Di Halaman Selatan Gunung Tengger - BACAMALANG.COM

Menu

Mode Gelap
Fapet UB Kembangkan LENTERA, Sistem Modernisasi Peternakan Ayam Berbasis AI dan IoT untuk Segmentasi Peternak Kecil Viral Hukuman Ringan Koruptor, Dosen FH UMM Berharap Hakim Harus Lebih Berani Jatuhkan Vonis ACPM Gelar Pameran Lukisan dan Seni Budaya di Gedung DPRD Kota Malang, Diikuti Pelukis Difabel Dukung Program EBT Pemerintah, UMM Kembangkan PLTS dan PLTB di Berbagai Lokasi Tahun Baru 2025, Shanaya Resort Malang Pesta Kembang Api dan Bagi Hadiah Tiket Pesawat

OPINI · 21 Jul 2022 15:03 WIB ·

Di Halaman Selatan Gunung Tengger


 Di Halaman Selatan Gunung Tengger Perbesar

Oleh: Yono Ndoyit*

“Inspirasinya muncul dari pelaku seni tradisional jaranan. Mereka orang-orang militan yang konsisten bergerak dari halaman-halaman kampung untuk mengekspresikan bentuk keseniannya sebagai representasi dari laku budaya,” ucap Redy Eko Prastyo, menjawab pertanyaan salah seorang pengunjung, mengapa Duo Etnicholic (DE) menggelar pentas kelilingnya di tempat seperti itu.

Redy kemudian menyambungnya dengan sedikit mengisahkan kedekatan hubungannya dengan Sang Troubadour, musisi pengelana yang amat menikmati karier musiknya di jalanan, Leo Kristi.

Dwi Cahyono menyebutnya sebagai seorang Ambara. Berbeda dengan konser sebelumnya, Tour Konser Nandur Kamulyan Kelima yang bertempat di Omah Mantri Jabung, (19/07/2022), kali ini ditambahkan sesi diskusi pasca pentas sebagai penutup acara.

Iroel dari Komunitas Gubuk Baca Jabung menjadi moderator sedang Dwi Cahyono, salah seorang sejarawan dan arkeolog Malang yang dikenal “unik” menjadi pembicara dadakan.

Rupanya Redy tahu, sebenarnya penulis enggan datang kalau tak ada “sesuatu atau narasi baru yang ditawarkan” dalam rangkaian tour pertunjukannya. Apalagi lokasi konsernya cukup jauh dan sama sekali tak ada bekal “amunisi” untuk sedikit menghangatkan tubuh di tempat yang cukup dingin, di Kecamatan Jabung, yang oleh Dwi Cahyono disebut sebagai halaman selatan Gunung Tengger.

Dan upaya Redy dengan menginformasikan kehadiran Dwi Cahyono nyatanya cukup manjur, dia berhasil menggelitik penulis untuk datang dalam pertunjukannya.

Dalam sebuah seminar nasional di Borobudur Writers and Cultural Festival 2016, agenda tahunan yang kala itu bertema “Setelah 200 Tahun Serat Centhini: Erotisme dan Religiusitas, Musyawarah Akbar Kitab-kitab Nusantara,” penulis sempat menyaksikan keunikan dari penampilan Dwi Cahyono yang saat itu menjadi salah satu pembicara, bersanding dengan para sejarawan nasional kondang lainnya.

Dia satu-satunya pembicara yang dalam paparannya, turun dari mimbar, mendekati para peserta seminar.

Mantan anggota Teater Melarat yang saat itu memaparkan hasil penelitiannya tentang arca-arca Bima berpenis raksasa di Blitar dengan gaya santai.

Di kesempatan itu, penulis sempat mendokumentasikan dalam bentuk video sekitar tiga puluh detik yang membuat seluruh hadirin tertawa, “…kalau memakai penis belt berbunyi klinting-klinting. Hal yang bagi ibu-ibu menjadi penting karena bisa memonitor gerak suami…”

Karena geliatnya yang tidak biasa pada budaya, terutama kesejarahan, beberapa kawan di Malang menyebut Dwi Cahyono sebagai “aset” kota Malang.

Dengan ringannya, dia bersedia datang menerima undangan untuk berbagi pengetahuan sejarah di manapun dan pada siapapun.

Siapa penggiat kesejarahan di Malang yang tak mengenalnya? Sayang, beberapa hari sebelumnya, penulis mendengar kabar yang belum terkonfirmasi kalau Dwi Cahyono sudah pensiun – atau dipensiunkan – dari kegiatan mengajarnya di salah satu perguruan tinggi di Malang.

Dengan formasi yang sama ketika tampil di kedai milik Arif Ipong , Koopen Ijen – Anggar Gusti pada vokal, Redy pada dawai cempluk, David Andrea pada bass gitar, Oceb’Rock Percussion pada drum dan Wahyu pada gitar – malam itu Duo Etnicholic berkonser di halaman Omah Mantri, rumah dengan bangunan bertingkat yang oleh Mas Dwi dikatakan berarsitektur jengki.

Salam baik dan sehat selalu,
Yono Ndoyit, 21 Juli 2022.

*Yono Ndoyit, adalah : Penulis prapatan, penikmat seni budaya dan ruang sosial.

Artikel ini telah dibaca 37 kali

badge-check

Publisher

Komentar ditutup.

Baca Lainnya

Melukis Malang dalam Busana

21 April 2026 - 18:27 WIB

Refleksi Hari Kartini: Perempuan dan Pendidikan, Warisan Kartini di Era Modern

21 April 2026 - 15:29 WIB

Etika Politik yang Makin Tidak Elok

17 April 2026 - 15:54 WIB

Permisif terhadap Perubahan yang Merusak

23 Maret 2026 - 12:00 WIB

Alun-Alun Kepanjen, Ujian Administrasi Sekda, dan Pertanyaan Sunyi tentang Bank Jatim Sebagai Bank Persepsi

24 Februari 2026 - 17:01 WIB

Warkop Grajen Kepanjen, Tebarkan Kebahagiaan sembari Ngopi, dan Ngaji tentang Kehidupan

15 Februari 2026 - 20:58 WIB

Trending di OPINI

©Hak Cipta Dilindungi !