dan berbincang, cangkrukan di Lawang kini menjadi ruang untuk berbagi gagasan sekaligus menggerakkan ekonomi warga.

Setiap tanggal 15 dalam penanggalan Jawa, Komunitas Maiyah Lawang melalui forum Padhange Ati berpindah dari satu kafe atau resto ke tempat lainnya. Lampu temaram menjadi latar perbincangan, lantunan puisi, musik, hingga aksi teatrikal yang menghidupkan suasana malam.

Padhange Ati sendiri memiliki makna “menerangi hati”. Konsepnya sederhana, yakni berkumpul, berdiskusi, dan belajar bersama dalam suasana santai dengan posisi duduk melingkar.

Namun, ada hal yang membedakan forum ini dengan komunitas pada umumnya. Padhange Ati tidak memiliki sekretariat tetap. Forum ini sengaja digelar secara nomaden, berpindah-pindah lokasi dan menjadikan tempat usaha warga sebagai ruang pertemuan.

Konsep tersebut sekaligus menjadi bentuk dukungan terhadap pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Setiap kali forum digelar, pelaku usaha di lokasi mendapatkan kesempatan menawarkan produk, makanan, minuman, maupun kerajinan kepada para peserta.

Dengan demikian, cangkrukan tidak berhenti pada aktivitas ngobrol dan bertukar pikiran. Ada perputaran ekonomi yang diharapkan ikut dirasakan oleh pelaku usaha yang menjadi tuan rumah.

Gagasan tersebut berangkat dari keresahan terhadap terbatasnya ruang publik di Lawang yang nyaman dan ramah bagi keluarga. Karena itu, Padhange Ati juga menyediakan ruang bagi anak-anak untuk berekspresi.

Mereka dapat bernyanyi, membaca puisi, bermain pantomim, hingga mengikuti kegiatan seni lainnya. Konsep tersebut membuat orang tua tetap bisa mengikuti diskusi tanpa harus meninggalkan anak di rumah.

Pemilihan tanggal 15 penanggalan Jawa juga bukan tanpa alasan. Padhange Ati ingin menjaga keterhubungan forum dengan ritme budaya lokal. Materi yang dibahas pun tidak dikemas secara kaku.

Ada diskusi mengenai persoalan sosial, budaya, dan kehidupan sehari-hari. Ada pula sesi Kawruh Jiwa, yang mengajak peserta mengenali diri, rasa, serta ego.

Selain diskusi, forum ini juga menjadi panggung terbuka bagi mereka yang ingin berkarya. Penyanyi, pembaca puisi, pemain teater, hingga seniman pantomim dapat tampil dan berbagi karya.

“Kami ingin Padhange Ati menjadi ruang yang menghidupkan tradisi sekaligus menggerakkan ekonomi warga. Dari cangkrukan inilah silaturahmi, ilmu, dan rezeki UMKM bisa berjalan bersama,” ujar Yuri Maula, perwakilan Komunitas Maiyah Lawang, kepada BACAMALANG.COM, Jumat (28/8/2026).

Dukungan terhadap gerakan tersebut juga datang dari Bastian Nova Pratama, kolaborator dari Lawang Netizen.

“Ini menjadi forum dan rumah singgah untuk berpikir, untuk berkarya, serta untuk saling menguatkan,” kata Bastian.

Menurutnya, Lawang membutuhkan ruang publik yang inklusif. Ruang yang tidak menghakimi, terjangkau, serta dapat diakses berbagai elemen masyarakat dari beragam usia.

Padhange Ati dijadwalkan kembali menggelar cangkrukan pada Selasa (1/9/2026) pukul 19.00 WIB di Ghobed Cafe & Resto, Lawang.

Mengusung tema “Kawruh Jiwa — Edisi 49”, kegiatan tersebut terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya.

Di tengah semakin terbatasnya ruang perjumpaan masyarakat, Padhange Ati mencoba menawarkan cara sederhana: duduk bersama, berbincang, berkesenian, belajar memahami diri, sekaligus membantu roda ekonomi UMKM tetap berputar.

Pewarta: Hadi Triswanto
Editor: Rahmat Mashuudi Prayoga

Artikel ini telah dibaca 35 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Hari Indonesia Menabung dan Bulan Literasi Keuangan OJK 2026, Kabupaten Malang Raih Financial Literacy Award 2026

28 Agustus 2026 - 21:23 WIB

Dua KA Tujuan Malang Terlambat, KAI Daop 8 Minta Maaf

28 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Satu Sepatu-Seribu Harapan, Atria Hotel Malang Wujudkan Kepedulian Sosial Siswa SDN 2 Sumberpasir

26 Agustus 2026 - 18:40 WIB

RS Hermina Kepanjen Resmi Beroperasi, Perluas Akses Layanan Kesehatan di Kabupaten Malang

26 Agustus 2026 - 14:50 WIB

Pendapatan Ojol Diklaim Presiden Naik 3 Kali Lipat, Driver Malang: Kenyataannya Tetap Sama

24 Agustus 2026 - 19:13 WIB

Ngopi Sambil Belajar Kesehatan dan Bangun Peluang Penghasilan Tambahan di Coffee Party Malang

23 Agustus 2026 - 20:19 WIB

Trending di EKOBIZ

©Hak Cipta Dilindungi !