Childfree di Indonesia: Pilihan Pasangan Muda atau Ancaman bagi Masa Depan Bangsa? - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

OPINI · 21 Agu 2026 13:52 WIB ·

Childfree di Indonesia: Pilihan Pasangan Muda atau Ancaman bagi Masa Depan Bangsa?


 Aqshal dan Ibrahim Jauhary. (ist) Perbesar

Aqshal dan Ibrahim Jauhary. (ist)

Oleh: Muh. Aqshal Efendi & Ibrahim Jauhary
Santri SMA Abdul Malik Fadjar – Pondok Pesantren Internasional Abdul Malik Fadjar

Akhir-akhir ini, istilah childfree lagi ramai diperbincangkan di media sosial. Ada yang langsung menolaknya mentah-mentah, ada juga yang santai saja dan bilang, “Terserah mereka, itu kan hak mereka”.

Perdebatan soal pasangan yang ingin punya anak atau tidak semakin panas di berbagai kalangan. Banyak yang menganggap bahwa pilihan ini tidak sesuai dengan nilai-nilai keluarga di Indonesia. Lalu, apa sih sebenarnya childfree itu?
Childfree diindentifikasikan sebagai keputusan yang diambil pasangan suami istri untuk tidak mempunyai anak. Hal ini berbeda dengan childless. Sebab, childless biasanya terjadi karena faktor medis atau masalah kesuburan. Jadi kalau childfree, itu memang pilihan yang mana orang tersebut sadar.

Di Indonesia, banyak orang yang kontra dengan childfree. Hal ini karena masih ada pemikiran “banyak anak itu, banyak rezeki”. Ada juga karena soal penerus keturunan.

Namun, kalau dilihat lebih dalam lagi, keputusan childfree ini tidak muncul begitu saja. Banyak pasangan yang memilihnya karena mereka sadar akan kesiapan secara finansial untuk menghidupi anak. Apakah kita harus memiliki anak? Bisa apa tidak kasih mereka hidup yang layak?

Deputi BKKBN, Bonivasius Prasetya Ichtiarto, mengatakan, faktor ekonomi menjadi alasan utama generasi muda memilih childfree. Itu artinya, mereka memilih gaya hidup itu bukan karena mereka membenci anak. “Bukan tidak ingin punya anak, tapi menunda karena masalahnya di ekonomi,” tegasnya.

Dari sini, kita bisa lihat kalau keputusan childfree itu bukan semata-mata karena keegoisan. Banyak pasangan muda yang berpikir bagaimana soal biaya hidup yang semakin mahal dan masa depan anak. Mereka sadar memiliki anak itu tanggung jawab besar. Lebih baik tidak punya anak daripada nantinya tidak bisa memberi yang terbaik masa depan mereka.

Namun, kita tidak bisa menutup mata dengan dampak sosial dari fenomena ini. Indonesia diprediksi akan mengalami bonus demografi pada 2030 hingga 2040, di mana 70 persen penduduk ada di usia produktif. Kalau semakin banyak pasangan yang memilih childfree, angka kelahiran akan mengalami penurunan drastis.

Jika situasi tersebut terus terjadi, jumlah usia produktif berkurang, sementara lansia akan semakin banyak. Ini merupakan masalah serius, seperti yang sekarang terjadi di Jepang dan Korea Selatan. Mereka mulai kewalahan karena populasi lansia membengkak sementara anak muda semakin sedikit.

MUI juga angkat bicara soal childfree. Ketua MUI Bidang Perempuan, Remaja, dan Keluarga, Siti Ma’rifah, mengatakan childfree bisa memutus rantai generasi penerus bangsa. “Bagaimana nanti jika tidak menikah, dan bahkan kalau menikah pun memutuskan tidak punya anak? Nah ini kan akan hancur sebuah bangsa tanpa ada penerus.” Pernyataan ini cukup berat dan membuat orang akan mulai berfikir apa yang terjadi kedepannya.

Menariknya, stigma childfree ini dinilai tidak adil karena perempuan lebih keras kecamannya dibandingkan laki-laki. Dalam budaya Indonesia yang masih kental dengan nilai kekeluargaan, perempuan yang tidak memiliki anak sering dianggap egois, bahkan disebut tidak sempurna sebagai wanita. Padahal, berdasarkan penelitian, keputusan childfree umumnya diambil secara bersama oleh pasangan (PMC, 2023). Namun, mengapa hanya perempuan yang paling terkena imbasnya?

Jadi, childfree ini sebenarnya bukan hanya soal pilihan pribadi, akan tetapi juga merupakan isu sosial yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Pemerintah perlu turun tangan, bukan dengan melarang hal tersebut, tetapi dengan membuat kebijakan yang meringankan beban pada keluarga. Contohnya, memberikan biaya pendidikan, pemberian cuti bersalin, dan keterjangkauan pelayanan medis.

Ketika biaya hidup keluarga lebih ringan, pandangan orang terhadap kehadiran anak mungkin ikut berubah. Memiliki anak akan menjadi menyenangkan, bukan malah jadi pusing.

Di sisi lain, sikap saling menghargai di dalam masyarakat harus terus ditumbuhkan. Setiap orang memiliki kondisinya masing-masing. Ada yang sudah siap memiliki keturunan, juga ada yang belum siap. Ada juga yang secara sadar memilih untuk tidak memiliki anak dengan alasan tertentu. Selama hal itu tidak merugikan orang lain, tidak seharusnya kita menghakiminya.

Artikel ini telah dibaca 25 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Childfree di Indonesia: Pilihan Pasangan Muda atau Ancaman bagi Masa Depan Bangsa?

21 Agustus 2026 - 17:29 WIB

HUT Arema ke-39: Merayakan Kebanggaan, Menolak Lupa Tragedi Kanjuruhan

11 Agustus 2026 - 01:26 WIB

Suroan Plus 17-an, Digeser Sound Horeg

10 Agustus 2026 - 09:33 WIB

Muktamar ke-35 dan Ilusi Etalase: Menatap Wajah Penggerak Anonim NU di Abad Kedua

9 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Mata Hati Semesta Tidak Bisa Dibutakan: Membangun Kembali Peradaban Integritas di Tengah Krisis Kepercayaan

3 Agustus 2026 - 10:01 WIB

Refleksi Peringatan Hari Ikrar Gerakan Pramuka

30 Juli 2026 - 12:23 WIB

Trending di OPINI

©Hak Cipta Dilindungi !